Semarang, IDN Times - Upaya memperkenalkan tugas dan peran Pemasyarakatan kepada masyarakat terus dilakukan melalui berbagai pendekatan kreatif dan komunikatif.
Aktor Erick Estrada Garap Film Pertaubatan Napiter di Lapas Kedungpane Semarang

- Aktor sekaligus komedian Erick Estrada akan terlibat dalam pembuatan film pendek bertema Pemasyarakatan yang didukung Lapas Kelas I Semarang.
- Film mengisahkan warga binaan eks peracik bom yang menjalani pembinaan, mengembangkan keterampilan memasak dan wirausaha, lalu dikenal sebagai peracik “Bakso Or Mie Ayam”.
- Kolaborasi ini bertujuan memperkenalkan proses pembinaan, perubahan perilaku, kemandirian, dan persiapan reintegrasi sosial warga binaan kepada masyarakat, terutama generasi muda.
Salah satunya diwujudkan rencana pembuatan short film bertema Pemasyarakatan yang melibatkan aktor sekaligus komedian Erick Estrada.
Kegiatan tersebut turut mendapat dukungan dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang.
Film tersebut membawa pesan tentang kesempatan untuk berubah dan kembali menjadi bagian dari masyarakat serta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Cerita menggambarkan perjalanan seorang warga binaan yang sebelumnya terlibat dalam peracikan bom, kemudian menjalani proses pembinaan hingga mampu menemukan kembali potensi dirinya melalui keterampilan memasak dan berwirausaha.
Jika sebelumnya ia dikenal sebagai peracik bom, dalam perjalanan pembinaannya ia justru menjadi “peracik BOM” — Bakso Or Mie Ayam. Narasi tersebut dikemas dengan pendekatan yang ringan dan humanis, tanpa menghilangkan pesan utama mengenai pentingnya pembinaan, perubahan perilaku, serta reintegrasi sosial.
“Kami sangat mendukung rencana pembuatan film ini karena menjadi salah satu cara kreatif untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa Pemasyarakatan adalah proses panjang untuk membentuk seseorang menjadi lebih baik. Di dalamnya ada pembinaan, pendampingan, pengembangan keterampilan, hingga persiapan untuk kembali ke tengah masyarakat,” ujar Ahmad Tohari.
Melalui kolaborasi tersebut, Lapas Kelas I Semarang berupaya menghadirkan gambaran Pemasyarakatan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Kehadiran Erick Estrada diharapkan mampu menyampaikan pesan tentang Pemasyarakatan terasa lebih ringan, menarik, dan mudah diterima generasi muda.
Kisah perubahan tersebut juga menegaskan bahwa setiap warga binaan memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Bakat memasak dan kemampuan berwirausaha yang dikembangkan menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian sekaligus bekal ketika nantinya kembali ke lingkungan masyarakat.
“Harapan kami, film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pemahaman bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah. Kami ingin masyarakat melihat bahwa proses pembinaan yang dilakukan di Pemasyarakatan bertujuan mempersiapkan warga binaan agar mampu kembali ke masyarakat dengan keterampilan, sikap, dan kehidupan yang lebih baik,” pungkas Ahmad Tohari.























