Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Alasan Kenapa Semarang Dibagi Jadi Semarang Atas dan Semarang Bawah

Kota Semarang
4 Alasan Kenapa Semarang Dibagi Jadi Semarang Atas dan Semarang Bawah
Cuaca panas di Kawasan Tugu Muda Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Pembagian Semarang Atas dan Semarang Bawah dipicu oleh bentang topografi alam unik yang menggabungkan area pantai dan perbukitan.

  • Strategi tata kota zaman kolonial Belanda serta ancaman banjir rob ikut membentuk pembagian kawasan permukiman dan pusat aktivitas.

  • Di era modern, wilayah bawah difokuskan untuk pusat bisnis dan sejarah, sedangkan wilayah atas berkembang menjadi kawasan pendidikan dan hunian.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bagi yang pernah berkunjung atau tinggal di Kota Lumpia, pasti sudah tidak asing dengan istilah Semarang Atas dan Semarang Bawah. Kota ini memang punya julukan unik sebagai "Kota Atlas" dengan dua wajah geografis yang bertolak belakang.

Bahkan tidak sedikit orang luar kota yang kaget saat tahu Semarang punya hawa pantai yang panas sekaligus perbukitan yang sejuk dalam satu garis kota. Penasaran kenapa kota ini sampai terbagi menjadi dua kawasan yang begitu mencolok? Yuk, kita bongkar alasan sejarah dan geografis di baliknya!

1. Perbedaan Geografis dan Bentang Alam yang Kontras

Ilustrasi lalu lintas di Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)
Ilustrasi lalu lintas di Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Faktor paling mendasar tentu berasal dari topografi alam Kota Semarang. Wilayah Semarang Bawah berada di dataran rendah dengan ketinggian 0 hingga 3,5 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini berbatasan langsung dengan Laut Jawa dan didominasi oleh dataran pantai yang relatif landai.

Sebaliknya, Semarang Atas membentang di perbukitan kaki Gunung Ungaran dengan ketinggian mencapai 90 hingga 350 meter di atas permukaan laut. Wilayah ini mencakup kecamatan berhawa sejuk seperti Candi, Gajahmungkur, Banyumanik, Tembalang, hingga Gunungpati.

2. Warisan Tata Kota Zaman Kolonial Belanda

IMG_20260610_084617.jpg
Ilustrasi lanskap Lawang Sewu di Kota Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Pembagian dua kawasan ini juga punya sejarah panjang dari abad ke-19. Pemerintah Hindia Belanda kala itu mulai memindahkan permukiman mereka ke arah selatan menuju Semarang Atas, tepatnya di kawasan perbukitan Candi Baru (Nieuw Tjandi).

Langkah ini diambil karena Semarang Bawah saat itu dianggap terlalu padat, bersuhu panas, banyak rawa, dan rawan menyebarkan penyakit menular seperti malaria dan kolera. Area perbukitan atas akhirnya dipilih sebagai kawasan elit yang sejuk dan bersih demi kenyamanan para pejabat Eropa.

3. Solusi Terhindar dari Masalah Banjir dan Rob

Suasana siang hari di daerah Semarang atas. (IDN Times/Dhana Kencana)
Suasana siang hari di daerah Semarang atas. (IDN Times/Dhana Kencana)

Sejak dulu hingga kini, Semarang Bawah harus terus berhadapan dengan masalah lingkungan musiman, seperti banjir rob akibat pasang air laut serta fenomena penurunan muka tanah (land subsidence).

Melihat kondisi tersebut, area Semarang Atas secara alami menjadi zona alternatif yang jauh lebih aman dari ancaman genangan air. Kawasan tinggi ini tumbuh pesat sebagai zona resapan dan area pengembangan permukiman jangka panjang yang ideal.

4. Pembagian Fungsi Kawasan di Era Modern

Suasana kawasan kota lama di Kota Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)
Suasana kawasan kota lama di Kota Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Seiring berjalannya waktu, pemerintah kota dan masyarakat secara alami membagi fungsi kedua kawasan ini. Semarang Bawah disulap menjadi pusat roda ekonomi, wisata sejarah, dan transportasi. Di sanalah berdiri landmark ikonik seperti Kota Lama Semarang, kawasan Simpang Lima, pelabuhan, serta stasiun kereta api utama.

Sementara itu, Semarang Atas berkembang pesat menjadi pusat pendidikan tinggi dan hunian hijau. Kampus-kampus ternama seperti Universitas Diponegoro (UNDIP) di Tembalang dan Universitas Negeri Semarang (UNNES) di Gunungpati menjadikan wilayah atas selalu ramai oleh aktivitas anak muda.

Perpaduan antara pesisir dan perbukitan inilah yang membuat Semarang punya daya tarik yang sangat unik dibanding kota-kota besar lainnya di Jawa. Tiap sudutnya menyajikan suasana dan cerita yang berbeda.

Kalau kamu sendiri, lebih suka menghabiskan waktu di riuhnya pusat kota Semarang Bawah atau menikmati hawa sejuk di Semarang Atas nih? Tulis pilihanmu di kolom komentar dan jangan lupa bagikan artikel ini ke teman-temanmu, ya!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More