Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Wajib Dicicipi! 3 Hidangan Sakral Malam 1 Suro di Solo

Wajib Dicicipi! 3 Hidangan Sakral Malam 1 Suro di Solo
Ilustrasi Bubur Suro hidangan tradisi saat Tahun Baru Hijriyah (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
Intinya Sih
  • Malam 1 Suro di Solo dirayakan dengan kirab pusaka dan sajian kuliner tradisional yang sarat makna spiritual sebagai simbol doa serta refleksi diri menyambut tahun baru Jawa 2026.
  • Tiga hidangan utama yang wajib hadir yaitu Bubur Suro sebagai lambang rasa syukur, Kue Apem sebagai simbol permohonan maaf, dan Sego Golong melambangkan persatuan serta tekad bulat masyarakat.
  • Tradisi penyajian dilakukan secara gotong royong dan makan bersama atau kembul bujana untuk mempererat silaturahmi antarwarga serta menjaga nilai kebersamaan dalam perayaan budaya sakral ini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Peringatan Malam 1 Suro di Kota Solo selalu menjadi magnet budaya yang luar biasa. Selain identik dengan ritual Kirab Pusaka di Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran, momen pergantian tahun baru Jawa di tahun 2026 ini juga tidak lepas dari kehadiran berbagai makanan dan sajian tradisional khas yang sarat akan makna spiritual.

Bagi masyarakat Jawa, kuliner yang disajikan saat Malam 1 Suro bukan sekadar pengganjal perut atau pelengkap ritual semata. Setiap suapan dan bahan yang digunakan merupakan simbol doa, harapan, serta refleksi diri untuk menyongsong tahun yang baru agar terhindar dari marabahaya (tolak bala).

Penasaran apa saja sajian tradisional yang wajib ada saat momen sakral ini? Yuk, simak ulasan makanan khas Malam 1 Suro di Solo berikut ini, Lur!

1. Bubur Suro atau Jenang Suro

Ilustrasi Bubur Suro hidangan tradisi saat Tahun Baru Hijriyah (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
Ilustrasi Bubur Suro hidangan tradisi saat Tahun Baru Hijriyah (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

Sajian pertama yang menjadi ikon utama dan paling diburu saat tahun baru Islam atau 1 Suro adalah Bubur Suro. Bubur ini memiliki cita rasa gurih yang khas karena dimasak dengan santan serta berbagai bumbu rempah seperti serai dan daun salam.

Filosofi & Lauk Pendamping: Bubur Suro disajikan dengan berbagai guntingan lauk yang meriah, mulai dari telur dadar iris, perkedel, kacang tanah goreng, sambal goreng krecek, hingga suwiran ayam. Kehadiran bubur ini melambangkan rasa syukur atas berkah rezeki melimpah dari Yang Maha Kuasa sepanjang tahun lalu.

Tradisi di Solo: Di beberapa kampung adat sekitar keraton, Bubur Suro biasanya dimasak secara gotong royong oleh warga lalu dibagikan gratis dalam acara selamatan atau kenduri menjelang malam kirab.

2. Kue Apem

ilustrasi kue apem (commons.wikimedia.org/Connie Ma)
ilustrasi kue apem (commons.wikimedia.org/Connie Ma)

Tidak hanya hadir saat tradisi Ruwahan, Kue Apem juga menjadi salah satu komponen penting dalam sesaji maupun hidangan komunal saat Malam 1 Suro di Solo. Kue tradisional berbahan dasar tepung beras dan tape singkong ini memiliki tekstur yang empuk dengan rasa manis yang lembut.

Filosofi: Kata "Apem" diyakini berasal dari serapan bahasa Arab, yaitu Afwun yang berarti pengampunan atau maaf. Disajikannya kue apem pada malam pergantian tahun adalah simbol permohonan maaf umat manusia kepada Sang Pencipta serta sesama atas segala kesalahan yang dilakukan di masa lalu.

Penyajian: Dalam ritual keraton, kue apem sering ditumpuk bersama jajan pasar lainnya sebagai bagian dari ubarampe sesaji kirab.

3. Sego Golong atau Nasi Golong

Ilustrasi tradisi malam satu Sura yang identik dengan suasana sakral, sesaji, dan refleksi diri.
Ilustrasi suasana malam satu Sura dengan sesaji, tumpeng, dan latar rumah adat Jawa. Sumber: Gemini AI

Sajian tradisional berikutnya yang kerap muncul dalam ritual doa bersama menyambut Malam 1 Suro adalah Sego Golong. Makanan ini berupa nasi putih yang dibentuk bulat sempurna sebesar bola tenis, biasanya disajikan dalam jumlah genap dan diletakkan di atas daun pisang.

Filosofi: Kata golong berarti bersatu atau menyatu. Bentuknya yang bulat melambangkan tekad yang bulat, persatuan hati (manunggaling rasa), serta kebulatan niat masyarakat untuk menjalani tahun baru dengan kebaikan.

Lauk Pendamping: Sego Golong umumnya dinikmati bersama sayur bumbu urap, ayam ingkung, dan tahu-tempe bacem setelah prosesi doa bersama selesai dilakukan oleh para sesepuh adat.

Mengonsumsi sajian khas Suro ini paling afdal dilakukan secara kembul bujana atau makan bersama-sama dari satu wadah besar (seperti tampah). Tradisi makan bersama ini bertujuan untuk meruntuhkan sekat sosial dan mempererat tali silaturahmi antarwarga, Lur!

Nah, itulah tiga hidangan tradisional penuh makna yang mengiringi kesakralan Malam 1 Suro 2026 di Solo. Jika kamu berkesempatan mengikuti atau menonton prosesi kirab di Solo nanti, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi kelezatan kuliner penuh doa ini, ya!

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono

Latest News Jawa Tengah

See More