Mengusir Bosan Berbuah Cuan: Cerita Bayu Tekuni Kerajinan Sabut Kelapa

Bayu Firman, narapidana Lapas Kedungpane Semarang, menekuni kerajinan sabut kelapa untuk mengatasi kebosanan, udara pengap, dan pikiran negatif selama berada di kamar tahanan.
Setelah pindah dari unit kebersihan, Bayu cepat mempelajari penganyaman sabut kelapa menjadi paranet dan menerima premi bulanan yang dibagi dari hasil kerja.
Lapas Kedungpane bekerja sama dengan PT Chewy Louis mengekspor 80 produk sabut kelapa ke Yunani, sambil memberi keterampilan bagi sekitar 1.300 penghuni lapas.
Sejumlah narapidana Lapas Kelas IA Kedungpane Semarang memilih mengalihkan pikiran negatif menjadi sebuah aktivitas yang menyenangkan.Â
Salah satunya dirasakan Bayu Firman, seorang terpidana yang belakangan sibuk menggeluti pembuatan kerajinan sabut kelapa. Bahan mentah sabut kelapa dianyam dan disulap menjadi paranet.
Bekerja sama dengan PT Chewy Louis, Lapas Kedungpane berhasil mengekspor produk tersebut hingga ke Yunani. Sebelumnya lapas juga telah mengekspor produk mainan anjing dengan bahan serupa.
Table of Content
Bayu bisa mengalihkan pikiran negatif

Bayu menganyam sabut kelapa menjadi produk layak ekspor. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng) Bayu mengungkapkan pilihannya untuk menggeluti kerajinan sabut kelapa tak lain karena selama ini sering bosan saat berada di dalam kamar tahanan.Â
Padahal di sisi lain udara pengap dengan jumlah penghuni kamar yang banyak membuat masing-masing narapidana sulit mengendalikan emosi. Malahan menurut Bayu terkadang dirinya berpikiran negatif.Â
"Daripada di bawah kan mending cari pekerjaan yang bermanfaat, bisa mengalihkan pikiran negatif," kata Bayu di lokasi unit kerja Lapas Kedungpane.Â
Bayu gampang beradaptasi

Lembaran anyaman sabut kelapa yang diproduksi di Lapas Kedungpane. (IDN Times/Dok Humas Lapas Kedungpane) Ia menuturkan hampir saban bulan dirinya rutin memperoleh upah dari hasil pembuatan kerajinan sabut kelapa. Biasanya uang upahnya dibagi rata sebagai penghasilan sembari menjalani hukuman badan.Â
"Tiap bulan kita dikasih premi (upah), dari hasil kerja kita sendiri dibagi rata, bisa buat jajan," paparnya.Â
Ia yang sebelumnya bekerja di unit kebersihan, ketika memutuskan pindah unit kerja di bidang kerajinan tangan, dirinya merasa gampang beradaptasi.Â
Ia menganggap pekerjaan tersebut sangat mudah dan tidak membutuhkan keahlian khusus.
"Sebelumnya saya bekerja di unit kebersihan, tugasnya ya bersih-bersih. Kemudian saya diberi tugas di sabut kelapa, awalnya hanya lihat instruktur, lalu beberapa jam saya coba ya langsung bisa, sama sekali ga ada kesulitan," kata Bayu.Â
Produk sabut kelapa diekspor ke Yunani

Deretan para sipir yang siap mendatangi blok kamar tahanan di Lapas Kedungpane Semarang. (IDN Times/Dok Humas Lapas Kedungpane) Kepala Lapas Kedungpane, Ahmad Tohari menyampaikan lapasnya memang mempunyai potensi yang besar untuk menghasilkan produk-produk manufaktur.
Hingga saat ini pihaknya telah menerima kiriman bahan sebanyak dua kali, dari bahan tersebut telah diselesaikan 80 pcs yang kemudian dikirim ke Yunani.Â
"Memang kami punya keunggulan pada tenaga, saat ini saja penghuninya mencapai 1.300, mereka kami berikan keterampilan, sehingga tidak hanya duduk diam saja menunggu hukuman berakhir," ujar Tohari.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


























