Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sinden Perempuan Jadi Fokus Riset FISIP Undip dan Nottingham Malaysia

Kota Semarang
Sinden Perempuan Jadi Fokus Riset FISIP Undip dan Nottingham Malaysia
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) bersama akademisi University of Nottingham Malaysia meneliti sinden perempuan di panggung seni tradisional melalui riset bertajuk The Social Arena Landscape of Indonesian Women Traditional Singer Performativity. (dok. FISIP Undip)
  • FISIP Undip dan University of Nottingham Malaysia meneliti sinden perempuan sebagai subjek beragensi, menyoroti pengalaman, identitas, suara, serta posisi mereka dalam ruang sosial-budaya.
  • Tim mengobservasi pertunjukan wayang di Semarang dan menggali pengalaman delapan sinden di Semarang serta enam di Yogyakarta, untuk melihat negosiasi profesi, gender, norma, dan relasi sosial.
  • Riset PPIB FISIP Undip 2026 di Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta menargetkan publikasi Scopus, membawa kajian sinden ke diskursus internasional tentang budaya, media, gender, dan kuasa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Semarang, IDN Times - Sinden selama ini lekat dengan suara merdu yang mengiringi pertunjukan wayang dan seni tradisional Jawa. Namun, di balik panggung, perempuan yang menjalani profesi tersebut berhadapan dengan persoalan yang jauh lebih kompleks seperti norma budaya, relasi sosial, ekspektasi terhadap tubuh dan suara perempuan, hingga bagaimana mereka menentukan posisi sendiri di tengah ruang seni tradisional.

  1. 1. Menempatkan sinden sebagai subjek

    sinden, riset, fisip undip
    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) bersama akademisi University of Nottingham Malaysia meneliti sinden perempuan di panggung seni tradisional melalui riset bertajuk The Social Arena Landscape of Indonesian Women Traditional Singer Performativity. (dok. FISIP Undip)

    Persoalan itulah yang kini menjadi perhatian peneliti Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) bersama akademisi University of Nottingham Malaysia melalui riset bertajuk The Social Arena Landscape of Indonesian Women Traditional Singer Performativity.

    Riset tersebut tidak menempatkan sinden sekadar sebagai bagian dari pertunjukan, melainkan sebagai subjek yang memiliki pengalaman, suara, identitas, dan agensi dalam arena sosial serta budaya tempat mereka berkesenian.

    Penelitian ini diketuai Dr. Hapsari Dwiningtyas Sulistyani, S.Sos., M.A., M.Si., dari Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Undip dan melibatkan Dr. Dag Yngvesson, Assistant Professor dari School of Humanities, University of Nottingham Malaysia.

  2. 2. Menelisik posisi perempuan di balik panggung

    Ilustrasi Sinden (pexels.com/Agoeng Adry Irawan)
    Ilustrasi Sinden (pexels.com/Agoeng Adry Irawan)

    Hapsari mengatakan, penelitian tersebut berupaya melihat bagaimana perempuan yang berprofesi sebagai sinden menempati sekaligus menegosiasikan posisi mereka dalam ruang sosial dan budaya seni pertunjukan tradisional.

    “Penelitian ini berupaya melihat sinden bukan hanya sebagai bagian dari pertunjukan, tetapi sebagai subjek yang memiliki pengalaman, suara, dan agensi dalam ruang sosial dan budaya tempat mereka berada,” ujarnya, Selasa (1/9/2026).

    Untuk mendapatkan gambaran tersebut, tim peneliti tidak hanya mengandalkan kajian teoritis. Mereka mengamati secara langsung praktik pertunjukan wayang di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang, bersama dalang Ki Sigid Ariyanto.

    Observasi tersebut dilakukan untuk melihat bagaimana sinden hadir, berinteraksi, dan menempati ruang dalam sebuah pertunjukan wayang.

    Tim kemudian menggali pengalaman delapan sinden di Semarang dengan latar belakang berbeda. Penelitian juga dilakukan di Yogyakarta dengan melibatkan enam sinden.

