Di Semarang, satu jaringan bisnis kuliner menghidupkan dapurnya dengan dua sumber energi berbeda. Gerai Portobello di Jalan Halmahera mengandalkan jaringan gas bumi PGN sejak 2020, sementara dapur pusatnya di kawasan perbukitan Setiabudi masih bertahan dengan tabung elpiji. Di balik penghematan tagihan bulanan, perbedaan pilihan energi ini memperlihatkan realitas transisi energi di sektor komersial. Yakni modal awal, skala produksi dapur, dan jangkauan infrastruktur menentukan batas keekonomian gas bumi.
Semarang, IDN Times — Bagi Rizky Ayudya (30), perbedaan antara elpiji (liquefied petroleum gas/LPG) dan gas bumi yang paling terasa di ujung jarinya adalah saat memutar pemantik kompor. Dulu, ketika dapur restoran tempatnya bekerja masih bergantung pada deretan tabung elpiji, semburan api terkadang melemah saat isi tabung menipis. Sejak pipa kuning jaringan gas bumi terpasang di dinding dapurnya pada 2020, satu rutinitas fisik langsung terpangkas.
"Kalau pakai PGN, tinggal putar keran, api langsung menyala stabil," kata Rizky kepada IDN Times, Rabu (12/8/2026).
Sebelas tahun bekerja di depan tungku jaringan restoran Portobello membuat Rizky hafal betul ritme dapur. Perbedaan performa kedua bahan bakar itu paling kentara ketika ia mengaduk nasi goreng di atas kompor bertekanan tinggi (high pressure). Tekanan gas pipa yang konstan membuat suhu panas lekas memuncak. Sebaliknya, pada pemanggangan piza yang menjadi hidangan andalan restoran, peralihan sumber energi itu tak mengubah tekstur panggangan.
Bagi pelanggan yang menyantap hidangan di ruang makan berpendingin udara, jenis bahan bakar di balik dinding dapur tentu tak menjadi soal. Namun, di dapur Portobello Jalan Halmahera, Semarang Timur, pasokan api adalah penopang utama operasional. Setiap hari, dapur itu menyiapkan lebih dari 100 pilihan menu melalui enam tungku kompor standar, dua tungku bertekanan tinggi, dan satu unit oven besar.
Kebutuhan energi sebesar itu langsung tercatat dalam pembukuan keuangan restoran. Mulai dari belanja bahan bakar rutin, modal instalasi awal, biaya perawatan alat, hingga risiko terhentinya layanan jika pasokan tersendat. Pertimbangan itulah yang mendorong manajemen Portobello Halmahera meninggalkan tabung elpiji 50 kilogram (kg) dan beralih ke jaringan gas bumi PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) selaku Subholding Gas Pertamina pada 2020, setahun setelah gerai tersebut beroperasi.
Namun, peralihan energi itu baru diterapkan di Halmahera. Di kawasan Setiabudi, Kecamatan Banyumanik—wilayah perbukitan di Semarang bagian selatan—dapur terpusat (central kitchen) milik perusahaan yang sama masih memakai tabung elpiji 50 kg. Bahkan, gerai PB—lini usaha baru Portobello di lokasi yang sama—masih menggunakan elpiji 12 kg.
Keputusan berbeda di bawah satu manajemen tersebut menunjukkan bahwa transisi bahan bakar di sektor komersial sangat bergantung pada karakteristik tiap lokasi usaha. Pengalaman Portobello memunculkan pertanyaan bisnis yang mendasar: pada titik mana gas pipa menjadi investasi yang menguntungkan bagi sebuah restoran, dan mengapa keunggulannya belum tentu berlaku di dapur lain, bahkan yang satu kota?
