Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Toleransi di Semarang, Cerita Saat Biksu Thudong Singgah di Masjid Al Falah

Toleransi di Semarang, Cerita Saat Biksu Thudong Singgah di Masjid Al Falah
Rombongan Biksu Thudong singgah di Masjid Al Falah, Jalan Kaligawe, Genuk, Minggu (24/5/2026). (dok. Pemkot Semarang)
Intinya Sih
  • Rombongan Biksu Thudong disambut di Masjid Al Falah Semarang sebagai simbol kuat toleransi dan keharmonisan lintas agama dalam misi perdamaian dunia.
  • Wali Kota Agustina Wilujeng menegaskan semangat ‘Semarang Damai’ sejalan dengan filosofi Warak Ngendog yang mencerminkan persatuan berbagai etnis dan agama.
  • FKUB berperan aktif menjaga inklusivitas hingga tingkat kecamatan, sementara pemerintah kota berkomitmen merawat ruang sosial yang aman dan saling menghormati.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Semarang, IDN Times  – Pemandangan sejuk yang sarat akan nilai toleransi tampak di pelataran Masjid Al Falah, Jalan Kaligawe, Genuk, Minggu (24/5/2026). Saat itu rombongan Biksu Thudong lintas negara sedang melakukan perjalanan spiritual Walk for Peace dan singgah di tempat ibadah tersebut.

1. Perbedaan keyakinan bukanlah sekat

Rombongan 32 biksu Thudong disambut meriah oleh warga Semarang saat melewati Jalan Piere Tendean. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Rombongan 32 biksu Thudong disambut meriah oleh warga Semarang saat melewati Jalan Piere Tendean. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng pada kesempatan itu memimpin langsung penyambutan rombongan Biksu Thudong. Adapun, dipilihnya masjid sebagai titik singgah dan penyambutan ini menjadi simbol kuat bahwa perbedaan keyakinan bukanlah sekat, melainkan jembatan keharmonisan yang kokoh di Ibu Kota Jawa Tengah.

“Saya ingin bertemu langsung dengan panjenengan semua untuk menyerap energi kedamaian yang dibawa dalam perjalanan ini. Kehadiran rombongan ini membawa kekuatan dan semangat tersendiri bagi gerakan ‘Semarang Damai’ yang terus kita gaungkan,” ujarnya.

Agustina menegaskan, bahwa misi perdamaian dunia yang dibawa para biksu sangat selaras dengan jati diri warga Kota Semarang. Toleransi di kota ini bukan sekadar slogan, melainkan napas kehidupan sehari-hari yang tercermin dari filosofi lokal Warak Ngendog.

2. FKUB bergerak inklusif hingga ke kecamatan

biksu thudong
Rombongan Biksu Thudong singgah di Masjid Al Falah, Jalan Kaligawe, Genuk, Minggu (24/5/2026). (dok. Pemkot Semarang)

Warak Ngendog mengajarkan bahwa persatuan dari berbagai etnis dan agama di kota Semarang harus membuahkan hasil nyata berupa kedamaian kota.

Tradisi besar seperti Dugderan hingga pawai Ogoh-Ogoh selalu didukung penuh atau disengkuyung oleh seluruh umat beragama tanpa terkecuali.

Tingginya kesadaran toleransi di kota Semarang tidak lepas dari peran aktif Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang bergerak inklusif hingga ke tingkat kecamatan.

3. Rawat ruang sosial yang aman

Berbagai pernak-pernik dan stupa menghiasi Vihara Buddha Jayanti Semarang saat para biksu Thudong singgah untuk beristirahat. (IDN Times/Istimewa)
Berbagai pernak-pernik dan stupa menghiasi Vihara Buddha Jayanti Semarang saat para biksu Thudong singgah untuk beristirahat. (IDN Times/Istimewa)

Wali Kota berkomitmen penuh untuk terus merawat ruang sosial yang aman, sejuk, dan saling menghormati, terlebih di tengah tantangan Semarang sebagai kota metropolitan yang dinamis.

Sebelum melepas kembali rombongan biksu menuju tujuan akhir menjelang perayaan Waisak, Agustina menitipkan doa terbaik untuk keselamatan mereka.

“Kami antarkan rombongan ini dengan doa, semoga beliau-beliau selalu sehat, selamat sampai di tempat tujuan, dan bisa terus menebarkan kedamaian,” pungkasnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono

Latest News Jawa Tengah

See More