Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Semarang Negatif Abu Vulkanik, Dinkes Imbau Warga Tetap Harus Waspada

Kota Semarang
Semarang Negatif Abu Vulkanik, Dinkes Imbau Warga Tetap Harus Waspada
ilustrasi abu vulkanik (pexels.com/Pixabay)
  • Dinkes Kota Semarang menyatakan paper test berdasarkan pemantauan BMKG menunjukkan tidak ada indikasi endapan abu vulkanik pada sampel yang diperiksa.
  • Hasil negatif tidak menjamin seluruh Semarang bebas abu vulkanik setiap saat; pemantauan berkala dilakukan karena sebaran dipengaruhi erupsi, angin, waktu, dan lokasi.
  • Warga diminta memakai masker saat berdebu, melindungi mata serta makanan dan air, membasahi abu sebelum dibersihkan, dan menghindari penyebaran informasi tak terverifikasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Semarang, IDN Times – Masyarakat Kota Semarang diminta tidak panik menyikapi informasi mengenai potensi sebaran abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang memastikan hasil pemeriksaan sementara menggunakan paper test menunjukkan negatif abu vulkanik.

  1. 1. Hasil pemeriksaan paper test negatif

    Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam. (IDN Times/bt/Anggun Puspitoningrum)
    Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam. (IDN Times/bt/Anggun Puspitoningrum)

    Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam mengatakan, pemeriksaan dilakukan berdasarkan hasil pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

    “Paper test yang dilakukan di wilayah Kota Semarang menunjukkan hasil negatif abu vulkanik. Artinya, pada saat pemeriksaan dan pada lokasi atau titik pengambilan sampel tersebut, tidak ditemukan indikasi endapan abu vulkanik pada sampel yang diperiksa,” ungkapnya, Selasa (8/9/2026).

    Meski hasil pemeriksaan negatif, Hakam mengingatkan masyarakat tidak mengartikannya sebagai jaminan bahwa seluruh wilayah Semarang akan terbebas dari abu vulkanik sepanjang waktu.

    Sebab, sebaran abu vulkanik dapat berubah mengikuti kondisi erupsi, arah dan kecepatan angin, serta waktu dan lokasi pengambilan sampel.

    “Perlu dipahami bahwa hasil negatif ini memiliki batasan. Hasil pemeriksaan tersebut tidak berarti bahwa seluruh wilayah Kota Semarang pasti bebas abu vulkanik sepanjang waktu,” katanya.

  2. 2. Pemantauan berkala tetap dilakukan

    Abu Vulkanik menempel di kendaraan (Foto: Istimewa)
    Abu Vulkanik menempel di kendaraan (Foto: Istimewa)

    Maka itu, pemantauan tetap dilakukan secara berkala untuk mengantisipasi perubahan kondisi. Kemudian, masyarakat diimbau tetap melakukan perlindungan diri apabila sewaktu-waktu terjadi paparan abu vulkanik.

    Untuk diketahui, abu vulkanik memiliki karakter berbeda dengan debu biasa. Partikelnya sangat halus dan jika terhirup dalam jumlah cukup banyak dapat memicu iritasi pada saluran pernapasan, mata, maupun kulit.

    Sejumlah keluhan yang mungkin muncul antara lain batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, mata perih, hingga sesak napas, terutama pada kelompok yang sensitif.

    Jika kondisi udara mulai berdebu atau ditemukan material yang diduga abu vulkanik, masyarakat dianjurkan mengenakan masker ketika berada di luar rumah dan mengurangi aktivitas di luar ruangan.

  3. 3. Kewaspadaan lebih perlu diberikan kepada kelompok rentan

    illustrasi seorang wanita memakai masker dan headphone di bandara (pexels.com/Anna Shvets)
    illustrasi seorang wanita memakai masker dan headphone di bandara (pexels.com/Anna Shvets)

    Masyarakat juga diminta melindungi mata, menutup makanan dan sumber air, serta tidak membersihkan abu dengan cara menyapu dalam kondisi kering.

    “Tidak menyapu abu secara kering. Basahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan,” imbau Hakam.

    Dinkes juga meminta masyarakat segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan jika mengalami sesak napas, batuk berat atau terus-menerus, nyeri dada, maupun iritasi mata berat.

    Kewaspadaan lebih perlu diberikan kepada kelompok rentan, terutama anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan. Pada sisi lain, masyarakat diminta tidak ikut memperkeruh situasi dengan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

    “Masyarakat juga kami imbau tidak menyebarkan foto, video, maupun informasi yang belum terverifikasi agar tidak menimbulkan kepanikan,” tandas Hakam.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More