Mengapa Pengendara Motor Sering Lupa Matikan Lampu Sen? Ini Penjelasannya

- Pengendara motor kerap lupa mematikan sein karena otak mengotomatisasi tindakan menyalakan, sementara fokus setelah berbelok cepat berpindah ke navigasi jalan.
- Multitasking, posisi indikator yang kecil, serta ketiadaan pengingat suara membuat kedipan sein mudah luput diproses pengendara.
- Beban kognitif akibat lalu lintas, stres, atau cuaca dapat mengabaikan tombol sein; kebiasaan menekan tombol setelah belok dan mengecek panel dianjurkan.
Semarang, IDN Times — Fenomena pengendara motor yang lupa mematikan lampu sen setelah belok—atau bahkan menyalakan sen kiri tapi belok ke kanan—sudah menjadi pemandangan sehari-hari di jalan raya. Selain membingungkan pengguna jalan lain, kebiasaan ini juga sangat membahayakan keselamatan lalu lintas karena berpotensi memicu kecelakaan.
Namun, alih-alih sekadar kelalaian disengaja, fenomena ini ternyata bisa dijelaskan melalui pendekatan ilmu psikologi dan mekanisme kerja otak manusia.
Berikut alasan psikologis mengapa banyak pemotor kerap lupa mematikan lampu indikator sein kendaraan mereka:
1. Habit Loop dan Otomatisasi Gerakan Otak

ilustrasi lampu riting sepeda motor yang menyala (unsplash.com/Subhash Nusetti) Otak manusia memiliki mekanisme untuk menghemat energi dengan cara mengubah perilaku berulang menjadi kebiasaan otomatis (habit loop). Ketika seseorang belajar naik motor, menyalakan lampu sen saat akan berbelok melatih otak untuk membentuk respon motorik otomatis.
Namun, tindakan mematikan lampu sen sering kali tidak tertanam sekuat tindakan menyalakan. Setelah proses berbelok selesai dan posisi jalan kembali lurus, fokus otak pengendara langsung berpindah ke navigasi depan, sehingga perintah untuk menekan tombol sen terabaikan dari memori jangka pendek.
2. Inattentional Blindness (Kebutaan Akibat Ketidakperhatian)

ilustrasi lampu sein motor (unsplash.com/Kundan Bana) Pengendara motor dituntut untuk membagi fokus secara bersamaan (multitasking): memperhatikan kendaraan lain, menghindari jalan berlubang, menjaga kecepatan, hingga memantau spion.
Kondisi ini dapat memicu inattentional blindness, yaitu fenomena psikologis di mana otak gagal memproses informasi visual yang sebenarnya ada di depan mata. Posisi lampu indikator sen di panel dashboard motor yang kecil dan berada di bawah garis pandang utama membuat pengendara tidak "melihat" kedipan lampu indikator tersebut, meskipun fisiknya aktif.
3. Tidak Adanya Auditory Feedback (Umpan Balik Suara)

Ilustrasi lampu sein motor (wahanahonda.com) Berbeda dengan mobil yang mengeluarkan bunyi cetuk-cetuk nyaring saat lampu sen menyala, mayoritas sepeda motor modern tidak dilengkapi sistem umpan balik suara (auditory feedback).
Dalam ilmu psikologi persepsi, kurangnya rangsangan sensorik berupa suara membuat pengendara tidak mendapatkan pengingat berkala (continuous cue). Tanpa adanya pengingat suara atau getaran, otak berasumsi bahwa tugas berbelok telah selesai sepenuhnya.
4. Beban Kognitif Berlebih (Cognitive Overload)

ilustrasi lampu sein pada kendaraan (pexels.com/Trip Raptor) Saat berkendara di lalu lintas padat, cuaca panas, atau ketika pengendara sedang memikirkan urusan pribadi (stres), beban kognitif otak akan meningkat drastis. Ketika kapasitas memori kerja (working memory) penuh, otak akan secara otomatis mengeliminasi detail-detail kecil yang dianggap tidak mendesak untuk keselamatan diri saat itu—salah satunya menekan tombol mati pada lampu sen.
Cara Mengatasi Kebiasaan Lupa Matikan Sen
Bentuk Micro-Habit Baru: Latih diri untuk selalu menekan tombol tengah sein setiap kali stang motor selesai diluruskan pasca-berbelok.
Rutin Cek Panel Instrument: Biasakan melakukan scanning visual cepat ke arah dashboard setiap beberapa ratus meter.
Pahami Risiko: Kesadaran akan bahaya sen yang menyala terus-menerus dapat membantu memicu ingatan bawah sadar agar lebih waspada.






















