Semarang, IDN Times - Belasan bahkan puluhan personel Manggala Agni yang bernaung di bawah Ditjen Gakkum Kementerian Kehutanan (Kemenhut) meningkatkan kesiapsiagaan terhadap resiko bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kesiapsiagaan dilakukan dengan menggelar serangkaian simulasi pemadaman kebakaran di kawasan Cagar Alam Darupono Kendal.
Proses simulasi dikerjakan bersama tim teknis BKSDA Jateng.
Sejumlah tim dari unit konservasi Cagar Alam Darupono memperkuat pengenalan peralatan pemadaman kebakaran hutan. Yang berupa garu, sekop, kapak dan beberapa tongkat pemadam serta truk Damkarhut.
Sehingga keterampilan para personel Manggala Agni semakin meningkat dalam menghadapi kejadian karhutla yang belakangan marak.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Dyah Sulistyari mengatakan pihaknya perlu memberikan pembekalan yang menyeluruh agar personel Manggala Agni siap siaga menghadapi bahaya karhutla.
"Masing-masing personel yang dibuat kelompok 15 orang setiap hari per siftpatroli ke areal hutan konservasi untuk mendeteksi potensi kebakaran. Jadinya mereka bisa meminimalisir resiko kebakaran," kata Dyah kepada IDN Times, Kamis (24/9/2016).
Pembekalan juga dilakukan dengan melatih personel Manggala Agni membuat sekat bakar.
Setiap personel membuat sekat bakar dari ranting-ranting pohon di hutan konservasi Darupono.
Pembuatan sekat bakar selama kemarau dimanfaatkan untuk menanggulangi titik hotspot yang beresiko menimbulkan percikan api di areal hutan dan lahan.
Dyah menjelaskan pembuatan sekat bakar juga efektif menggantikan bahan air apabila di lokasi hutan dan lahan minim sumber air.
"Jadi sekat bakar ini sangat efektif sebagai sarana memadamkan api. Sehingga ketika percikan api muncul di hutan khususnya hutan konservasi, sekat ini bisa digunakan agar apinya tidak melompat ke areal sebelahnya," tuturnya.
Lebih jauh lagi, pihaknya memprediksi kawasan hutan konservasi memiliki kerentanan kebakaran yang tinggi lantaran cakupannya yang luas. Terlebih lagi hutan konservasi memiliki vegetasi pohon keras macam jati, trembesi, pule, winong dan sejenisnya.
