2 Peserta Tunarungu asal Semarang Siap Tampil di MTQ Nasional 2026

- Dua peserta tunarungu wicara dari Semarang masuk dalam 16 kafilah yang mewakili Jawa Tengah di MTQ Nasional XXXI 2026, yang membuka cabang ekshibisi disabilitas.
- Wali Kota Agustina Wilujeng tidak menetapkan target medali, melainkan mendorong peserta tampil percaya diri, mengandalkan keunikan, dan memperoleh pengalaman berharga selama kompetisi.
- Kafilah telah menjalani seleksi serta pembinaan; MTQ Nasional berlangsung di Semarang pada 11–19 September 2026, dengan persiapan karantina bagi peserta tilawah.
Semarang, IDN Times – Dua peserta penyandang difabel tunarungu wicara asal Kota Semarang siap tampil dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI 2026. Kedua difabel merupakan bagian dari 16 kafilah asal Kota Semarang yang terpilih untuk membela Jawa Tengah dalam ajang tingkat nasional tersebut.
1. Hadirkan cabang ekshibisi bagi penyandang disabilitas

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng memberikan pembekalan kepada 16 kafilah yang akan tampil mewakili Jateng di Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI 2026. (dok. Pemkot Semarang) Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mengatakan, keterlibatan peserta tunarungu wicara menjadi salah satu catatan khusus dalam MTQ Nasional XXXI. Ajang tahun ini juga menghadirkan cabang ekshibisi bagi penyandang disabilitas tunarungu wicara.
Kendati demikian, ia menegaskan, keikutsertaan para kafilah tidak semata-mata soal mengejar gelar juara. Ia justru memilih tidak membebani peserta dengan target perolehan medali.
“Apakah saya memberi target harus juara? Tidak. Sebagai seorang ibu dan guru, saya melihat hal paling utama dalam kompetisi adalah pengalaman batin,” ujarnya saat memberikan pembekalan kepada 16 kafilah tersebut di Lobby Kantor Wali Kota Semarang, Jumat (11/9/2026).
Agustina meminta para peserta tampil dengan percaya diri dan mengandalkan keunikan masing-masing ketika menghadapi peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Menurutnya, keyakinan terhadap kemampuan diri menjadi modal penting agar peserta tidak terbebani tekanan kompetisi.
2. Berharap peserta dapatkan pengalaman berharga

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng memberikan pembekalan kepada 16 kafilah yang akan tampil mewakili Jateng di Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI 2026. (dok. Pemkot Semarang) “Kita harus yakin dan percaya diri bahwa saya memiliki uniqueness, saya memiliki diferensiasi. Saya bisa tampil jauh lebih baik,” katanya.
Ia berharap mental tersebut membuat para kafilah mampu bertanding secara lebih lepas sekaligus mendapatkan pengalaman berharga dari MTQ Nasional.
Sementara, keikutsertaan 16 peserta asal Semarang sendiri merupakan hasil proses seleksi dan pembinaan. Mereka berasal dari sejumlah cabang yang dipertandingkan dalam MTQ Nasional XXXI.
Salah satu peserta cabang Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ), Aulia Ais mengatakan, persiapan telah dijalani sejak Januari 2026.
Alumni UIN Walisongo Semarang itu akan membawa karya ilmiah dengan tema pelestarian lingkungan dan kerukunan umat beragama.
“Saya menjalani seleksi dan latihan sejak Januari. Kuncinya yang pertama adalah konsisten. Yang kedua tidak sombong atau tidak jemawa,” ujarnya.
3. Peserta jalani karantina

Ilustrasi MTQ Nasional. (dok. Pemkot Semarang) Sementara itu, peserta cabang Tilawah asal Mijen, Umar Izul Haq, menjalani karantina dan pemantapan bacaan sejak 20 Agustus 2026.
Selama karantina, peserta menjalani pola latihan selama empat hari kemudian mendapat libur dua hari. Mereka juga tidak diperbolehkan pulang agar kondisi dan kualitas bacaan tetap terjaga hingga pertandingan.
“Untuk karantina mulai dari 20 Agustus kemarin. Jadi, empat hari karantina terus dua harinya itu libur. Kemudian, kami juga enggak boleh pulang agar bacaan kami tetap stabil hingga hari perlombaan tiba,” katanya.
Untuk diketahui, MTQ Nasional XXXI berlangsung di Kota Semarang pada 11–19 September 2026. Sebagai tuan rumah, Pemkot Semarang tidak hanya menyiapkan fasilitas penyelenggaraan, tetapi juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam menyambut kontingen dari seluruh Indonesia.
‘’Status tuan rumah ini menjadi tanggung jawab bersama warga Semarang. Selain memastikan kenyamanan kafilah, perhelatan tersebut dinilai berpotensi menggerakkan sektor ekonomi lokal, mulai dari perhotelan, kuliner, UMKM oleh-oleh hingga transportasi,’’ katanya.
Warga juga diajak mengenalkan sejumlah destinasi kepada para tamu, seperti Kota Lama, Pasar Johar, Kauman, Jalan Pemuda, dan Lawang Sewu.


















