Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Di Balik Sein Kiri Belok Kanan, Beban Pikiran Emak-emak yang Bikin Gagal fokus di Jalan

Kota Surakarta
Di Balik Sein Kiri Belok Kanan, Beban Pikiran Emak-emak yang Bikin Gagal fokus di Jalan
ilustrasi lampu sein (Carmudi.co.id)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Fenomena sein kiri tetapi belok kanan pada pengendara perempuan kerap memicu kebingungan, namun artikel menyoroti perhatian yang terpecah akibat beban pikiran domestik.
  • Urusan rumah tangga, seperti menu, uang belanja, dan cucian, dapat membuat pengendara berada dalam kondisi autopilot sehingga sinyal dan arah belok tidak selaras.
  • Tekanan mengurus anak serta minimnya edukasi safety riding, termasuk kebiasaan memeriksa spion dan panel instrumen, disebut turut menurunkan kewaspadaan saat berkendara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Di Balik Sein Kiri Belok Kanan: Beban Pikiran Emak-emak yang Bikin Gagal Fokus di Jalan

Surakarta, IDN Times — Fenomena lampu sein kiri tapi belok kanan sudah menjadi lelucon klasik di tengah masyarakat Indonesia. Julukan "penguasa jalanan" pun melekat erat pada emak-emak saat mengendarai sepeda motor. Banyak pengendara lain yang merasa jengkel atau kebingungan saat berhadapan dengan situasi ini di jalan raya.

Namun, jika ditelisik lebih dalam, aksi yang terkesan konyol dan membahayakan tersebut bukan selalu bentuk kesengajaan atau kelalaian semata. Ada kondisi psikologis dan tumpukan beban pikiran luar biasa yang sering kali membuat perhatian emak-emak terpecah saat berada di atas roda dua.

Berikut 3 faktor utama di balik fenomena 'sein kiri belok kanan' emak-emak yang bikin gagal fokus di jalan ala IDN Times. Yuk, coba pahami dari sudut pandang lain, Lur!

1. Beban Pikiran Domestik dan Daftar Belanja yang Memenuhi Kepala

ilustrasi daftar belanja
ilustrasi daftar belanja (unsplash.com/Torbjørn Helgesen)

Saat berkendara, pikiran seorang ibu rumah tangga jarang sekali benar-benar senggang hanya untuk fokus memperhatikan navigasi jalan.

Di balik kemudi, kepala emak-emak sering kali dipenuhi daftar urusan rumah tangga yang menumpuk. Mulai dari memikirkan menu masakan hari ini, uang belanja yang makin menipis, hingga cucian yang belum dijemur.

Beban mental (mental load) yang berat ini memicu kondisi auto-pilot secara tidak sadar. Tangan menekan tombol lampu sein kiri, namun respon otak yang sedang melamunkan urusan lain justru mengarahkan setang ke kanan.

2. Tekanan Mengurus Anak dan Target Waktu yang Bikin Panik

Ilustrasi boncengan 3 (Unsplash.com/Patrick McGregor)
Ilustrasi boncengan 3 (Unsplash.com/Patrick McGregor)

Banyak emak-emak yang berkendara dalam kondisi terburu-buru demi memenuhi tanggung jawab keluarga.

Mengantar anak sekolah tepat waktu, menjemput Les, atau mengejar jam buka pasar adalah rutinitas harian yang penuh tekanan.

Rasa cemas akan terlambat membuat tingkat stres meningkat. Dalam kondisi panik dan tergesa-gesa, persepsi ruang serta kewaspadaan terhadap sinyal kendaraan (sein) bisa menurun drastis.

3. Kurangnya Edukasi Safety Riding dan Kebiasaan Motorik

Ilustrasi Safety Riding (Dok. IDN Times)
Ilustrasi Safety Riding (Dok. IDN Times)

Faktor teknis dan minimnya pemahaman berkendara yang aman turut memperparah kebiasaan ini.

Banyak emak-emak yang kurang terbiasa mengecek panel instrumen di dashboard atau melihat kaca spion sebelum berbelok. Lampu sein yang sudah menyala sejak beberapa kilometer lalu sering kali tidak disadari karena tidak ada bunyi peringatan.

Sebagian besar emak-emak belajar naik motor secara otodidak tanpa melalui pelatihan berkendara (safety riding) yang resmi, sehingga kebiasaan instingtif yang salah terbawa hingga ke jalan raya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More