Di Semarang, satu jaringan bisnis kuliner menghidupkan dapurnya dengan dua sumber energi berbeda. Gerai Portobello di Jalan Halmahera mengandalkan jaringan gas bumi PGN sejak 2020, sementara dapur pusatnya di kawasan perbukitan Setiabudi masih bertahan dengan tabung elpiji. Di balik penghematan tagihan bulanan, perbedaan pilihan energi ini memperlihatkan realitas transisi energi di sektor komersial. Yakni modal awal, skala produksi dapur, dan jangkauan infrastruktur menentukan batas keekonomian gas bumi.
Satu Usaha, Dua Jenis Api: Ujian Keekonomian Gas Pipa di Dapur Portobello

Portobello Halmahera memakai gas pipa PGN sejak 2020, dengan modal instalasi sekitar Rp6 juta dan penghematan tagihan bahan bakar 30–40 persen dibanding elpiji.
Dapur pusat Portobello di Setiabudi tetap menggunakan elpiji karena konsumsi gas lebih rendah dan jaringan pipa belum tersedia di kawasan perbukitan tersebut.
PGN mencatat pelanggan di tujuh wilayah tumbuh sekitar 25 persen pada 2024–2025, namun perluasan gas pipa terkendala jangkauan jaringan serta biaya instalasi awal pelanggan.
Semarang, IDN Times — Bagi Rizky Ayudya (30), perbedaan antara elpiji (liquefied petroleum gas/LPG) dan gas bumi yang paling terasa di ujung jarinya adalah saat memutar pemantik kompor. Dulu, ketika dapur restoran tempatnya bekerja masih bergantung pada deretan tabung elpiji, semburan api terkadang melemah saat isi tabung menipis. Sejak pipa kuning jaringan gas bumi terpasang di dinding dapurnya pada 2020, satu rutinitas fisik langsung terpangkas.
"Kalau pakai PGN, tinggal putar keran, api langsung menyala stabil," kata Rizky kepada IDN Times, Rabu (12/8/2026).
Sebelas tahun bekerja di depan tungku jaringan restoran Portobello membuat Rizky hafal betul ritme dapur. Perbedaan performa kedua bahan bakar itu paling kentara ketika ia mengaduk nasi goreng di atas kompor bertekanan tinggi (high pressure). Tekanan gas pipa yang konstan membuat suhu panas lekas memuncak. Sebaliknya, pada pemanggangan piza yang menjadi hidangan andalan restoran, peralihan sumber energi itu tak mengubah tekstur panggangan.
Bagi pelanggan yang menyantap hidangan di ruang makan berpendingin udara, jenis bahan bakar di balik dinding dapur tentu tak menjadi soal. Namun, di dapur Portobello Jalan Halmahera, Semarang Timur, pasokan api adalah penopang utama operasional. Setiap hari, dapur itu menyiapkan lebih dari 100 pilihan menu melalui enam tungku kompor standar, dua tungku bertekanan tinggi, dan satu unit oven besar.
Kebutuhan energi sebesar itu langsung tercatat dalam pembukuan keuangan restoran. Mulai dari belanja bahan bakar rutin, modal instalasi awal, biaya perawatan alat, hingga risiko terhentinya layanan jika pasokan tersendat. Pertimbangan itulah yang mendorong manajemen Portobello Halmahera meninggalkan tabung elpiji 50 kilogram (kg) dan beralih ke jaringan gas bumi PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) selaku Subholding Gas Pertamina pada 2020, setahun setelah gerai tersebut beroperasi.
Namun, peralihan energi itu baru diterapkan di Halmahera. Di kawasan Setiabudi, Kecamatan Banyumanik—wilayah perbukitan di Semarang bagian selatan—dapur terpusat (central kitchen) milik perusahaan yang sama masih memakai tabung elpiji 50 kg. Bahkan, gerai PB—lini usaha baru Portobello di lokasi yang sama—masih menggunakan elpiji 12 kg.
Keputusan berbeda di bawah satu manajemen tersebut menunjukkan bahwa transisi bahan bakar di sektor komersial sangat bergantung pada karakteristik tiap lokasi usaha. Pengalaman Portobello memunculkan pertanyaan bisnis yang mendasar: pada titik mana gas pipa menjadi investasi yang menguntungkan bagi sebuah restoran, dan mengapa keunggulannya belum tentu berlaku di dapur lain, bahkan yang satu kota?
