Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jateng Dilanda Karhutla, 947,96 Hektare Hutan Ludes Terbakar

Kota Semarang
Jateng Dilanda Karhutla, 947,96 Hektare Hutan Ludes Terbakar
Proses pemadaman karhutla di Sumsel (Dok: Manggala Agni)
  • Karhutla di Jawa Tengah selama Januari-Juli 2026 mencapai 947,96 hektare, meningkat dalam tren sejak 2023 di tengah kemarau panjang dan siklus El Nino moderat.
  • Kebakaran mencakup 450,47 hektare kawasan hutan negara dan 497,49 hektare sawah serta perkebunan warga; sejumlah hutan produksi terdampak berada di wilayah Perhutani.
  • Pemicu utama meliputi serasah jati mudah terbakar, pembukaan lahan, dan pembakaran pascapanen tebu; DLHK mengerahkan 161 MMP serta 46 kelompok MPA untuk edukasi warga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Semarang, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Jawa Tengah selama kemarau panjang 2026. Munculnya siklus El Nino ditambah adanya kemarau membuat jumlah kawasan hutan yang terdampak karhutla mengalami peningkatan.

"Kalau melihat grafikmya semenjak tahun 2023 kemudian masuk tahun Januari sampai Juli tahun ini, tren kebakaran hutan kembali meningkat," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah, Heru Djatmika kepada IDN Times, Rabu (19/8/2026).

  1. Hutan lindung yang kena karhutla ratusan hektare

    Heru Djatmika, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah, dalam potret untuk dokumentasi.
    Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah, Heru Djatmika. (IDN Times/Fariz Fardianto)

    Ia menyampaikan dari periode Januari 2026-31 Juli 2026 tercatat luasan hutan yang mengalami kebakaran mencapai 947,96 hektare.

    Dari luasan hutan tersebut, terdapat kawasan hutan negara yang terdampak karhutla seluas 450,47 hektare. 

    Sebagai rinciannya hutan lindung yang terdampak karhutla seluas 345,97 hektare, hutan produksi terbatas terdampak karhutla seluas 19,57 hektare serta hutan lindung terdampak karhutla seluas 84,93 hektare.

    "Diluar itu masih ada lahan sawah dan  perkebunan milik warga yang mengalami kebakaran sekitar 497,49 hektare," ungkapnya.

    Lebih lanjut lagi, sejumlah hutan produksi yang mengalami kebakaran selama kemarau panjang tahun ini mayoritas berada di wilayah Perhutani meliputi KPH Surakarta, KPH Blora, KPH Kebonharjo, KPH Balapurang, KPH Semarang, KPH Mantingan dan KPH Randublatung.

  2. Karhutla disebabkan gesekan serasah jati dan ulah petani

    (Tim Satgas Karhutla Kabupaten PALI saat berupaya memadamkan api) IDN Times/istimewa
    (Tim Satgas Karhutla Kabupaten PALI saat berupaya memadamkan api) IDN Times/istimewa

    Ditegaskannya bahwa kebakaran hutan kerap terjadi karena ulah masyarakat yang melakukan pembukaan lahan baru.

    Kebakaran hutan selain ditimbulkan dari gesekan serasah pohon jati seperti di Randublatung Blora, katanya ada juga kebakaran yang disebabkan perilaku masyarakat yang sering membuka lahan untuk kebutuhan pakan ternak

    Pemicu karhutla lainnya karena ulah para petani tebu yang sengaja membakar lahan pasca kegiatan panen.

    "Sebetulnya titik rawan kebakaran sekarang itu ada di areal hutan-hutan jati. Karena serasah jati memang gampang terbakar. Tetapi bisa juga dibakar juga oleh masyarakat untuk kebutuhan lahan pakan ternak, terus buat nyari lahan kliring. Ya mustinya kalau membakar dengan cara terkendali ya tidak masalah tapi persoalannya banyak yang merembet ke lain lain. Petani tebu juga sering membakar lahan setelah panen. Padahal yang panen hanya satu petak," urainya.

  3. Libatkan ratusan mitra Polhut untuk edukasi ke masyarakat

    Polhut TNBG menangkap pelaku pertambangan ilegal pada Mei 2022. (Dok TNBG)
    Polhut TNBG menangkap pelaku pertambangan ilegal pada Mei 2022. (Dok TNBG)

    Dengan kondisi kemarau yang bersamaan dengan siklus El Nino dengan kekuatan moderat, menurutnya masyarakat perlu mewaspadai potensi kebakaran.

    "Jangan membuat kegiatan yang menimbulkan kebakaran lebih besar. Kalau bisa harus terkendali agar tidak meluas," tegasnya.

    Heru juga menekankan DLHK Jawa Tengah mengerahkan 161 Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan 46 kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) guna menyosialisasikan bahaya kebakaran hutan dan lahan di dekat pemukiman penduduk. 

    "MMP dan MPA ini perannya penting untuk mengedukasi warga supaya menghentikan pembakaran lahan. Meskie tidak bisa menyalahkan petani sepenuhnya tetapi upaya membakar lahan sangat bahaya apalagi dengan kondisi kemarau seperti sekarang," pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More