Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sensus Ekonomi 2026: Menantang Jurang demi Data Warga Sigandul

Kab. Batang
Sensus Ekonomi 2026: Menantang Jurang demi Data Warga Sigandul
Seorang petugas Sensus Ekonomi mendata warga Dukuh Sigandul Kecamatan Reban Kabupaten Batang. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Petugas Sensus Ekonomi 2026 di Dukuh Sigandul, Batang, menembus jalur curam, kabut, dan akses jurang untuk mendata sekitar 40 KK dengan dukungan komunitas Mantis.
  • Tujuh petugas rutin menyurvei Sigandul sejak 21 Juni; warga antusias, sementara anggota Mantis membantu sosialisasi, perekrutan petugas, dan menjangkau wilayah terpencil Kecamatan Reban.
  • Di Batang, 73,27 persen pelaku usaha mikro telah didata dan sensus 252 industri besar di KITB rampung 100 persen; Jawa Tengah mencapai 76 persen responden terdata.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Letaknya sejauh 58 kilometer, Dukuh Sigandul menjadi salah satu wilayah dengan akses perbukitan yang ekstrem di Kecamatan Reban, Kabupaten Batang.

Dengan total penduduk sekitar 40 kepala keluarga (KK), Dukuh Sigandul merupakan titik sasar tersulit bagi para petugas Sensus Ekonomi.

Seperti yang dilakukan Gilang Alip dan kawan-kawanya yang musti melewati jalanan berkelok-kelok menuju Dukuh Sigandul.

Jalur yang curam harus dilalui Gilang tatkala hendak menyambangi satu persatu rumah di Dukuh Sigandul.

Tak jarang ia ekstra hati-hati tatkala melintasi jalanan setapak di pinggir jurang. Bagi Gilang, menyambangi Dukuh Sigandul tak sekedar menyukseskan pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Melainkan juga membuktikan bahwa niatan yang baik akan membawa kebaikan pula.

"Setiap kali saya ke Sigandul, saya musti banyak-banyak merapalkan doa. Karena dengan akses jalan yang sangat terjal, meminta keselamatan kepada Allah SWT menjadi faktor kunci supaya saya dan teman-teman bisa tiba ke lokasi dukuh dengan lancar," kata Gilang kepada IDN Times, Jumat (31/7/2026).

IMG_20260731_210123.jpg
Petugas Sensus Ekonomi mendata warga yang memiliki rumah beralaskan tanah. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Setiap kali menuju rumah-rumah warga, ia kerap naik sepeda motor. Beberapa petugas sensus juga harus naik motor trail untuk menghadapi tanjakan yang curam.

Dengan topografis wilayah yang tergolong unik, kegiatan Sensus Ekonomi selama ini cenderung diorganisir oleh sejumlah kelompok masyarakat. 

Gilang dan para petugas Sensus Ekonomi di Dukuh Sigandul lainnya berasal dari komunitas mantri andalan statistik (Mantis) yang memang dilibatkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk menjangkau desa-dea terpencil di Kecamatan Reban.

Semenjak tanggal 21 Juni 2026, Gilang rutin menyambangi rumah-rumah di lokasi tersebut. Tak jarang ia menembus kabut tebal dan hawa dingin demi bertemu warga yang menjadi sasaran sensus.

Sebagai penanggung jawab kegiatan Sensus Ekonomi di Kecamatan Reban, ia harus memastikan beberapa petugas survei datang tepat waktu untuk berkoordinasi dengan perangkat desa setempat.

Jarak Dukuh Sigandu ke desa lainnya yang lebih dari sejam tak menyurutkan mental para petugas untuk berjibaku menyambangi rumah-rumah warga.

Sejumlah anggota Mantis bahkan membantu BPS meningkatkan pemahaman bagi masyarakat melalui medsos akan pentingnya mengikuti Sensus Ekonomi.

BPS Batang juga memanfaatkan komunitas Mantis untuk merekrut para petugas survei. 

"Maka dari itu dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi tahun ini ada ratusan anggota Mantis bertugas jadi petugas survei di lima kecamatan. Tentu peran aktif mereka manfaatnya sangat tinggi. Terbukti warga di Dukuh Sigandul antusias mengikuti sensus. Sebaliknya ketika di medsos muncul kabar ada petugas mundur atau mengeluh kelelahan, mereka juga aktif memberi semangat," urainya.

IMG-20260731-WA0077.jpg
Seorang petugas Sensus Ekonomi menemui salah satu waega difabel yang memiliki usaha mikro di Dukuh Sigandul Kecamatan Reban Kabupaten Batang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Kepala BPS Kabupaten Batang, Heni Djumadi berkata di Dukuh Sigandul terdapat tujuh petugas yang rutin melakukan survei untuk kebutuhan Sensus Ekonomi 2026.

