Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Keracunan MBG Pati Karena Dapur SPPG Kotor: 48 Siswa Masih Opname 4 RS

Kota Semarang
Keracunan MBG Pati Karena Dapur SPPG Kotor: 48 Siswa Masih Opname 4 RS
Tiga siswi diinfus setelah mengeluh mual-mual usai makan MBG. (IDN Times/Dok P2P Dinkes Jateng)
  • Sebanyak 259 siswa dari tiga sekolah di Pati mengalami gejala keracunan MBG; 48 masih dirawat inap di empat rumah sakit, sementara 138 menjalani rawat jalan.
  • Keluhan muncul sejak malam setelah siswa mengonsumsi menu nasi bakar ayam suwir dan lauk pendamping, meliputi pusing, mual, muntah, nyeri perut, hingga diare.
  • Dinkes menelusuri penyebab melalui pemeriksaan epidemiologi dan uji laboratorium sampel makanan; dugaan sementara mengarah pada dapur serta penjamah makanan SPPG yang kurang higienis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Empat rumah sakit wilayah Kabupaten Pati menerima puluhan siswa yang mengalami keracunan MBG. Per hari ini sudah ada 48 siswa dari MTsN 3 Pati, SMPN 1 Gembong dan MTsN Manabul Ulum yang terpaksa menjalani rawat inap di tiga rumah sakit tersebut. 

Berdasarkan pendataan Dinkes Jateng dan Dinkes Pati per jam 09.00 WIB diketahui jumlah siswa-siswi yang mengalami gejala keracunan MBG sebanyak 259 orang. 

Rinciannya untuk rawat inap sebanyak 48 orang yakni di RSUD Suwondo 23 orang, RS Mitra Bangsa 12 orang, RS KSH 12 orang, RS Fastabig Sehat ada seorang.

Kemudian ada juga 138 siswa memilih rawat jalan dengan rujukan ke RS Suwondo, RS Mitra Bangsa dan Puskesmas Gembong.

Kabid P2P Dinkes Jateng Heri Purnomo mengakui jumlah siswa di Pati yang diopname memang masih banyak karena rata-rata mengalami mual, diare dan muntah-muntah.

"Yang rawat inap 48 siswa itu terbagi dari MTs 3 Pati, SMP Gembong sama MTs Manbaul Ulum," ujarnya kepada IDN Times, Kamis (10/9/2026).

Berdasarkan hasil assesment lanjutan dengan mengonfirmasi kepada siswa penerima manfaat MBG, saat kejadian keracunan, mereka disuguhi menu berupa nasi bakar ayam suwir kemangi dengan lauk kerung tempe, telur ceplok, selada dan timun, semangka dan kerupuk udang.

Kronologi yang diutarakan Dinkes Pati disebutkan bahwa sebelum keracunan terjadi, di MTs Negeri 3 Pati, MBG sampai di sekolah sekitar pukul 11.50 dengan keterangan label pada stiker dikonsumsi sebelum pukul 12.00. 

"Makanan didistribusikan ke siswa sesaat setelah MBG datang dan langsung dikonsumsi. Sebagian besar siswa mengaku makanan dihabiskan. Mulai malam hari muncul keluhan seperti pusing, mual, muntah, nyeri perut, hingga diare," ungkapnya.

Pihaknya kini sedang menyelesaikan kegiatan pemeriksaan epidemolgi (PE) untuk mengusut penyebab keracunan yang dialami ratusan siswa di tiga sekolah Kabupaten Pati.

"Kalau ada keracunan, umumnya yang terjadi di SPPG karena dapurnya kurang higienis. Terus SOP-nya sering dilewati," jelasnya.

Mengenai apakah peralatan petugas penjamah makanan dalam kondisi kotor, pihaknya juga membenarkan. 

"Ya Yang pasti juru penjamah makanannya kurang steril. Alat-alatnya pasti jarang dibersihkan. Tetapi untuk memastikan penyebab gangguan pencernaan pada siswa di Pati, kami sedang menunggu hasil uji laboratorium di Semarang," urainya.

Untuk saat ini sejumlah sampel lauk dan nasi ayam sudah dibawa ke Labkesda Jateng di Jalan Majapahit Semarang.

Di sisi lain pihaknya juga sidak ke SPPG untuk memberikan edukasi biar lebih teliti lagi dalam pemberian MBG. Utamanya mengecek tanggal ED makanan dan mengecek ulang keadaan atau kondisi makanan atau minuman yang sudah dikemas.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More