Rampung 19 Bulan, Pipa Gas Bumi 302 Km Aliri Industri Batang

- Pipa gas Cirebon–Semarang (CISEM) Tahap 2 sepanjang 302 km resmi beroperasi setelah 19 bulan pembangunan, menandai rampungnya proyek strategis energi nasional di Batang, Jawa Tengah.
- Infrastruktur CISEM menghubungkan pasokan gas dari wilayah timur Indonesia hingga Laut Andaman, memperkuat integrasi sistem transmisi gas nasional dan menjamin ketersediaan energi bagi industri Jawa Tengah dan Barat.
- PGN dan Pertagas ditunjuk sebagai pengelola serta operator pipa, dengan dukungan BPH Migas dalam penetapan tarif kompetitif guna mendorong efisiensi biaya produksi dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Batang, IDN Times - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung membuka pengaliran gas perdana (gas in) pada jaringan pipa transmisi gas bumi Cirebon–Semarang (CISEM) Tahap 2. Peresmian ruas Batang–Cirebon–Kandang Haur Timur itu berlangsung di Stasiun ESDM Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Jawa Tengah, Rabu (18/3/2026).
Langkah tersebut menjadi tanda rampungnya tahap konstruksi proyek pipanisasi yang dimulai sejak first welding (pengelasan awal) oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada 30 September 2024.
1. Dukungan industri di Jawa Tengah dan Jawa Barat

Yuliot megatakan, Pipa CISEM 2 merupakan bagian dari program strategis pemerintah untuk mewujudkan kemandirian dan ketahanan energi nasional. Ketersediaan energi yang lebih stabil tersebut memberikan kepastian usaha yang lebih besar bagi kalangan industri di Jawa Tengah dan Jawa Barat.
"Proyek pipanisasi gas ini menjamin ketersediaan energi yang lebih stabil, serta memberi kepastian bagi pelaku industri dalam menghitung biaya produksi, menjaga keberlanjutan operasi, serta merencanakan investasi secara lebih terukur," katanya Yuliot di Batang.
2. Integrasi infrastruktur gas nasional

Untuk diketahui, pembangunan Pipa CISEM 2 yang membentang sepanjang 242 kilometer berhasil dirampungkan dalam kurun waktu 19 bulan. Infrastruktur tersebut melengkapi Pipa CISEM 1 (sepanjang 60 kilometer yang rampung dalam 17 bulan), sehingga total panjang jaringan CISEM mencapai 302 kilometer.
Penyelesaian pembangunan dalam waktu yang relatif singkat itu dimungkinkan berkat strategi pembagian pengerjaan beberapa ruas secara paralel. Sebelum peresmian gas in, seluruh ruas telah melewati uji teknis menyeluruh, termasuk pengujian kebocoran dengan hasil yang aman.
Adanya jaringan pipa tersebut memungkinkan wilayah Jawa Timur yang mengalami surplus pasokan gas untuk menyalurkan energinya ke wilayah dengan tingkat permintaan tinggi di Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Ke depannya, infrastruktur ini akan mengintegrasikan sumber gas dari kawasan timur Indonesia, perairan Natuna, hingga Laut Andaman ke dalam satu sistem transmisi gas nasional.
3. Dampak ekonomi dan kesiapan operator

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman mengungkapkan, keberadaan pipa CISEM sangat krusial sebagai kunci integrasi antara Pulau Jawa dan Sumatra. Integrasi ini diharapkan dapat meningkatkan porsi konsumsi gas domestik yang saat ini berada di angka 65 persen.
"Saat ini sudah ada komitmen dari beberapa konsumen yang menyatakan minatnya untuk memanfaatkan gas yang dialirkan melalui ruas pipa CISEM ini, seperti Kilang Balongan, Cikarang Listrindo Tbk, Pupuk Kujang, dan beberapa industri lain," tambah Laode.
Dari sisi operasional, PT PGN (Persero) Tbk bertindak sebagai pengelola estafet pemanfaatan gas bumi menuju jaringan distribusi pelanggan, dengan dukungan anak usahanya, PT Pertamina Gas (Pertagas), selaku operator infrastruktur transmisi.
Direktur Utama PGN, Arief Kurnia Risdianto mengatakan, operasional Pipa CISEM berpotensi besar menjangkau kawasan industri, sektor komersial, usaha kecil menengah (UKM), hingga memperluas akses jaringan gas (jargas) rumah tangga.
Sejalan dengan hal tersebut, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) tengah mempersiapkan penetapan tarif (toll fee) yang kompetitif untuk jasa pengangkutan gas bumi. Integrasi transmisi ini diharapkan mampu menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan LPG, sehingga biaya produksi industri menjadi lebih efisien demi mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.


















