Kawasan Pecinan Semarang Siap Jadi Destinasi Wisata Global

- Kawasan Pecinan Semarang akan dijadikan destinasi wisata global oleh Pemerintah Kota Semarang.
- Lokasi ini memiliki nilai jual dari festival rutin tahunan seperti Pasar Imlek Semawis.
- Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan dan memperkenalkan budaya Tionghoa secara lebih luas.
1. Ingin Pasar Imlek Semawis terus hidup

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mengatakan, langkah penataan kawasan cagar budaya seperti Pecinan, Kampung Melayu, hingga Bustaman telah mendapat respons positif dari Duta Besar Prancis yang berencana mengarahkan wisatawan mancanegara untuk menjadikan kampung-kampung tematik di Kota Semarang sebagai destinasi utama.
“Kawasan Pecinan ini sudah siap menjadi destinasi wisata global. Kita ingin event (Pasar Imlek Semawis, red) seperti ini terus hidup dan tumbuh makin berkualitas. Ketika kita merawat budaya, ekonomi kita bergerak, kawasan cagar budaya makin hidup, dan generasi muda akan memiliki kebanggaan terhadap kotanya sendiri,” katanya saat menghadiri pembukaan Pasar Imlek Semawis 2026, Jumat (13/2/2026).
2. Kota Semarang telah mencapai level kematangan sosial

Seperti momentum bulan ini yang terasa kental dengan nuansa spiritualitas yang unik. Bertemunya perayaan Imlek 2577 dengan persiapan bulan Ramadan 1447 Hijriah serta masa Prapaskah umat Kristiani menciptakan sebuah simfoni religi yang langka.
Fenomena warga dari berbagai keyakinan yang menjalankan ibadah puasa dalam waktu yang bersamaan dipandang sebagai puncak keharmonisan sosial di Kota Semarang.
Menurut Agustina, Kota Semarang telah mencapai level kematangan sosial ketika keberagaman menjadi nadi kehidupan yang memastikan seluruh warga dapat tumbuh dan sejahtera bersama.
3. Tiga agama jalani persiapan hari besar

“Inilah Semarang, kita mendapatkan momentumnya. Ada tiga agama yang menjalani persiapan hari besar bersama-sama dalam sebuah simfoni spiritual yang asri. Doa kita bersama, semoga Semarang selalu menjadi rumah yang teduh bagi siapa pun yang tinggal dan datang ke kota ini. Kuda datang, sukses menjelang,” kata Agustina.
Baginya, harmoni yang terjalin di Ibu Kota Jawa Tengah ibarat bunga yang terus menebar keharuman tanpa perlu haus akan validasi atau pujian dari luar. Kemudian, wali kota melihat bersisiannya Pasar Semawis dengan persiapan Pasar Dugderan sebagai bukti nyata bahwa akulturasi sudah menjadi sistem operasi harian dalam kehidupan masyarakat.
“Saya berharap Kota Semarang tanpa harus dipuji, tanpa harus ditonton, keberagaman itu sudah menjadi perilaku sehari-hari. Di sini ada kaum Tionghoa, Jawa, Melayu, hingga kelompok Arab Muslim di Kauman; mereka bersatu padu tinggal bersama untuk satu urusan: kesejahteraan. Keberagaman ini hadir dalam sapaan tetangga dan gotong royong warga di ruang publik,” tandasnya.
















