Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Deteksi HIV dan Gangguan Jiwa, 780 Napi Lapas Kedungpane Cek Kesehatan

Deteksi HIV dan Gangguan Jiwa, 780 Napi Lapas Kedungpane Cek Kesehatan
Para petugas lapas mendata terpidana yang menjalani skrining kesehatan. (IDN Times/Dok Humas Lapas Kedungpane Semarang)
Intinya Sih
  • Sebanyak 780 narapidana Lapas Kedungpane Semarang menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi HIV/AIDS, TBC, Hepatitis B dan C, serta gangguan jiwa.
  • Pemeriksaan dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang bersama Klinik Pratama Lapas Kedungpane dengan melibatkan petugas medis dan pengamanan agar kegiatan berjalan aman dan tertib.
  • Kepala Lapas Ahmad Tohari menegaskan skrining ini sebagai langkah preventif guna menjaga kesehatan warga binaan, mencegah penyakit menular, dan mendukung pembinaan yang lebih humanis serta produktif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Semarang, IDN Times - Tak kurang 780 narapidana Lapas Kelas IA Kedungpane Semarang menjalani tes kesehatan untuk menanggulangi resiko penularan HIV/AIDS dan potensi terpapar tuberkulosis (TBC).

Pemeriksaan kesehatan dikerjakan para petugas medis Dinas Kesehatan Kota Semarang bersama petugas Klinik Pratama Lapas Kedungpane.

Untuk hari pertama ada 130 terpidana menjalani pemeriksaan kesehatan di Graha Pancasila Lapas Kedungpane. Mereka berasal dari Blok Citrawirya.

"Pelayanan kesehatan merupakan hak dasar yang tetap harus diterima oleh warga binaan selama menjalani masa pidana," kata Ahmad Tohari, Kepala Lapas Kedungpane Semarang, Kamis (25/7/2026).

Untuk pemeriksaan yang dilakukan meliputi skrining HIV, skrining Tuberkulosis (TBC), skrining Hepatitis B dan C, serta skrining kesehatan jiwa.

Seluruh rangkaian pemeriksaan dilakukan secara terstruktur dengan melibatkan petugas kesehatan, pejabat struktural, JFT, JFU, serta Regu Pengamanan (Rupam) guna memastikan kegiatan berjalan aman, tertib, dan efektif.

Ia menyampaikan bahwa kesehatan merupakan bagian penting dari proses pembinaan yang harus dipenuhi secara berkelanjutan.

“Melalui skrining ini, kami ingin memastikan kondisi kesehatan warga binaan dapat dipantau sejak dini sehingga apabila ditemukan indikasi penyakit dapat segera dilakukan tindak lanjut medis secara cepat dan tepat. Ini juga menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang sehat dan produktif,” ujar Tohari.

Lebih lanjut, ia menegaskan skrining kesehatan tidak hanya berorientasi pada pengobatan, tetapi juga menjadi langkah preventif dalam mencegah penyebaran penyakit menular serta memperkuat kualitas pembinaan di dalam Lapas.

“Kami berharap kegiatan ini mampu membangun budaya hidup sehat di lingkungan Lapas serta menjadi langkah nyata dalam mendukung pemasyarakatan yang lebih humanis, responsif, dan bermanfaat. Dengan kondisi kesehatan yang baik, proses pembinaan dapat berjalan lebih optimal sehingga warga binaan memiliki kesiapan yang lebih baik saat kembali ke tengah masyarakat,” ujar Tohari.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Fariz Fardianto
Bandot Arywono
Fariz Fardianto
EditorFariz Fardianto

Latest News Jawa Tengah

See More