Kuliner Semarang Tumbuh 12,80 Persen, Ditopang Toleransi Budaya

Sektor akomodasi dan makan-minum Semarang tumbuh 12,80 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, melampaui pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah dan rata-rata nasional.
ESB mencatat merchant F&B Semarang tumbuh 8,3 persen dalam transaksi dan 6,6 persen omzet pada Januari-Juli 2026; 75,4 persen transaksi berlangsung non-tunai.
Toleransi budaya mendukung keragaman kuliner, tetapi pelaku usaha menghadapi kenaikan biaya bahan baku dan perlu mengendalikan HPP, stok, resep, serta rantai pasok.
Semarang, IDN Times - Bicara tentang toleransi, Kota Semarang bisa dikatakan sudah khatam. Selain toleransi dari perilaku hubungan antar agama, Ibukota Jateng ini juga terlihat meyakinkan bisa menyatukan semua budaya aneka makanan yang kerap menggoyang lidah para penggandrung kuliner.
Dalam kegiatan Kopdar Racik Bisnis F&B di Semarang, ESB sebagai lembaga yang fokus mengulik data trafik makanan lokal menyebutkan Semarang selalu punya cara sendiri menyatukan orang lewat makanan.
Kota ini tumbuh dari persilangan budaya Jawa, Tionghoa, kolonial Belanda, hingga Arab, dan jejaknya paling terasa justru di meja makan sehari-hari, mulai dari Lunpia Semarang yang legendaris, soto bangkong yang gurih, lontong cap go meh sampai tahu gimbal yang jadi favorit lintas generasi. Perpaduan ini bukan sekadar daya tarik wisata, tapi juga penggerak ekonomi kota yang nyata.
Wong Semarang bisa jualan makanan tanpa gesekan

Kopdar Racik Bisnis F&B di Semarang, ESB sebagai lembaga yang fokus mengulik data trafik makanan lokal menyebutkan Semarang selalu punya cara sendiri menyatukan orang lewat makanan. (IDN Times/Dok EBS) Toleransi ini tampak di level yang sederhana. Data internal ESB yang rutin memetakan merchant dan mencari insight di Semarang menemukan pemandangan yang menggambarkan kota ini dengan sangat pas, kuliner yang menjual olahan berbahan dasar non halal bisa berjualan berdampingan, dengan kuliner halal.
Dua bisnis dengan segmen pelanggan yang berbeda, hidup rukun di lokasi yang sama, tanpa gesekan.
"Ini bukan sesuatu yang sengaja kami cari, tapi ditemukan begitu saja saat proses mapping merchant di lapangan. Semarang punya toleransi yang sudah mendarah daging, dan itu ikut membentuk bisnis kuliner di sini terus tumbuh menawarkan aneka cita rasa bagi para pecinta kuliner," ungkap Gunawan, Co-Founder & CEO ESB, Sabtu (12/9/2026).
Toko makanan tumbuh subur di Semarang

Kopdar EBS dan komunitas kuliner membedah budaya makan orang Semarang. (IDN Times/dok ESB) Data resmi BPS Jawa Tengah pun mencatat sektor penyediaan akomodasi dan makan minum di triwulan II 2026 tumbuh 12,80 persen secara tahunan atau 2,2 kali lebih cepat dibanding pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah secara keseluruhan yang tercatat 5,71 persen bahkan melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 5,29 persen.
Pertumbuhan ini turut tercermin dari data internal ESB. Sepanjang Januari-Juli 2026, merchant F&B pengguna ESB di Semarang mencatat pertumbuhan same-store sebesar 8,3 persen dari sisi transaksi dan 6,6 persen dari sisi omzet. Angka ini membandingkan performa outlet yang sama dari tahun ke tahun, bukan sekadar penambahan jumlah merchant baru.
Sebanyak 75,4 persen dari transaksi tersebut kini dilakukan secara non-tunai, dan jam paling ramai konsumen memesan makanan terjadi pukul tujuh malam, tepat di jendela makan malam pukul 18.00-21.00.
Ia menuturkam tidak hanya rasanya yang jujur, dan ternyata data di Semarang juga bicara hal yang sama.
"Transaksi tumbuh, tapi yang membuat kami senang itu tumbuhnya di toko-toko yang sama, bukan hanya karena ada merchant baru yang bergabung. Artinya, pelanggan benar-benar datang kembali. Jam tujuh sebagai waktu paling ramai juga merupakan momen yang sangat manusiawi dari sebuah data, banyak orang yang ingin menikmati sajian kuliner untuk mengapresiasi diri setelah seharian lelah bekerja atau sekedar melepas lapar bersama keluarga," jelasnya.
Namun ia mengingatkan di balik geliat kuliner Semarang, ada tekanan yang dihadapi hampir semua pebisnis kuliner. Sebab, BPS per Agustus 2026 mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan dengan andil 0,28 persen yang didorong oleh kenaikan harga daging ayam ras, cabai rawit, dan buncis.
Pebisnis kuliner harus perhatikan rantai pasokan dapur

Suasana Pasar Gang Baru di kawasan Pecinan Kota Semarang. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Thomas Pangaribuan, Lead Strategist F&B Operations, Co-Founder & Managing Partner GASTRO F&B Consulting, menekankan pentingnya efisiensi internal bagi pelaku usaha F&B.
Agar bisnis bisa scale up dan relevan di tengah dinamika biaya bahan baku, para pebisnis kuliner tidak boleh hanya mengandalkan cita rasa. Kontrol atas Cost of Goods Sold (COGS), standardisasi resep untuk menekan risiko food waste, serta efisiensi rantai pasok dapur fondasi agar bisnis kuliner mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan.
Senada, Tadeo Christoga, Co-founder & COO Sorak Sorai, Panama Canteen dan Babakopitiam membagikan dampaknya langsung dari perspektif pemilik brand lokal.
"Sebagai pelaku usaha F&B lokal, kami merasakan langsung bagaimana sensitivitas konsumen terhadap harga dan tren kuliner bergerak sangat cepat. Kunci konsistensi kami dalam menjaga kualitas serta profitabilitas bisnis adalah dengan cermat membaca data operasional harian. Ketika kita tahu angka HPP dan pergerakan stok secara real-time, kita bisa mengambil keputusan promosi yang tepat tanpa harus merusak margin," kata Tadeo.






















