Momen Gusti Sura Jalani Sungkeman dan Sengkeran Jelang Dhaup Ageng

- Gusti Sura menjalani Sungkeman untuk memohon restu ibunda dan sesepuh keluarga, lalu memasuki Sengkeran di Keputren Pura Mangkunegaran menjelang pernikahannya dengan Adimas Rosdian.
- Sengkeran menjadi masa refleksi dan persiapan batin calon pengantin, bukan sekadar pingitan, untuk memantapkan diri menghadapi tanggung jawab baru dalam rumah tangga.
- Selama tiga malam, para nini melantunkan tembang Macapat tanpa musik sebagai pendampingan dan pewarisan tradisi; rangkaian dilanjutkan pemasangan Bleketepe pada 4 November 2026.
Surakarta, IDN Times - Rangkaian pernikahan agung atau Dhaup Ageng Mangkunegaran mulai memasuki prosesi utama pada Selasa (3/11/2026). G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura menjalani prosesi Sungkeman dan Sengkeran sebagai bagian dari persiapan menjelang pernikahannya dengan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian.
Kedua prosesi tersebut tidak sekadar menjadi bagian dari tata upacara adat. Sungkeman menjadi momen bagi Gusti Sura untuk memohon doa restu keluarga, sedangkan Sengkeran merupakan masa menepi untuk mempersiapkan kondisi batin sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.
Selama menjalani Sengkeran di lingkungan Keputren Pura Mangkunegaran, Gusti Sura juga diiringi lantunan tembang Macapat yang dibawakan para nini atau abdi dalem perempuan sepuh Mangkunegaran.
1. Sungkeman Jadi Momen Gusti Sura Memohon Restu Keluarga.

Prosesi Sungkeman dan Sengkeran Gusti Sura jelang Dhaup Ageng Pura Mangkunegaran. (Dok/Istimewa) Prosesi diawali dengan Sungkeman. Dalam kesempatan tersebut, Gusti Sura menyampaikan bakti sekaligus memohon restu kepada ibundanya di hadapan para sesepuh keluarga.
Prosesi ini memiliki makna penting sebagai bentuk penghormatan seorang anak kepada orang tua sekaligus memohon doa dan nasihat untuk menjalani kehidupan baru bersama pasangan.
Setelah Sungkeman, Gusti Sura memasuki masa Sengkeran di lingkungan Keputren Pura Mangkunegaran. Prosesi ini menjadi bagian dari tradisi menjelang pernikahan yang memberikan kesempatan kepada calon temanten untuk menenangkan pikiran dan memantapkan kesiapan diri.
Juru Bicara Dhaup Ageng, K.P.H. Tjuk Susilo, menjelaskan bahwa Sengkeran tidak semata-mata dimaknai sebagai pingitan atau pengasingan.
“Sengkeran tidak semata-mata dimaknai sebagai pingitan, melainkan sebagai jeda yang sengaja disediakan dalam tradisi agar calon temanten dapat melakukan refleksi dan mempersiapkan diri menghadapi tanggung jawab baru dalam kehidupan rumah tangga,” jelasnya.
2. Lantunan Macapat Para Nini Iringi Sengkeran Selama Tiga Malam.

Prosesi Sungkeman dan Sengkeran Gusti Sura jelang Dhaup Ageng Pura Mangkunegaran. (Dok/Istimewa) Salah satu bagian menarik dalam prosesi Sengkeran adalah kehadiran para nini yang melantunkan tembang Macapat selama tiga malam.
Para nini merupakan abdi dalem perempuan sepuh Mangkunegaran yang memiliki pengetahuan mengenai tembang dan tata cara tradisi keraton. Mereka turut menjaga keberlangsungan budaya melalui pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun.
Pada Selasa malam (3/11/2026), lantunan Macapat terdengar di lingkungan Keputren Pura Mangkunegaran. Tembang tersebut dibawakan tanpa iringan alat musik atau dikenal dengan istilah kosongan.
Dengan format tersebut, suara para nini dan syair tembang menjadi bagian utama dari prosesi. Setiap bait Macapat mengandung pesan dan nasihat yang menyertai Gusti Sura selama menjalani masa persiapan menuju pernikahan.
Tembang-tembang yang dilantunkan membawa pesan mengenai pendampingan, keselarasan, ketulusan, serta harapan baik dalam membangun kehidupan bersama pasangan.
Kehadiran para nini bukan sekadar pelengkap upacara. Mereka menjadi bagian penting dalam meneruskan pengetahuan dan menjaga tradisi Mangkunegaran agar tetap hidup di tengah generasi berikutnya.
3. Sengkeran Jadi Ruang Persiapan Batin Menjelang Kehidupan Rumah Tangga.

Persiapan Pura Mangkunegaran jelang Dhaup Ageng Gusti Sura dengan KPH Adimas. (IDN Times/Larasati Rey) Tradisi Sengkeran memberikan ruang bagi calon temanten untuk sejenak menepi dari kesibukan persiapan pernikahan. Dalam masa tersebut, calon pengantin diajak lebih dekat dengan keluarga, menghayati nasihat, serta memantapkan komitmen sebelum membangun rumah tangga.
Melalui Sungkeman dan lantunan Macapat, rangkaian Dhaup Ageng tidak hanya menampilkan kekayaan tata upacara adat Mangkunegaran, tetapi juga memperlihatkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Peran para nini juga menunjukkan bahwa pelestarian tradisi tidak hanya bergantung pada bangunan bersejarah maupun dokumentasi budaya. Tradisi tetap bertahan karena ada orang-orang yang terus mempelajari, menjalankan, dan mewariskan pengetahuan tersebut.
Rangkaian Sungkeman dan Sengkeran menjadi pembuka perjalanan Gusti Sura menuju prosesi pernikahan dengan Adimas Rosdian. Melalui doa keluarga dan nasihat yang disampaikan lewat tembang Macapat, Dhaup Ageng menjadi momentum untuk meneruskan nilai-nilai budaya sekaligus menyambut kehidupan baru kedua calon temanten.
Usai acara Sungkeman, pada Rabu (4/11/2026) pagi digelar acara pemasangan Bleketepe di depan Pendhopo Ageng. Pemasangan Bleketepe tersebut sebagai tradisi pernikahan adat Jawa adalah prosesi pemasangan anyaman dari daun kelapa hijau yang dilakukan oleh orang tua calon pengantin wanita sebagai tanda dimulainya rangkaian hajatan.





















