Pemuda Wuluh Nampu Pertahankan Tari Tradisional di Tengah Globalisasi

- Pemuda Sanggar Langen Mudha Santosa di Dusun Wuluh Nampu melestarikan tari tradisional lewat dokumentasi, pengarsipan, dan konten audio-visual yang disebarkan melalui media sosial.
- Sanggar mengembangkan Tari Soreng dan Tari Sekarlele sebagai pertunjukan kolosal yang mengangkat ketangguhan masyarakat pegunungan, kisah Arya Penangsang, serta perjuangan laskar Pangeran Diponegoro.
- Kesenian Wuluh Nampu tampil dalam Karnaval HUT RI ke-80 dan Hari Jadi Kendal ke-420, dengan BEM FH Undip mendukung promosi budaya melalui media sosial dan kanal berita.
Kendal, IDN Times - Kekayaan budaya Nusantara sejatinya berakar dan hidup di pelosok desa, fakta tersebut tercermin di Dusun Wuluh Nampu, Desa Peron, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Wilayah ini menyimpan potensi kebudayaan lokal autentik melalui kesenian tari tradisionalnya yang penuh akan makna filosofis mengenai gotong royong dan keselarasan hidup masyarakatnya. Alih-alih kesenian tari tradisional yang potensial, eksistensi warisan leluhur tersebut kini menghadapi tantangan dari fenomena arus globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi informasi yang dengan mudah membawa budaya asing.
1. Pendekatan inovatif dengan digitalisasi budaya

Ilustrasi digital (pixabay.com/Pexels) Pada kondisi ancaman dari hadirnya arus globalisasi, langkah konkret ditunjukkan oleh kelompok pemuda penggerak “Sanggar Langen Mudha Santosa” di Dusun Wuluh Nampu. Menyadari kekhawatiran akan tersainginya tradisi khas mereka, para pemuda ini melakukan pendekatan inovatif dengan memanfaatkan produk dari globalisasi itu sendiri, yakni teknologi dan digitalisasi budaya.
Tidak hanya sebatas pada menggelar latihan tari, mereka secara proaktif mendokumentasikan, mengarsipkan sejarah, serta mengemas pementasan seni ke dalam bentuk konten audio-visual kreatif untuk didistribusikan secara masif melalui berbagai platform media sosial dan ruang digital.
Tari Soreng menjadi salah satu potensi kebudayaan yang dilestarikan oleh Masyarakat Dusun Wuluh Nampu hingga saat ini. Tarian khas yang lahir dari kreativitas para seniman tari di kawasan Kabupaten Magelang, lereng Gunung Merbabu, dan Gunung Andong, kesenian ini mulai merambah masuk ke Dusun Wuluh Nampu sekitar tahun 1980-an. Berasal dari namanya, yaitu “suro” dan “ing”, tarian ini menggambarkan sosok prajurit yang selalu menang dimanapun ia berada.
Ketua Kesenian Dusun Wuluh Nampu, Parno, menuturkan bahwa “Tarian yang lahir di wilayah pegunungan dan pelosok desa, membuat gerakan Tari Soreng didominasi oleh tumpuan kaki yang kokoh dan kuat.” Gerakan ini menjadi penggambaran kekuatan fisik masyarakat gunung yang terbiasa bekerja keras dari pagi hingga sore, naik-turun lereng memikul hasil pertanian, ladang, dan kebun.
2. Perpaduan narasi heroisme Arya Penangsang dan Pangeran Diponegoro

Lukisan Pangeran Diponegoro Muda (Dok. Pribadi Adam Dzulfikar) Di tangan para pemuda Sanggar Langen Mudha Santosa, tarian yang umumnya dimainkan minimal oleh 10 orang ini dikembangkan secara kolosal hingga melibatkan 16 penari. Mereka memainkan berbagai peran sentral, mulai dari Wiropati, Adipati Arya Penangsang, pelatih patih rongga meraung, hingga barisan prajurit. Dengan bersenjatakan pedang dan tameng, koreografi ini menampilkan teknik gerakan dengan hentakan kaki yang gagah, tangguh, dan penuh dengan emosi.
Melengkapi kekayaan sejarah tersebut, Sanggar Langen Mudha Santosa turut melestarikan Tari Sekarlele yang mengisahkan gladi perang laskar Pangeran Diponegoro melawan Belanda. Tarian ini dibawakan 13 orang, terdiri atas 8 penari bertombak, 4 berpedang, dan 1 komandan. Keunikan visualnya sangat terlihat melalui kostum yang memadukan pakaian adat Jawa dengan sentuhan seragam militer prajurit Kerajaan Turki, lengkap dengan selempang khas.
Kehadiran kedua tarian ini menciptakan daya tarik yang utamanya terletak pada perpaduan narasi heroisme (Arya Penangsang dan Pangeran Diponegoro), koreografi khas ketangguhan masyarakat pegunungan, serta akulturasi visual busana Jawa-Turki yang jarang ditemui. Menjadikan tarian tersebut sebagai bentuk edukasi sejarah sekaligus pariwisata budaya yang bernilai tinggi.
3. Komitmen Undip membantu pelestarian kebudayaan Dusun Wuluh Nampu

Gedung rektorat kampus Undip Tembalang Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto) Dedikasi pelestarian oleh para pemuda ini pun telah membuahkan berbagai apresiasi publik. Kesenian Wuluh Nampu sukses dipentaskan pada ajang bergengsi daerah, seperti Karnaval HUT RI ke-80 yang diselenggarakan oleh Dinas Kesenian dan Kebudayaan Kendal, serta Hari Jadi Kabupaten Kendal ke-420. Momentum ini membuktikan bahwa inovasi dan aksi nyata anak muda telah membawa warisan budayanya keluar dari pelosok desa dan diperkenalkan untuk menjadi kebanggaan daerah di tengah kencangnya arus globalisasi.
Melalui berbagai tantangan besar yang hadir dari pesatnya perkembangan kehidupan modern dan jawaban yang dihadirkan oleh sekelompok pemuda yang berada di Dusun Wuluh Nampu, menegaskan betapa pentingnya peran aktif generasi muda sebagai agen pelestari budaya. Pemuda diharapkan mampu menjadi bagian dari solusi yang memerlukan kolaborasi kuat untuk bersama-sama mengangkat kembali eksistensi budaya daerah.
Menjawab urgensi kolaborasi tersebut, serta sebagai bentuk komitmen dan wujud nyata dalam membantu pelestarian kebudayaan Dusun Wuluh Nampu, Bidang Pengabdian Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (DIMAS BEM FH Undip) turut hadir untuk mengambil peran. Sinergi ini diwujudkan dengan melakukan berbagai upaya pengenalan dan promosi kebudayaan yang sejalan dengan inisiatif digitalisasi pemuda setempat, yakni melalui publikasi pada media sosial dan kanal berita. Melalui rangkaian upaya tersebut, diharapkan kebudayaan yang terdapat di Dusun Wuluh Nampu dapat dikenal secara lebih luas, sehingga mampu memberikan kebermanfaatan nyata bagi kebudayaan daerah yang perlu dilestarikan ataupun bagi masyarakatnya itu sendiri.





















