Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pecinan Semarang Resmi Jadi Desa Wisata, Ini Daya Tarik Andalannya
Ilustrasi gerbang masuk kawasan Pecinan Semarang. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
  • Pecinan Semarang resmi ditetapkan sebagai Desa Wisata Krabat, desa wisata ke-14 di kota itu, dengan andalan sejarah, akulturasi Tionghoa-Nusantara, kuliner legendaris, dan klenteng berusia ratusan tahun.

  • Pengembangan kawasan memakai pendekatan berbasis warga dan komunitas, melibatkan generasi muda lewat Mural Fest serta Pokdarwis yang bermitra dengan Hotel Horison untuk menyusun paket wisata heritage.

  • Mooncake Festival 2026 pada 23–27 September menghadirkan festival kuliner, Gambang Semarang, Barongsai, Tok Panjang, video mapping, dan wayang kulit untuk menggerakkan wisata budaya serta ekonomi warga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pecinan Semarang sekarang jadi desa wisata ke-14. Ibu Wali Kota Agustina meresmikannya. Di sana ada makanan enak, klenteng tua, dan budaya Tionghoa-Nusantara. Anak muda membuat mural di gang. Pada 23 sampai 27 September akan ada Mooncake Festival, barongsai, musik, dan wayang. Warga ikut membantu wisata ini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times – Kawasan Pecinan Semarang kini resmi menjadi desa wisata. Desa Wisata Krabat (Kranggan Hebat) Pecinan ditetapkan sebagai desa wisata ke-14 di Kota Semarang dengan mengandalkan potensi sejarah, budaya, kuliner, dan komunitas warga.

1. Punya daya tarik kuliner legendaris

Pasar Gang Baru di Kawasan Pecinan Semarang. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng meresmikan Desa Wisata Krabat Pecinan di Kecamatan Semarang Tengah pada Minggu (20/9/2026) malam.

Berbeda dengan sejumlah desa wisata di wilayah perbukitan seperti Gunungpati dan Mijen, Krabat Pecinan berada di pusat kota dan menawarkan karakter wisata heritage dengan jejak akulturasi budaya Tionghoa-Nusantara.

Pengembangan desa wisata ini dilakukan dengan pendekatan bottom-up, sehingga warga dan komunitas menjadi bagian utama dalam mengembangkan potensi kawasan.

“Desa wisata itu tumbuh dari warganya sendiri. Ketika dikembangkan secara bottom-up, masyarakat dan komunitasnya yang membangun secara spesifik. Desa wisata akan jauh lebih hidup, memiliki jiwa, dan dampaknya terasa langsung pada perekonomian warga lokal,” ujarnya, Selasa (22/9/2026).

Krabat Pecinan memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata. Selain jejak sejarah dan akulturasi budaya, kawasan tersebut dikenal dengan kuliner legendaris serta keberadaan sejumlah klenteng yang telah berusia ratusan tahun.

Potensi tersebut kemudian dikembangkan melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat dan generasi muda.

2. Libatkan generasi muda jaga kawasan sejarah

Pemkot Semarang meresmikan Desa Wisata Krabat Pecinan di Kecamatan Semarang Tengah pada Minggu (20/9/2026) malam. (dok. Pemkot Semarang)

Salah satunya Mural Fest 2026, yakni kegiatan mempercantik jalan inspeksi dan gang di kawasan Pecinan melalui karya seni visual. Kegiatan tersebut melibatkan pelajar dan mahasiswa dengan dukungan Mowilex.

Agustina menilai keterlibatan generasi muda dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kawasan sejarah sekaligus membuatnya lebih menarik bagi wisatawan.

“Anak-anak muda datang membawa warna, mengekspresikan nilai harmoni dan akulturasi di ruang-ruang sejarah kita. Ini proses budaya di mana generasi muda ikut menjaga dan memperindah lingkungan,” katanya.

Pengembangan Krabat Pecinan juga melibatkan pelaku usaha pariwisata. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Krabat Pecinan menjalin kemitraan dengan industri perhotelan, salah satunya Hotel Horison.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menyusun paket wisata heritage berbasis komunitas. Dengan model tersebut, aktivitas wisata di Pecinan tidak hanya berpusat pada kunjungan ke destinasi, tetapi juga membuka ruang keterlibatan komunitas dan pelaku usaha lokal.

Potensi ekonomi kawasan diharapkan tumbuh seiring semakin banyak wisatawan yang datang dan mengikuti aktivitas wisata berbasis sejarah, budaya, maupun kuliner.

3. Mooncake Festival ramaikan Pecinan

Pemkot Semarang meresmikan Desa Wisata Krabat Pecinan di Kecamatan Semarang Tengah pada Minggu (20/9/2026) malam. (dok. Pemkot Semarang)

Aktivitas wisata dan budaya di Pecinan juga akan berlanjut melalui Mooncake Festival 2026 bertajuk “Cahaya Harmoni Semarang” pada 23–27 September 2026.

Sejumlah agenda disiapkan, mulai dari Heritage Food Festival di Gang Warung, pertunjukan Gambang Semarang, atraksi Barongsai, hingga tradisi Tok Panjang di Klenteng See Hoo Kiong.

Rangkaian acara juga mencakup video mapping di Klenteng Tay Kak Sie dan pagelaran Wayang Kulit di Klenteng Siu Hok Bio.

Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menggabungkan wisata, budaya, komunitas, dan aktivitas ekonomi warga di kawasan Pecinan.

Dengan ditetapkannya Krabat Pecinan sebagai desa wisata ke-14, Pemkot Semarang mendorong potensi yang selama ini telah hidup di kawasan tersebut agar berkembang menjadi ekosistem wisata yang melibatkan masyarakat sekaligus memberikan manfaat ekonomi secara langsung.

Curated For You

Editorial Team

Related Article