Modal Rp6 Juta dan Hitungan Balik Modal

Finance and HR Leader PT Portobello, Ayang Ardiana Susilowati. (IDN Times/Dhana Kencana) Pemimpin Keuangan dan Sumber Daya Manusia (Finance and HR Leader) PT Portobello, Ayang Ardiana Susilowati (30), masih mengingat jelas diskusi manajemen ketika PGN menawarkan sambungan gas bumi untuk gerai Halmahera pada 2020. Saat itu, jalur pipa distribusi memang sudah melintas di sekitar kawasan tersebut.
Perempuan yang akrab disapa Nana itu memandang, tawaran tersebut sebagai langkah untuk menekan biaya operasional jangka panjang.
"Kami hitung ulang. Walaupun ada biaya pemasangan di muka, pengeluaran bulanan ke depannya jauh lebih ringan dibandingkan terus membeli elpiji," ujar Nana saat ditemui di gerainya.
Untuk menyambung layanan tersebut, Portobello mengeluarkan modal awal sekitar Rp6 juta untuk memasang instalasi pipa dalam (internal piping) di gerai Halmahera. Bagi arus kas restoran, belanja modal (capital expenditure) tersebut cepat tertutup oleh penurunan tagihan bulanan.
Nana memperkirakan, belanja bahan bakar di dapur Halmahera saat ini turun 30 hingga 40 persen sejak beralih ke gas pipa. Kini, saat kunjungan pelanggan sedang padat, tagihan PGN di gerai yang mempekerjakan 12 karyawan dan melayani rata-rata 30–40 transaksi per hari itu berkisar Rp1,2 juta per bulan. Pada bulan-bulan yang lebih lengang, tagihannya turun ke rentang Rp800 ribu hingga Rp1 juta.
Sebelum tersambung pipa PGN, Nana menaksir, dapur Halmahera menghabiskan delapan hingga sembilan tabung elpiji per bulan, dengan total pengeluaran yang ia ingat berkisar Rp3 juta. Karena arsip pembelian tahun 2019 tidak lagi tersimpan, perbandingan biaya kedua bahan bakar itu dapat diuji melalui simulasi harga pasar saat ini.
Sebagaimana diketahui, di pasar komersial Semarang, harga isi ulang satu tabung elpiji 50 kg nonsubsidi berada di kisaran Rp850 ribu hingga Rp950 ribu. Dengan harga tersebut, anggaran Rp3 juta per bulan setara dengan pemakaian sekitar tiga hingga empat tabung 50 kg (150–200 kg elpiji), atau merujuk pada kombinasi pemakaian tabung 12 kg pada tingkat harga tahun 2019.
Sebaliknya, jika mengacu pada taksiran volume delapan tabung 50 kg (400 kg elpiji) per bulan untuk menyalakan delapan tungku dan satu oven besar, belanja elpiji restoran itu dapat menembus Rp6,8 juta hingga Rp7,6 juta per bulan pada harga saat ini.
Dibandingkan dengan tagihan PGN yang maksimal Rp1,2 juta per bulan pada masa ramai, penghematan di dapur Portobello Halmahera terlihat nyata. Bahkan dengan asumsi konservatif bahwa belanja elpiji sebelumnya berkisar Rp2 juta hingga Rp3 juta per bulan, selisih penghematan Rp800 ribu hingga Rp1,8 juta per bulan sudah mampu menutup modal instalasi Rp6 juta (payback period) dalam waktu sekitar tiga hingga tujuh bulan operasional.
Selain menghemat kas, jaringan pipa memangkas pekerjaan fisik di dapur. Karyawan tidak perlu lagi memantau sisa gas, memesan tabung ke agen, menyediakan ruang penyimpanan khusus, ataupun mengangkat tabung baja dengan bobot isi 50 kg.
Kepraktisan itu pula yang membuat manajemen tetap mengandalkan gas pipa, sembari menyiapkan prosedur mitigasi pasokan. Pada masa awal peralihan, dapur Halmahera sempat mempertahankan instalasi ganda (dual-fuel setup) agar tabung elpiji cadangan bisa segera dipasang jika aliran gas pipa terhenti. Skenario cadangan itu sempat terpakai pada 2022 ketika pasokan PGN mengalami gangguan singkat.
"Terakhir ada kendala pasokan itu pada 2022. Namun, penanganannya (dari PGN) sigap," kata Nana.
Sejak peristiwa itu, pasokan gas berlangsung stabil. Sebagai prosedur standar keselamatan, karyawan diwajibkan menutup keran utama setiap kali jam operasional berakhir, melengkapi pemeriksaan berkala pada meteran dan pipa oleh teknisi PGN.
Mengapa Setiabudi Bertahan dengan Tabung?

