Harmony Trip, Cara Asyik Siswa SD Belajar Toleransi Beragama

- Puluhan siswa kelas VI SD Negeri 1 Gedang Kulon mengikuti Harmony Trip di Kampung Budhis, Dusun Plandi, untuk belajar keberagaman di luar kelas.
- Program mahasiswa KKN 024 UIN Saizu Purwokerto mengenalkan sejarah Buddha, budaya lokal, serta makna simbol lilin dan bunga teratai melalui tur edukasi.
- Peserta mengunjungi ruang gamelan, Taman Lumbini, candi, Pohon Bodhi, dan vihara lama guna menanamkan moderasi beragama serta toleransi sejak dini.
Banyumas, IDN Times – Belajar tentang keberagaman tak harus selalu dilakukan di ruang kelas. Puluhan siswa kelas VI SD Negeri 1 Gedang Kulon justru mendapatkan pengalaman baru saat mengikuti Harmony Trip yang menjelajah keberagaman, menguatkan Persatuan di Kampung Budhis, Dusun Plandi, Desa Watuagung, Rabu (5/8/2026).
Program yang diinisiasi mahasiswa KKN 024 UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto itu mengajak siswa mengenal sejarah, budaya, dan nilai toleransi secara langsung. Berikut lima momen menarik selama kegiatan berlangsung.
1. Cara senang belajar moderasi beragama

Ketua KKN 024 Watuagung yang juga wali kelas VI SD Negeri 1 Gedang Kulon, Ruli mengingatkan para siswa agar menjaga sikap selama mengikuti edutour moderasi beragama.
"Anak anak harus menjaga adab dan etika ketika berada di sini serta mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan baik agar memperoleh pengalaman belajar yang bermanfaat," ujarnya kepada IDN Times.
Ditambahkan melalui Harmony Trip, mahasiswa KKN 024 UIN Saizu Purwokerto berharap para siswa tidak hanya memahami pentingnya hidup berdampingan dalam keberagaman, tetapi juga semakin mengenal Kampung Budhis sebagai salah satu potensi sejarah dan budaya yang dimiliki Desa Watuagung.
2. Mengenal sejarah Kampung Budhis dari tokoh setempat

Tokoh Kampung Budhis, Tukiran menyebut mengajak para siswa yang dilakukan oleh para mahasiswa KKN tersebut sebagai bagian mengenal sejarah agama Buddha serta filosofi berbagai perlengkapan yang digunakan dalam tradisi Buddhis.
Ia menjelaskan makna simbolik lilin dengan berbagai warna hingga bunga teratai yang melambangkan perjalanan menuju kesucian hidup. Penjelasan tersebut menjadi bekal sebelum peserta mengikuti tur edukasi di kawasan Kampung Budhis.
Dalam sesi edutour, para siswa mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah, seperti ruang gamelan, Taman Lumbini, candi, Pohon Bodhi, hingga vihara lama. Di setiap lokasi, Tukiran menjelaskan sejarah serta fungsi masing masing tempat sehingga siswa memperoleh pengalaman belajar secara langsung.
3. Tanamkan nilai tolerasnsi sejak dini

Penanggung jawab harmony trip, Khikmah Tri Romadhoni, pihaknya berharap Harmony Trip menjadi pengalaman belajar yang berkesan sekaligus menanamkan nilai toleransi sejak dini bagi anak anak.
"Semoga melalui acara ini, anak-anak mendapatkan pengalaman belajar nyata mengenai sejarah, budaya, sekaligus konsep sederhana mengenai moderasi dan toleransi antarumat beragama di lingkungan sekolah," katanya.
Diakuinya, salah seorang siswa mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan seperti ini. Ia merasa senang karena dapat belajar sambil berwisata sehingga lebih mudah memahami tentang tolerans.


















