Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jateng Telan Kerugian Rp1,7 Miliar Akibat Dampak Karhutla

Kota Semarang
Jateng Telan Kerugian Rp1,7 Miliar Akibat Dampak Karhutla
Ilustrasi karhutla di Sumsel (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • BPBD Jawa Tengah mencatat kerugian materiil akibat kebakaran hutan dan lahan mencapai Rp1,7 miliar, sementara 281 kebakaran permukiman dan gedung menimbulkan kerugian Rp31,7 miliar.
  • Sepanjang 1 Januari hingga 9 Agustus 2026, terjadi 166 karhutla yang menghanguskan 306 hektare di 32 kabupaten/kota, terutama Grobogan, Blora, dan Sragen.
  • Lahan perkebunan tebu mendominasi area terbakar; pembakaran pascapanen oleh petani turut berkontribusi, sedangkan medan geografis menyulitkan relawan membawa sarana pemadaman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengalami kerugian dari dampak kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencapai miliaran rupiah. Jumlah kerugian yang lebih besar muncul dari kebakaran pemukiman dan gedung. 

Kepala BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan mengungkapkan, berdasarkan hasil pemetaan dampak karhutla, diperkirakan nilai kerugian materiil mencapai Rp1,7 miliar. 

Sedangkan untuk kebakaran permukiman dan gedung yang berjumlah 281 kejadian. Untuk kerugian mencapai Rp31,7 miliar.

"Kerugian untuk hutan lahan ini sebesar Rp1,7 miliar. Kalau gedung sama permukiman yang kebakaran kerugiannya sampai Rp31,7 miliar," tutur Bergas kepada IDN Times, Rabu (19/8/2026). 

Bergas menjelaskan areal hutan dan lahan yang terkena imbas kebakaran selama musim kemarau panjang tahun ini dari data BPBD Jateng seluas 306 hektare. 

Secara rinci, katanya jumlah kejadian karhutla sepanjang Januari-9 Agustus 2026 kemarin sebanyak 166 kali. Di samping itu, karhutla telah melanda 32 kabupaten/kota yang mana wilayah Pantura Timur yang kerap mengalami kebakaran hutan dan lahan. Seperti Kabupaten Grobogan, Kabupaten Blora, dan Kabupaten Sragen. 

Spot-spot kebakaran juga terpantau di kawasan Pantura seperti Pemalang, serta wilayah pegunungan dan dataran tinggi seperti Magelang, Klaten, dan Karanganyar.

Lahan yang kerap terbakar, lanjutnya didominasi areal perkebunan tebu. Perilaku para petani tebu yang sering membakar lahan pasca panen turut berkontribusi menimbulkan maraknya kebakaran lahan belakangan ini. 

"Ada Grobogan, Blora, Sragen, itu yang paling banyak," katanya. 

Agar dapat menangani karhutla, pihaknya membagi fokus penanganan sesuai dengan jenis kejadiannya.

Mengenai kendala operasional saat pemadaman, Bergas mengakui adanya hambatan letak geografis, meski hal tersebut tidak menyurutkan pergerakan tim relawan di lokasi.

"Kendalanya sebetulnya, kalau sarpras pasti ya, tapi sarpras itu sendiri dibawa ke lokasi titik tertentu pun juga ada kesulitan karena medannya," ungkapnya.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More