Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Pengendara Motor Sering Lupa Matikan Lampu Sen? Ini Penjelasannya
ilustrasi lampu sein (Carmudi.co.id)
  • Pengendara motor kerap lupa mematikan sein karena otak mengotomatisasi tindakan menyalakan, sementara fokus setelah berbelok cepat berpindah ke navigasi jalan.
  • Multitasking, posisi indikator yang kecil, serta ketiadaan pengingat suara membuat kedipan sein mudah luput diproses pengendara.
  • Beban kognitif akibat lalu lintas, stres, atau cuaca dapat mengabaikan tombol sein; kebiasaan menekan tombol setelah belok dan mengecek panel dianjurkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
saat akan berbelok

Pengendara menyalakan lampu sen, membentuk respons motorik otomatis.

Setelah proses berbelok selesai

Fokus pengendara beralih ke navigasi depan sehingga perintah mematikan lampu sen dapat terabaikan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pengendara sepeda motor kerap lupa mematikan lampu sein setelah berbelok atau menyalakan sein yang tidak sesuai arah belok, kondisi yang dapat membingungkan pengguna jalan lain dan berpotensi memicu kecelakaan.
  • Who?
    Pengendara sepeda motor menjadi kelompok yang mengalami kebiasaan lupa mematikan lampu sein, sementara pengguna jalan lain dapat terdampak oleh sinyal arah yang keliru.
  • Where?
    Fenomena ini terjadi di jalan raya, terutama dalam situasi pengendara harus memperhatikan kendaraan lain, kondisi jalan, kecepatan, dan spion secara bersamaan.
  • When?
    Kebiasaan tersebut muncul setelah pengendara menyelesaikan belokan dan kembali melaju lurus, khususnya ketika perhatian segera beralih ke navigasi serta kondisi lalu lintas di depan.
  • Why?
    Faktor yang disebut meliputi kebiasaan otomatis yang tidak mencakup mematikan sein, ketidakperhatian pada indikator dashboard, tidak adanya pengingat suara, dan beban kognitif yang meningkat.
  • How?
    Pengendara dapat melatih kebiasaan menekan tombol sein saat stang lurus, memeriksa panel instrumen secara berkala, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko sein yang terus menyala.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Banyak orang naik motor lupa mematikan lampu sen setelah belok. Ada juga yang menyalakan sen kiri, tapi belok kanan. Otak mereka sibuk melihat kendaraan, jalan berlubang, dan spion. Lampu sen motor juga sering tidak berbunyi. Sekarang pengendara bisa belajar menekan tombol sen setelah stang lurus dan melihat panel motor.Banyak orang naik motor lupa mematikan lampu sen setelah belok. Ada juga yang nyalakan sen kiri, tapi belok kanan. Otak mereka sibuk melihat kendaraan, jalan bolong, dan spion. Lampu sen kecil juga tidak berbunyi seperti di mobil. Ini bisa bikin orang lain bingung dan terjadi kecelakaan. Pengendara perlu ingat mengecek dan mematikan sen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Penjelasan psikologis ini memberi sudut pandang yang lebih empatik terhadap kesalahan lampu sen: masalah tersebut tidak selalu berakar pada kecerobohan, melainkan pada keterbatasan perhatian saat pengendara menghadapi banyak tuntutan di jalan. Dengan memahami peran kebiasaan, beban kognitif, dan minimnya pengingat sensorik, kesadaran berkendara dapat dibangun secara lebih terarah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times — Fenomena pengendara motor yang lupa mematikan lampu sen setelah belok—atau bahkan menyalakan sen kiri tapi belok ke kanan—sudah menjadi pemandangan sehari-hari di jalan raya. Selain membingungkan pengguna jalan lain, kebiasaan ini juga sangat membahayakan keselamatan lalu lintas karena berpotensi memicu kecelakaan.

Namun, alih-alih sekadar kelalaian disengaja, fenomena ini ternyata bisa dijelaskan melalui pendekatan ilmu psikologi dan mekanisme kerja otak manusia.

Berikut alasan psikologis mengapa banyak pemotor kerap lupa mematikan lampu indikator sein kendaraan mereka:

1. Habit Loop dan Otomatisasi Gerakan Otak

ilustrasi lampu riting sepeda motor yang menyala (unsplash.com/Subhash Nusetti)

Otak manusia memiliki mekanisme untuk menghemat energi dengan cara mengubah perilaku berulang menjadi kebiasaan otomatis (habit loop). Ketika seseorang belajar naik motor, menyalakan lampu sen saat akan berbelok melatih otak untuk membentuk respon motorik otomatis.

Namun, tindakan mematikan lampu sen sering kali tidak tertanam sekuat tindakan menyalakan. Setelah proses berbelok selesai dan posisi jalan kembali lurus, fokus otak pengendara langsung berpindah ke navigasi depan, sehingga perintah untuk menekan tombol sen terabaikan dari memori jangka pendek.

2. Inattentional Blindness (Kebutaan Akibat Ketidakperhatian)

ilustrasi lampu sein motor (unsplash.com/Kundan Bana)

Pengendara motor dituntut untuk membagi fokus secara bersamaan (multitasking): memperhatikan kendaraan lain, menghindari jalan berlubang, menjaga kecepatan, hingga memantau spion.

Kondisi ini dapat memicu inattentional blindness, yaitu fenomena psikologis di mana otak gagal memproses informasi visual yang sebenarnya ada di depan mata. Posisi lampu indikator sen di panel dashboard motor yang kecil dan berada di bawah garis pandang utama membuat pengendara tidak "melihat" kedipan lampu indikator tersebut, meskipun fisiknya aktif.

3. Tidak Adanya Auditory Feedback (Umpan Balik Suara)

Ilustrasi lampu sein motor (wahanahonda.com)

Berbeda dengan mobil yang mengeluarkan bunyi cetuk-cetuk nyaring saat lampu sen menyala, mayoritas sepeda motor modern tidak dilengkapi sistem umpan balik suara (auditory feedback).

Dalam ilmu psikologi persepsi, kurangnya rangsangan sensorik berupa suara membuat pengendara tidak mendapatkan pengingat berkala (continuous cue). Tanpa adanya pengingat suara atau getaran, otak berasumsi bahwa tugas berbelok telah selesai sepenuhnya.

4. Beban Kognitif Berlebih (Cognitive Overload)

ilustrasi lampu sein pada kendaraan (pexels.com/Trip Raptor)

Saat berkendara di lalu lintas padat, cuaca panas, atau ketika pengendara sedang memikirkan urusan pribadi (stres), beban kognitif otak akan meningkat drastis. Ketika kapasitas memori kerja (working memory) penuh, otak akan secara otomatis mengeliminasi detail-detail kecil yang dianggap tidak mendesak untuk keselamatan diri saat itu—salah satunya menekan tombol mati pada lampu sen.

Cara Mengatasi Kebiasaan Lupa Matikan Sen

Bentuk Micro-Habit Baru: Latih diri untuk selalu menekan tombol tengah sein setiap kali stang motor selesai diluruskan pasca-berbelok.

Rutin Cek Panel Instrument: Biasakan melakukan scanning visual cepat ke arah dashboard setiap beberapa ratus meter.

Pahami Risiko: Kesadaran akan bahaya sen yang menyala terus-menerus dapat membantu memicu ingatan bawah sadar agar lebih waspada.

Curated For You

Editorial Team

Related Article