Kabut Asap TPA Jatibarang, Ini yang Perlu Diwaspadai Warga Semarang

Dinkes Semarang mengingatkan kabut asap kebakaran TPA Jatibarang berpotensi mengandung PM2.5 yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan, sehingga paparan perlu diminimalkan.
Warga terdampak dianjurkan mengurangi aktivitas luar ruangan, menutup pintu-jendela, memakai mode resirkulasi AC, serta menggunakan respirator N95 bila harus berada di luar.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis perlu mendapat perhatian khusus; segera ke fasilitas kesehatan bila mengalami sesak berat, nyeri dada, penurunan kesadaran, atau kondisi memburuk.
1. Minimalkan dampak asap terhadap kesehatan masyarakat

Asap dari kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang Semarang mulai meluas hingga sejumlah permukiman di wilayah barat Kota Semarang, Kamis (1/10/2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam mengatakan, prioritas utama saat ini adalah mempercepat pengendalian dan pemadaman kebakaran di sumbernya sekaligus meminimalkan dampak asap terhadap kesehatan masyarakat.
“Prioritas utama saat ini adalah mengendalikan dan memadamkan kebakaran secepat mungkin pada sumbernya, sekaligus melindungi masyarakat agar paparan asap dan potensi dampaknya terhadap kesehatan dapat diminimalkan,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Kamis (1/10/2026).
Menurut dia, asap kebakaran sampah merupakan campuran berbagai partikel dan gas hasil pembakaran. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah PM2.5, yakni partikulat berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan.
Sebab, terang Hakam, material yang terbakar di TPA dapat beragam. Maka itu, pihaknya meminta masyarakat menerapkan prinsip kehati-hatian sembari pemerintah melakukan pemantauan kondisi lingkungan dan kualitas udara.
‘’Langkah utama yang dapat dilakukan masyarakat adalah mengurangi paparan asap sebanyak mungkin. Warga yang berada di wilayah terdampak asap dianjurkan sementara mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama aktivitas fisik berat,’’ katanya.
2. Gunakan respirator partikulat bagi yang beraktivitas di luar

ilustrasi menggunakan masker respirator (cority.com) Jika asap cukup terasa di lingkungan rumah, masyarakat dapat menutup pintu dan jendela agar udara dari luar tidak banyak masuk selama kondisi memungkinkan.
Bagi rumah yang menggunakan pendingin udara, masyarakat dapat mengaktifkan mode resirkulasi apabila fitur tersebut tersedia.
Sementara, bagi warga yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan saat kondisi berasap, Hakam menyarankan penggunaan respirator partikulat seperti N95 atau yang setara dan terpasang dengan baik.
Namun, respirator partikulat tidak memberikan perlindungan terhadap seluruh jenis gas yang mungkin terdapat dalam asap.
“Karena itu, mengurangi waktu dan intensitas paparan tetap merupakan langkah perlindungan yang utama,” ujarnya.
3. Kelompok rentan lebih diperhatikan

Seorang lansia mengikuti cek kesehatan gratis pada layanan Speling Melesat di CFD Jalan Menteri Supeno Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto) Dinkes Semarang juga meminta perhatian lebih diberikan kepada kelompok yang berpotensi lebih rentan terhadap paparan asap. Kelompok tersebut mencakup anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan asma, penyakit paru, penyakit jantung, atau penyakit kronis lainnya.
Hakam juga meminta informasi mengenai kondisi asap dan langkah perlindungan kesehatan menjangkau sekolah, tempat penitipan anak, fasilitas lansia, fasilitas pelayanan kesehatan, pekerja lapangan, serta warga yang tinggal paling dekat dengan wilayah terdampak.
Selanjutnya, masyarakat diminta memperhatikan perubahan kondisi tubuh selama kabut asap masih terjadi. Beberapa keluhan yang dapat muncul akibat paparan asap antara lain mata dan tenggorokan terasa perih, batuk, sakit kepala, mengi, hingga sesak napas.
4. Cari pertolongan ke fasilitas pelayanan kesehatan

Ilustrasi warga datangi faskes lakukan vaksinasi. IDN Times/ Riyanto. Jika muncul sesak napas berat, nyeri dada, penurunan kesadaran, atau kondisi kesehatan memburuk, masyarakat diminta segera mencari pertolongan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
“Masyarakat tidak perlu panik, tetapi perlu meningkatkan kewaspadaan,” kata Hakam.
Menurut dia, penanganan kebakaran TPA Jatibarang harus berjalan bersamaan dengan pemantauan kondisi lingkungan dan kualitas udara, kesiapsiagaan layanan kesehatan, serta komunikasi publik.
“Tujuan kita bukan hanya memadamkan api, tetapi juga memastikan bahwa selama proses penanganan berlangsung, risiko kesehatan masyarakat dapat ditekan semaksimal mungkin melalui tindakan yang cepat, terkoordinasi, berbasis data, dan disertai komunikasi publik yang jelas,” tandas Hakam.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)

















