Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

276 Siswa SD sampai SMA di Batang Keracunan MBG, Begini Kata Korwil BGN Jateng

Kota Semarang
2 min read
276 Siswa SD sampai SMA di Batang Keracunan MBG, Begini Kata Korwil BGN Jateng
Lokasi dapur SPPG Bawang milik Yayasan Batang Sejahtera yang mendistribusikan MBG hari Rabu kemarin. (IDN Times/Dok BGN Korwil Jateng)
  • Sebanyak 276 siswa SD hingga SMA di Kecamatan Bawang, Batang, mengalami mual, muntah, dan pusing usai mengonsumsi MBG pada 23 September 2026.

  • BGN Jawa Tengah masih menunggu hasil laboratorium Dinkes, namun investigasi awal menemukan makanan diduga dimasak terlalu dini, dikonsumsi melewati batas waktu, serta SPPG kurang bersih.

  • BGN menelusuri kasus melalui kunjungan ke SPPG dan fasilitas kesehatan, sambil mendorong penguatan SOP, chef bersertifikat, serta pengawasan dan sidak rutin.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Batang, IDN Times - Badan Gizi Nasional (BGN) Korwil Jawa Tengah menyebutkan ratusan siswa SD sampai SMA wilayah Kecamatan Bawang Kabupaten Batang yang keracunan MBG disebabkan pengaruh makanan yang disajikan. 

Seperti diketahui, setidaknya ada 276 siswa tingkat SD, MTs, SMP dan SMA di Bawang yang mual-mual, muntah dan pusing setelah mengonsumsi MBG Rabu (23/9/2026). 

Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional Jawa Tengah Reza Mahendra mengatakan penyebab pasti kejadian di Bawang masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan. 

Namun, berdasarkan investigasi awal, ditemukan sejumlah persoalan dalam proses pengolahan dan penyajian makanan.

Di antaranya makanan yang dikonsumsi telah melewati batas waktu yang ditentukan karena dibawa pulang. 

Selain itu, makanan diduga diolah terlalu dini dan kondisi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ditemukan belum dalam kondisi bersih.

"Untuk penyebab apakah dari MBG, kami masih menunggu hasil laboratorium dari Dinkes. Namun, dari hasil investigasi ditemukan adanya makanan yang dikonsumsi melebihi batas waktu yang ditentukan karena dibawa pulang. Kemudian makanan dimasak atau diolah terlalu awal dan kondisi SPPG tidak dalam kondisi yang bersih," tuturnya kepada IDN Times, Kamis (24/9/2026). 

Pihaknya juga menemukan adanya dugaan pelanggaran SOP dalam proses pengolahan makanan, khususnya terkait waktu memasak dan penyajian.

"Makanan diolah terlalu dini sehingga makanan yang disajikan melewati batas waktu yang seharusnya, yaitu empat jam setelah matang," jelasnya.

Adapun investigasi dilakukan mendatangi langsung SPPG serta fasilitas kesehatan tempat korban mendapatkan perawatan. Ia juga berkoordinasi dengan satgas daerah, termasuk Pemerintah Kabupaten Batang.

"Investigasi dilakukan dengan kunjungan langsung ke SPPG, kemudian kunjungan ke rumah sakit terhadap korban terdampak. Kami juga berkoordinasi dengan Satgas daerah, termasuk dengan Bupati Batang," ujarnya.

Dirinya menegaskan penanganan kasus tidak hanya dilakukan dengan memberikan sanksi berupa penghentian sementara atau penutupan SPPG. Penguatan penerapan SOP menjadi salah satu langkah yang akan dilakukan.

Selain sosialisasi SOP, ia mendorong setiap SPPG memiliki chef bersertifikat serta memperkuat pengawasan melalui monitoring dan inspeksi mendadak.

"Sosialisasi SOP, kewajiban SPPG memiliki chef bersertifikat, serta pengawasan dan monitoring melalui sidak dari internal BGN dan Satgas menjadi penting agar pelaksanaan kegiatan di SPPG benar-benar dilakukan secara baik dan benar," kata Reza. 

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More