    Keragaman informan tersebut menjadi penting karena pengalaman perempuan dalam dunia sinden tidak dapat dipukul rata. Di dalamnya terdapat perjumpaan antara profesi seni, identitas perempuan, norma budaya, relasi sosial, serta perubahan praktik kesenian tradisional.

  3. 3. Bukan sekadar soal melestarikan budaya

    Ilustrasi sinden (IDN Times/Daruwaskita)
    Ilustrasi sinden (IDN Times/Daruwaskita)

    Alih-alih hanya melihat sinden dari perspektif pelestarian budaya, penelitian ini menempatkan praktik tersebut dalam persoalan yang lebih luas, yakni gender, performativitas, media, relasi kuasa, dan perubahan sosial.

    Dr. Dag Yngvesson menilai ruang budaya tidak pernah sepenuhnya terpisah dari persoalan gender dan relasi kuasa.

    “Penelitian mengenai perempuan dalam praktik budaya tradisional penting dilakukan karena ruang budaya tidak pernah terlepas dari persoalan gender dan relasi kuasa. Melalui pengalaman para sinden, kita dapat melihat bagaimana perempuan menjalankan peran sekaligus menegosiasikan posisi mereka dalam ruang sosial dan budaya,” jelasnya.

    Yngvesson memiliki latar belakang Cultural Studies dan Moving Image Studies serta pengalaman lebih dari 15 tahun sebagai filmmaker. Bidang kajiannya antara lain sinema Asia Tenggara, media, gender, kajian pascakolonial, etnografi, antropologi visual, serta hubungan antara sinema dan seni pertunjukan.

    Menurutnya, sinden menjadi subjek menarik karena berada pada titik temu antara seni pertunjukan, budaya, gender, dan kehidupan sosial.

    “Keterlibatan dalam penelitian ini memberikan kesempatan untuk melihat praktik seni pertunjukan Indonesia melalui perspektif komparatif dan lintas disiplin. Sinden merupakan subjek yang menarik untuk dikaji karena mereka berada pada pertemuan antara seni pertunjukan, budaya, gender, dan kehidupan sosial,” katanya.

  4. 4. Dari panggung lokal ke jurnal internasional

    sinden, riset, fisip undip
    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) bersama akademisi University of Nottingham Malaysia meneliti sinden perempuan di panggung seni tradisional melalui riset bertajuk The Social Arena Landscape of Indonesian Women Traditional Singer Performativity. (dok. FISIP Undip)

    Penelitian yang dilaksanakan di Semarang, Surakarta, dan Yogyakarta pada 21-22 Agustus 2026 tersebut merupakan bagian dari skema Penelitian Publikasi Internasional Bereputasi (PPIB) FISIP Undip 2026.

    Kerja sama dengan akademisi University of Nottingham Malaysia menjadi bagian dari upaya membawa praktik budaya lokal ke dalam diskursus akademik yang lebih luas.

    Dekan FISIP Undip, Prof. Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin. mengatakan, riset mengenai sinden memiliki potensi untuk mempertemukan kajian komunikasi, budaya, gender, dan seni pertunjukan dalam perspektif internasional.

    “Penelitian yang mengangkat praktik budaya lokal seperti sinden menunjukkan bahwa kekayaan budaya Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi pengetahuan yang memiliki relevansi global,” ujarnya.

    FISIP Undip menargetkan penelitian dalam skema PPIB 2026 menghasilkan artikel pada jurnal internasional terindeks Scopus dan atau artikel prosiding internasional terindeks Scopus.

    Dengan demikian, yang hendak dibawa ke forum akademik internasional bukan sekadar cerita tentang keberadaan sinden dalam kesenian Jawa. Pengalaman mereka menjadi pintu masuk untuk membaca bagaimana perempuan membangun identitas, menjalankan peran, menghadapi norma, serta menegosiasikan ruang dan kuasa dalam praktik budaya yang terus berubah.

    Bagi penelitian ini, suara sinden bukan hanya suara pengiring pertunjukan. Ia juga menjadi pintu untuk memahami posisi perempuan dalam masyarakat dan budaya Indonesia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More