Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Seni Merawat Hubungan Keluarga, Buku Terbaru Helmy Yahya Ungkap Sisi Lain Suksesi Bisnis

Kab. Klaten
6 min read
Seni Merawat Hubungan Keluarga, Buku Terbaru Helmy Yahya Ungkap Sisi Lain Suksesi Bisnis
Buku terbaru karya Helmi Yahya "Why Our Kids Dont Listen to us" terbitan Jendela Penerbit. (Dok Jendela Penerbit)
  • Jendela Penerbit merilis buku Helmy Yahya, Why Our Kids Don't Listen to Us?, yang membahas kesenjangan komunikasi, perbedaan perspektif, dan dinamika emosional antara orang tua serta anak.

  • Buku ini menyoroti suksesi bisnis keluarga sebagai proses yang melibatkan kepercayaan dan hubungan personal, bukan sekadar penyerahan usaha kepada generasi penerus.

  • Melalui refleksi dan panduan praktis, buku mengajak orang tua mengevaluasi pola komunikasi, mendengarkan aspirasi anak, serta memberi ruang bagi kemandirian dan pengambilan keputusan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Klaten, IDN Times - Jendela Penerbit menerbitkan buku terbaru karya Helmy Yahya berjudul Why Our Kids Don't Listen to Us? yang mengulas persoalan komunikasi antara orang tua dan anak, termasuk perbedaan sudut pandang, hubungan emosional, hingga tantangan meneruskan bisnis keluarga. Buku ini mengajak orang tua merefleksikan kembali cara mendidik, mendampingi, dan membangun hubungan dengan anak tanpa mengabaikan kebutuhan mereka untuk tumbuh mandiri.

Buku ini berangkat dari persoalan yang kerap muncul dalam keluarga: orang tua merasa telah memberikan yang terbaik, tetapi anak justru merasa tidak dipahami. Nasihat yang dimaksudkan untuk mempersiapkan masa depan anak terkadang diterima sebagai tekanan atau upaya mengendalikan pilihan hidup mereka.

Melalui Why Our Kids Don't Listen to Us?, Helmy Yahya menghadirkan pembahasan yang tidak hanya berfokus pada perilaku anak, tetapi juga mengajak orang tua melihat kembali cara mereka berkomunikasi. Perbedaan generasi, pengalaman hidup, dan harapan masing-masing pihak dapat memengaruhi cara orang tua dan anak memahami satu sama lain.

  1. Mengupas Komunikasi dan Dinamika Emosional Keluarga

    Why Our Kids Dont Listen to us belakang abu-abu.JPG.jpeg
    Buku terbaru karya Helmi Yahya "Why Our Kids Dont Listen to us" terbitan Jendela Penerbit. (Dok Jendela Penerbit)

    Salah satu persoalan utama yang diangkat dalam buku ini adalah kesenjangan komunikasi antara orang tua dan anak. Keduanya bisa memiliki niat baik, tetapi tidak selalu mampu menyampaikan atau memahami maksud satu sama lain.

    Bagi orang tua, bekerja keras, memberikan pendidikan, dan mempersiapkan masa depan anak merupakan bentuk tanggung jawab sekaligus ungkapan kasih sayang. Namun, anak mungkin memiliki pandangan, minat, dan cita-cita berbeda yang tidak selalu sejalan dengan harapan orang tua.

    Ketika perbedaan tersebut tidak dibicarakan secara terbuka, hubungan keluarga berisiko diwarnai kesalahpahaman. Nasihat dapat dianggap sebagai tuntutan, sedangkan keinginan anak untuk menentukan pilihannya sendiri bisa dipahami sebagai bentuk penolakan terhadap orang tua.

    Buku Why Our Kids Don't Listen to Us? mengajak pembaca memahami persoalan tersebut dengan melihat hubungan orang tua dan anak dari kedua sisi. Pembahasan ini menempatkan komunikasi dan kepercayaan sebagai bagian penting dalam membangun hubungan keluarga yang lebih sehat.