Produk piza Portobello di Jalan Halmahera Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana) Jika investasi Rp6 juta di Halmahera mampu kembali modal dalam hitungan bulan, mengapa manajemen Portobello mempertahankan tabung elpiji di fasilitas Jalan Setiabudi Semarang? Jawabannya terletak pada dua faktor, yakni skala kebutuhan energi dapur dan belum tersedianya jaringan pipa distribusi di kawasan perbukitan Semarang.
Di Setiabudi, Portobello mengoperasikan dapur terpusat yang mengolah bahan baku mentah menjadi bahan setengah jadi (prep kitchen) sebelum didistribusikan ke gerai. Menurut Nana, aktivitas dapur pusat itu hanya menghabiskan satu hingga dua tabung elpiji 50 kg per bulan.
Adapun gerai PB yang beroperasi di lokasi yang sama hanya memakai tabung 12 kg mengikuti fluktuasi pesanan harian.
Dengan konsumsi satu hingga dua tabung 50 kg per bulan (sekitar Rp850 ribu hingga Rp1,9 juta pada harga pasar saat ini), dorongan ekonomi untuk memasang instalasi pipa baru di Setiabudi jauh lebih kecil dibandingkan di Halmahera. Jam nyala kompor di dapur pengolahan bahan setengah jadi tidak sepadat dapur restoran layanan penuh (full-service dining) yang harus memasak ratusan porsi hidangan setiap hari. Maka, makin rendah volume pemakaian gas, makin lama pula waktu yang dibutuhkan sebuah usaha untuk menutup biaya pemasangan awal.
Hitungan keekonomian di tingkat dapur itu bertemu dengan keterbatasan infrastruktur di lapangan. Nana mengakui hingga kini pihaknya belum pernah mendapatkan penawaran penyambungan gas pipa untuk lokasi Setiabudi.
"Di sana belum ada, sepertinya karena belum ada yang menawarkan juga," ujarnya.
Berbeda dengan kawasan Halmahera di Semarang Timur yang bertopografi datar dan sudah terintegrasi dengan jaringan distribusi gas kota, kawasan Setiabudi berada di kontur perbukitan Semarang bagian selatan yang belum terjangkau pipa distribusi utama. Tanpa jaringan pipa induk yang melintas di dekat lokasi usaha, penarikan pipa baru membutuhkan biaya investasi yang besar, baik bagi penyedia gas maupun pelaku usaha.
Tantangan Perluasan Pasar Komersial

Petugas PGN mengedukasi Finance and HR Leader PT Portobello, Ayang Ardiana Susilowati mengenai pembacaan meteran dan keamanan penggunaan gas bumi di Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana) Perbedaan kondisi antara dapur Halmahera dan Setiabudi mencerminkan tantangan yang dihadapi PGN dalam memperluas pasar komersial. Kepala Area (Area Head) PGN Semarang, Sugianto Eko Cahyono menjelaskan, pihaknya terus memperluas pemanfaatan gas bumi melalui dua jalur: perluasan jaringan pipa distribusi dan skema nonpipa (beyond pipeline).
Saat ini, wilayah kerja PGN Area Semarang mencakup Kota Semarang, Kabupaten Kendal, Batang, Demak, Blora, dan Magelang di Jawa Tengah, serta Kabupaten Sleman di Daerah Istimewa Yogyakarta. Di tujuh wilayah tersebut, PGN melayani 22.099 pelanggan dari segmen rumah tangga, usaha kecil dan menengah (UKM), komersial, hingga industri.
Jumlah pelanggan itu tumbuh sekitar 25 persen sepanjang 2024–2025, didorong oleh perkembangan kawasan industri dan ekonomi di koridor Semarang, Demak, Kendal, hingga Batang. Sugianto menyebut sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) sebagai pasar potensial karena memiliki pola konsumsi energi yang rutin. Secara rata-rata, pelanggan usaha dapat menghemat biaya energi hingga 30 persen dibandingkan menggunakan gas tabung—angka yang sejalan dengan penurunan tagihan di dapur Portobello Halmahera.
Untuk terhubung dengan layanan tersebut, terdapat pembagian biaya instalasi di awal (upfront capital). Setelah melalui tahapan registrasi, survei teknis, dan evaluasi keekonomian, PGN menanggung biaya penarikan pipa dari jaringan utama hingga ke meteran pelanggan. Sementara itu, biaya penyambungan dan instalasi pipa di dalam persil bangunan (internal piping) menjadi tanggungan pelanggan, bergantung pada luas bangunan dan jumlah titik kompor.
