Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Penari Berhijab hingga Tok Panjang Ramaikan Mooncake Festival Semarang

Kota Semarang
3 min read
Penari Berhijab hingga Tok Panjang Ramaikan Mooncake Festival Semarang
Kemeriahan Mooncake Festival 2026 di halaman Kelenteng Tay Kak Sie, kawasan Pecinan Semarang, Kamis (24/9/2026). (IDN Times/bt/Anggun P)
  • Mooncake Festival 2026 di Kelenteng Tay Kak Sie Semarang dibuka dengan Tari Kipas Batik Semarang oleh penari berhijab, menampilkan perjumpaan beragam tradisi dan komunitas.

  • Pemkot Semarang memandang Pecinan sebagai ruang budaya hidup dan berencana menata Gang Baru serta mengembangkan Pasar Semawis sebagai wisata budaya tanpa menghilangkan karakter kawasan.

  • Festival menghadirkan pertunjukan imersif kisah Cheng Ho, kegiatan sosial, dan Tok Panjang; tradisi kue bulan dimaknai sebagai simbol keutuhan serta persatuan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Semarang, IDN Times - Penari berhijab membawakan Tari Kipas Batik Semarang menjadi salah satu pemandangan menarik dalam pembukaan Mooncake Festival 2026 di halaman Kelenteng Tay Kak Sie, kawasan Pecinan Semarang, Kamis (24/9/2026).

  1. 1. Tradisi dan budaya berbeda bertemu dalam satu ruang

    mooncake festival, pecinan, kue bulan, tionghoa
    Kemeriahan Mooncake Festival 2026 di halaman Kelenteng Tay Kak Sie, kawasan Pecinan Semarang, Kamis (24/9/2026). (IDN Times/bt/Anggun P)

    Pertunjukan tersebut menjadi gambaran bagaimana tradisi dan budaya yang berbeda dapat bertemu dalam satu ruang. Mooncake Festival yang identik dengan tradisi masyarakat Tionghoa kali ini dikemas sebagai ruang perjumpaan berbagai unsur masyarakat Kota Semarang.

    Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, keberagaman merupakan bagian dari perjalanan Kota Semarang yang terus berkembang tanpa harus meninggalkan sejarahnya.

    “Kota Semarang ini bukan sekadar bicara masa lalu. Kota ini adalah titik pertemuan antara masa lalu dan masa kini, yang akan mendorong perahu kita maju menuju masa depan,” ujarnya dalam pembukaan festival.

    Menurutnya, semangat kebersamaan menjadi penting dalam menjaga keberagaman Kota Semarang. Salah satunya terlihat dari penyelenggaraan Mooncake Festival yang tahun ini menjadi momentum untuk mempertemukan berbagai komunitas.

    “Maka saya ingin hari ini kita bersama-sama menjadi satu,” katanya.

  2. 2. Pecinan ruang budaya yang masih hidup

    mooncake festival, pecinan, kue bulan, tionghoa
    Kemeriahan Mooncake Festival 2026 di halaman Kelenteng Tay Kak Sie, kawasan Pecinan Semarang, Kamis (24/9/2026). (IDN Times/bt/Anggun P)

    Agustina juga menilai, kawasan Pecinan tidak tepat jika hanya dipandang sebagai kawasan lama yang identik dengan bangunan dan tradisi masa lalu. Baginya, Pecinan merupakan ruang budaya yang masih hidup karena aktivitas masyarakat, kuliner, perdagangan hingga berbagai tradisi yang terus berlangsung.

    “Kalau orang dulu melihat Pecinan sebagai kawasan yang kuno, tapi saya melihat sisi yang berbeda. Saya melihat ada keindahan, keakraban, keasyikan, dan gotong royong,” tuturnya.

    Pemkot Semarang, lanjut Agustina, akan mendorong penataan kawasan Gang Baru dan pengembangan Pasar Semawis sebagai bagian dari destinasi wisata budaya.

    Penataan tersebut diarahkan tetap mempertahankan karakter asli kawasan, termasuk kehidupan masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari identitas Pecinan.

  3. 3. Sejarah Cheng Ho dibawa ke generasi muda

    Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok kawasan Pecinan Kota Semarang. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
    Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok kawasan Pecinan Kota Semarang. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

    Upaya mempertemukan sejarah dengan kehidupan masa kini juga terlihat dalam rangkaian Mooncake Festival 2026.

    Salah satunya melalui pertunjukan imersif yang mengangkat kisah Laksamana Cheng Ho. Sejarah dikemas melalui pendekatan visual dan teknologi sehingga dapat dinikmati dengan cara yang lebih dekat dengan generasi muda.

    Konsep tersebut membuat festival tidak hanya menghadirkan tradisi, tetapi juga menjadi medium untuk mengenalkan kembali sejarah dan budaya Semarang melalui pendekatan yang lebih kekinian.

    Semangat kebersamaan juga diwujudkan melalui sejumlah kegiatan sosial. Agustina bersama penyelenggara membagikan paket sembako dan nasi kotak kepada warga di sekitar Kelenteng Tay Kak Sie.

    Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan tradisi Tok Panjang, yakni jamuan makan bersama yang mempertemukan warga, pengurus kelenteng, serta jajaran pemerintah dalam satu meja panjang.

  4. 4. Kue bulan simbol keutuhan dan persatuan

    mooncake festival, pecinan, kue bulan, tionghoa
    Kemeriahan Mooncake Festival 2026 di halaman Kelenteng Tay Kak Sie, kawasan Pecinan Semarang, Kamis (24/9/2026). (IDN Times/bt/Anggun P)

    Menurut Agustina, tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga interaksi antar orang.

    “Tok Panjang adalah tradisi jamuan yang dinikmati bersama. Hidangannya juga tidak boleh terlalu banyak, karena justru hidangan inilah yang akan membuat kita bercerita dan berbincang,” ujarnya.

    Sementara, Ketua Panitia Mooncake Festival 2026 sekaligus Ketua Yayasan Kelenteng Tay Kak Sie, Tanto Hermawan mengatakan, perayaan kue bulan merupakan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kue bulan berbentuk bulat memiliki makna keutuhan dan persatuan.

    “Kue bulan yang berbentuk bulat melambangkan keutuhan dan persatuan, semangat yang kami harapkan dapat terus kami jaga dalam kerukunan, keharmonisan, dan kebersamaan,” katanya.

    Mooncake Festival 2026 diselenggarakan melalui gotong royong Sahabat Tionghoa Kota Semarang. Penyelenggara menyebut kegiatan tersebut digelar tanpa menggunakan APBD Kota Semarang.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More