Siaga Karhutla Jateng, Para Babinsa Dikerahkan Patroli Semak-semak

- Kodam IV Diponegoro mengerahkan Babinsa ke kawasan hutan dan lahan dekat permukiman di Jawa Tengah untuk meningkatkan kesiapsiagaan karhutla selama musim kemarau.
- Babinsa melakukan patroli, deteksi dini, edukasi warga agar tidak membakar lahan atau sampah, serta melaporkan kepulan asap dan titik api secepatnya.
- Hingga 23 Agustus 2026, Jawa Tengah mencatat 232 karhutla yang berdampak pada sekitar 194 hektare lahan dan 213 hektare kawasan hutan.
Semarang, IDN Times - Kodam IV Diponegoro Semarang meningkatkan kesiapsiagaan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan mengerahkan semua babinsa ke setiap titik kawasan hutan.Â
Sejumlah babinsa diterjunkan ke semua areal hutan dan lahan yang bersentuhan dengan pemukiman padat penduduk. Kesiapsiagaan dilakukan menyusul meningkatnya kerawanan kebakaran selama musim kemarau.Â
"Upaya pencegahan juga dilakukan melalui komunikasi sosial dan edukasi kepada masyarakat," kata Pangdam Diponegoro, Mayjen TNI Achirudin Darojat dalam keterangan yang diterima IDN Times, Jumat (28/8/2026).Â
Pihaknya berkata setiap Babinsa ditugaskan mengingatkan warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.Â
Babinsa juga wajib memantau kegiatan warga agar tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan serta segera melaporkan apabila menemukan kepulan asap maupun titik api.Â
Pendekatan dengan warga menjadi penting karena sebagian kebakaran berawal dari aktivitas manusia yang tidak terkendali, terutama ketika kondisi lahan sangat kering.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan, Kodam Diponegoro menyiagakan personel dan peralatan pemadaman cepat melalui jajaran satuan kewilayahan guna mendukung pemerintah daerah dan BPBD.Â
Kekuatan diprioritaskan untuk membantu menangani titik api di kawasan hutan, lahan kering, perbukitan maupun medan ekstrem yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.
Bersamaan dengan itu, Kodim, Koramil dan Babinsa memperkuat patroli serta deteksi dini bersama BPBD, Polri, Perhutani, Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan dan masyarakat. Kesiapan pemadaman awal serta koordinasi penyediaan armada air terus diperkuat di wilayah kabupaten/kota yang memiliki potensi Karhutla.Â
Pihaknya kini memperkuat patroli dan pemantauan kawasan rawan, khususnya hutan, lahan pertanian, perkebunan, semak belukar, lereng pegunungan yang memiliki potensi kebakaran.Â
Babinsa yang berada langsung di tengah masyarakat menjadi unsur penting dalam melakukan pemantauan kondisi wilayah sekaligus membangun komunikasi dengan perangkat desa dan masyarakat.
Di wilayah pertanian dan perkebunan, satuan kewilayahan memperkuat komunikasi dengan petani dan masyarakat untuk mencegah pembakaran. Sementara di kawasan hutan, perhatian diarahkan pada patroli, pengawasan aktivitas masyarakat serta deteksi terhadap kepulan asap sejak dini.
Dengan pola tersebut, ketika titik api terdeteksi, unsur terdekat dapat segera bergerak melakukan pengendalian, pemadaman dan pendinginan sebelum api berkembang lebih luas.
Kesiapan tersebut telah diterapkan dalam penanganan berbagai kejadian Karhutla di wilayah jajaran, antara lain Pati, Brebes, Kendal, Blora, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri hingga Gunungkidul.Â
Hingga 23 Agustus 2026, tercatat 232 kejadian karhutla di Jawa Tengah yang berdampak terhadap sekitar 194 hektare lahan dan 213 hektare kawasan hutan. Sementara di DIY, hingga 26 Agustus tercatat 46 kejadian kebakaran lahan dan hutan dengan luas terdampak sekitar 45,97 hektare.Â





