    Selain perbedaan cara pandang, buku ini juga menyoroti persoalan hubungan emosional, luka masa lalu yang belum terselesaikan, serta kepercayaan yang menjadi fondasi interaksi antara orang tua dan anak.

  2. Suksesi Bisnis Keluarga Bukan Sekadar Meneruskan Usaha

    QTOzG.jpg
    Helmi Yahya dan Direktur Jendelabook Yahya Yunanta. (dok Jendelabook)

    Persoalan komunikasi dalam buku ini juga berkaitan dengan tantangan suksesi bisnis keluarga. Membangun usaha membutuhkan waktu, tenaga, dan pengorbanan bertahun-tahun. Karena itu, tidak sedikit orang tua berharap anak-anak mereka dapat melanjutkan bisnis yang telah dirintis.

    Namun, keinginan tersebut tidak selalu sejalan dengan pilihan anak. Generasi penerus mungkin mempunyai minat, ambisi, atau cara pandang berbeda dalam mengelola usaha. Perbedaan ini dapat menjadi persoalan ketika orang tua menganggap keberlanjutan bisnis sebagai kewajiban anak, sementara anak ingin menentukan jalan hidupnya sendiri.

    Melalui buku terbitan Jendela Penerbit ini, Helmy Yahya membahas suksesi bisnis keluarga bukan semata-mata sebagai persoalan pergantian kepemimpinan atau penyerahan tanggung jawab usaha. Proses tersebut juga berkaitan dengan hubungan emosional, kepercayaan, serta kemampuan dua generasi untuk memahami perspektif masing-masing.

    Pengalaman Helmy Yahya mendampingi keluarga-keluarga pengusaha turut memperkaya pembahasan. Pengalaman tersebut menghadirkan pelajaran dari keberhasilan maupun kegagalan dalam menghadapi dinamika keluarga dan keberlanjutan bisnis.

    Perspektif ini menjadi salah satu aspek menarik buku Why Our Kids Don't Listen to Us?. Pembaca diajak melihat bahwa strategi bisnis, struktur organisasi, dan perencanaan suksesi saja tidak selalu cukup. Hubungan antara orang tua dan anak juga berperan dalam menentukan bagaimana proses penerusan usaha dapat berjalan.

  3. Mengubah Cara Pandang Orang Tua

    Why Kids Dont Listen To Us Cover Depan.jpg.jpeg
    Buku terbaru karya Helmi Yahya "Why Our Kids Dont Listen to us" terbitan Jendela Penerbit. (Dok Jendela Penerbit)

    Buku Why Our Kids Don't Listen to Us? tidak menempatkan orang tua atau anak sebagai pihak yang sepenuhnya benar maupun salah. Sebaliknya, buku ini mengajak keduanya memahami bahwa niat baik tidak selalu menghasilkan komunikasi yang efektif.

    Orang tua dapat merasa telah memberikan perhatian dan arahan terbaik, sementara anak merasa tidak memiliki cukup ruang untuk menyampaikan pendapat atau menentukan pilihan. Perbedaan pengalaman dan harapan tersebut membutuhkan keterbukaan agar tidak berkembang menjadi jarak emosional.

    Dalam konteks ini, salah satu pesan penting yang ditawarkan adalah perlunya orang tua mengevaluasi cara mereka mendampingi anak. Keberhasilan mendidik tidak semata-mata diukur dari kepatuhan anak terhadap keinginan orang tua, tetapi juga dari kemampuan anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.

    Orang tua perlu memahami kapan harus memberikan arahan dan kapan perlu memberi ruang bagi anak untuk mengambil keputusan. Mendengarkan bukan berarti kehilangan kewibawaan atau melepaskan tanggung jawab, melainkan membuka kesempatan untuk memahami kebutuhan dan sudut pandang anak.