"Kendala utama yang dihadapi PGN adalah ketersediaan jaringan pipa gas yang belum dapat menjangkau semua lokasi pelaku usaha," kata Sugianto.

Petugas PGN (kiri) mengedukasi juru masak mengenai penggunaan gas bumi di dapur Portobello Halmahera Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana) Bagi PGN, penanaman pipa baru membutuhkan kepastian volume serapan pasar di suatu kawasan agar nilai investasinya layak secara bisnis. Untuk menjangkau lokasi yang belum dilewati jalur pipa, PGN menyediakan layanan GasLink berbasis gas alam terkompresi (compressed natural gas/CNG) yang diangkut menggunakan tabung atau truk skid. Namun, karena skema CNG memerlukan biaya logistik dan ruang penyimpanan tabung tersendiri, layanan ini umumnya lebih sesuai bagi hotel besar atau industri pengolahan dibandingkan gerai restoran berskala menengah.
Di sisi lain, bagi pelaku UKM yang lokasinya sudah dilewati jalur pipa, ketiadaan skema cicilan atau keringanan biaya instalasi pipa dalam masih menjadi kendala tersendiri. Hingga 2026, program keringanan biaya dari PGN difokuskan pada pembebasan biaya pengaliran kembali (re-instate) bagi eks pelanggan kecil dan rumah tangga yang sempat berhenti berlangganan, sementara pendaftar baru tetap menanggung penuh biaya instalasi internal.
Tantangan modal awal dalam adopsi energi efisien ini sejalan dengan analisis Badan Energi Internasional (IEA) yang dirilis pada Maret 2026. Berdasarkan IEA Industrial Competitiveness Survey 2025 terhadap 1.000 perusahaan di 14 negara, hampir 80 persen pelaku usaha menyadari bahwa efisiensi energi mampu memperkuat daya saing biaya mereka. Namun, sekitar 40 hingga 80 persen UKM masih terkendala dalam menerapkan langkah efisiensi akibat keterbatasan modal, sumber daya manusia, dan sistem manajemen energi.
Di luar penghematan biaya operasional, peralihan dari elpiji ke gas bumi juga membawa manfaat penurunan emisi karbon. Studi Leni Herlina bersama tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (LEMIGAS) yang terbit di jurnal Environmental Pollution (Maret 2025) mencatat bahwa rata-rata faktor emisi pembakaran (Tier 2) gas bumi di Indonesia sebesar 57,64 ton COâ‚‚ per terajoule (tCOâ‚‚/TJ).
Angka itu sekitar 11,9 persen lebih rendah dibandingkan faktor emisi pembakaran elpiji yang mencapai 65,41 tCOâ‚‚/TJ.
Artinya, untuk setiap satuan energi panas yang sama yang dihasilkan di tungku Portobello Halmahera, pembakaran gas pipa melepaskan emisi karbon dioksida yang lebih rendah dibandingkan penggunaan elpiji di Setiabudi.
Nilai Sebuah Sambungan

Petugas PGN (kiri) mengecek keandalan gas bumi di tengah aktivitas dapur Portobello di Jalan Halmahera Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana) Di balik kepulan uap dapur Portobello Halmahera, Rizky tidak perlu menghitung rasio pengembalian modal atau faktor emisi karbon. Baginya, gas pipa berarti nyala kompor yang stabil saat pesanan nasi goreng menumpuk. Di ruang manajemen, Nana melihat nyala api yang sama dalam catatan keuangan: modal instalasi Rp6 juta yang telah lunas tertutup oleh penghematan tagihan bulanan.
Keputusan Portobello menggunakan pipa PGN di Halmahera sembari mempertahankan tabung elpiji di Setiabudi memperlihatkan secara nyata bagaimana transisi energi bekerja di tingkat pelaku usaha. Peralihan menuju bahan bakar yang lebih efisien dan rendah emisi baru dapat terwujud ketika skala konsumsi energi dapur bertemu dengan ketersediaan infrastruktur di depan lokasi usaha.
Bagi PGN, memperluas pasar komersial kini tidak hanya bergantung pada pasokan gas, tetapi juga pada upaya memperluas jangkauan jaringan dan menjembatani beban biaya instalasi awal bagi usaha menengah-kecil. Sebab, bagi pengelola restoran seperti Portobello, pertimbangan utamanya tetap bertumpu pada kelancaran operasional: api di tungku menyala stabil, biaya bahan bakar terkendali, dan hidangan tersaji tepat waktu.
