"Kanan kiri jalan dukuhnya jurang. Saya pernah perjalanan dari alun-alun Batang ke Sigandul jaraknya 50 kilometer lebih. Jalannya tidak bisa dilewati mobil. Maka saat itu saya naik trail bareng teman-teman petugas. Dan waktu saya meninjau kesana, petugas sensusnya ada tujuh orang. Nyatanya selama dilakukan sensus, respon warganya benar-benar luar biasa," ujarnya kepada IDN Times, sembari mengenang perjalanan menuju Dukuh Sigandul.

Ia menyebut Batang cenderung memiliki topografi wilayah yang terbagi tiga klaster. Klaster pertama merupakan Kawasan pesisir pantai. Klaster kedua berupa perbukitan nan sejuk seperti Kecamatan Wonotunggal. Kemudian klaster ketiga ialah daerah pegunungan dengan akses yang sulit dijangkau macam wilayah Kecamatan Reban dan sekitarnya.

Jumlah penduduk Kabupaten Batang yang menjadi sasaran program Sensus Ekonomi lebih dari 900.000 jiwa. Sedangkan sektor usaha kecil dan mikro yang menjadi target Sensus Ekonomi sebanyak 412.568 unit.

"Pelaku usaha mikro yang sudah disensus 73,27 persen atau sebanyak 261.000," tuturnya.

Sedangkan di sektor industri skala besar termasuk di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) yang menjadi titik sasar Sensus Ekonomi sebanyak 252 unit. Kabar gembira pun datang dari petugas bahwa kegiatan sensus di KITB sejak 18 Juli sampai sekarang telah rampung 100 persen. 

"Dan sepertinya Kabupaten Batang menjadi wilayah pertama di Indonesia yang selesai mengerjakan Sensus Ekonomi di kawasan industri," tegasnya.

IMG-20260731-WA0078.jpg
Petugas Sensus Ekonomi menemukan dua anak yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah di Dukuh Sigandul Kecamatan Reban Kabupaten Batang. (IDN Times/BPS Batang)

Dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 para petugas berhasil menemukan warga berusia 103 tahun, beberapa disabiltas yang tekun menggeluti usaha mikro serta pelaku usaha kecil dan mikro yang memiliki daya juang tinggi meningkatkan taraf hidup masyarakat.

"Sensus Ekonomi ini tidak hanya untuk BPS tetapi bagi investasi. Sehingga program yang dilaksanakan saat ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pajak. Ini semata untuk mendukung perhitungkan statistik bidang ekonomi agar pemerintah mengetahui laju pertumbuhan ekonomi masing-masing kabupaten/kota," paparnya.

"Salah satunya juga supaya kami mendapat mitigasi daerah daerah yang ada stunting dan membantu sektor usaha mikro. Tentunya bisa membantu ekonomi menjadi tumbuh. Dari kegiatan sensus bisa mengangkat potensi usaha mikro di Batang," tambahnya.

IMG_20260731_204645.jpg
Para petugas dan jajaran BPS Batang foto bersama dengan latar tulisan selamat datang tol Tayangan Sigemplong. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Berdasarkan data terbaru BPS Jateng per Kamis 30 Juli 2026, jumlah responden yang  telah didata petugas sebanyak 12,9 juta jiwa. Atau mencapai 76 persen.

Sementara total sektor industri besar yang terdata dalam Sensus Ekonomi Jawa Tengah mencapai 7.884 unit serta pelaku UMKM sebanyak 4,86 juta.

BPS Jateng mencatat progres kegiatan Sensus Ekonomi tiap hari menunjukan hasil semakin bagus.

"Karena ada penambahan jumlah responden 1,6 persen per hari. Sehingga untuk bulan ini target kami sudah melampaui target dari BPS pusat. Apabila BPS pusat memasang target 61 persen, untuk rata-rata kabupaten/kota telah melakukan kegiatan Sensus Ekonomi sebesar 76 persen," ujar Kepala BPS Jawa Tengah, Ali Said saat berbincang dengan IDN Times secara terpisah.

Bahkan untuk pelaksanaan Sensus Ekonomi bulan Agustus nanti pihaknya tinggal mengerjakan peningkatan kualitas responden. "Kita perlu cek kembali untuk perbaikan data ke lapangan. Terutama untuk verifikasi. Masih punya dua minggu untuk menjaga kualitas data yang dihasilkan," terangnya.

Terkait tantangan topografi wilayah seperti Kabupaten Batang, Ali melakukan strategi dengan mengerahkan komunitas untuk memasifkan kegiatan Sensus Ekonomi di satu titik yang sulit dijangkau.

Ia pun optimistis strategi pelibatan komunitas masyarakat bisa mengatasi kendala akses kewilayahan.

"Untuk mendata tempat usaha pinggir jalan di Batang, petugas serentak datang bareng-bareng untuk mempercepat pendataan usaha. Dengan beramai-ramai maka tidak ada yang luput untuk disurvei," tutur Ali.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More