    Pendekatan tersebut juga relevan dalam bisnis keluarga. Keberlanjutan usaha tidak harus dibangun dengan mengesampingkan aspirasi generasi penerus. Sebaliknya, proses suksesi dapat menjadi kesempatan bagi orang tua dan anak untuk menyelaraskan harapan, membangun kepercayaan, dan menemukan bentuk kerja sama yang sesuai.

  4. Dilengkapi Panduan Praktis

    Why Kids Dont Listen To Us Cover Belakang.jpg.jpeg
    Buku terbaru karya Helmi Yahya "Why Our Kids Dont Listen to us" terbitan Jendela Penerbit. (Dok Jendela Penerbit)

    Selain mengulas persoalan komunikasi dan dinamika emosional keluarga, Why Our Kids Don't Listen to Us? juga dilengkapi panduan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Kehadiran panduan tersebut membantu mengarahkan pembahasan agar tidak berhenti pada pemahaman mengenai masalah. Pembaca juga diajak memikirkan langkah yang dapat dilakukan untuk memperbaiki komunikasi, membangun kepercayaan, dan menciptakan hubungan yang lebih terbuka.

    Bagi orang tua yang sedang menghadapi perbedaan pandangan dengan anak, buku ini dapat menjadi bahan refleksi untuk mengevaluasi pola komunikasi dalam keluarga. Sementara itu, bagi keluarga pengusaha, pembahasannya menawarkan sudut pandang tambahan dalam mempersiapkan suksesi bisnis tanpa mengabaikan hubungan personal.

    Kekuatan buku ini terletak pada upayanya menghubungkan persoalan bisnis dan pengasuhan dengan aspek emosional yang sering kali kurang mendapat perhatian. Keberhasilan meneruskan usaha tidak hanya bergantung pada kesiapan penerus, tetapi juga pada kualitas hubungan yang dibangun selama proses tersebut.

    Pada akhirnya, Why Our Kids Don't Listen to Us? karya Helmy Yahya mengajak orang tua melihat bahwa komunikasi yang baik membutuhkan kesediaan untuk mendengarkan, bukan sekadar menyampaikan nasihat. Orang tua dan anak mungkin tidak selalu memiliki pilihan atau pandangan yang sama, tetapi keduanya tetap dapat membangun hubungan yang dilandasi rasa saling menghormati.

    Pesan yang menjadi inti refleksi buku ini sederhana: sebelum meminta anak mendengarkan orang tua, orang tua perlu lebih dahulu belajar mendengarkan anak-anak mereka. Dengan demikian, keberlanjutan bisnis dan keharmonisan keluarga tidak harus menjadi dua hal yang saling bertentangan.

  5. Jendela Penerbit Konsisten telurkan buku-buku berkualitas

    WhatsApp Image 2026-04-14 at 13.49.48.jpeg
    Direktur Jendelabook Yahya Yunanta. (IDN Times/Bandot Arywono)

    Jendela Penerbit hadir sebagai salah satu lini penerbitan indie yang fokus merespons tingginya minat masyarakat terhadap literasi kesehatan mental dan spiritual. Berada di bawah payung PT Jendela Toko Buku—jaringan ritel toko buku asal Klaten, Jawa Tengah yang telah eksis sejak 2007—penerbit ini secara konsisten menelurkan buku-buku berkualitas bertema motivasi, self-improvement, self-healing, filsafat stoikisme, hingga religi. Beberapa karya populernya yang diminati pembaca antara lain The Principles of Power karya Dion Yulianto dan Kita Beruntung dengan Caranya Masing-masing karya Vita F.

    Selain menjadi penyedia bacaan bermutu, Jendela Penerbit juga aktif menjadi wadah bagi para penulis rintisan untuk memublikasikan karya mereka. Melalui program Kirim Naskah, penerbit ini membuka kesempatan bagi penulis baru untuk mengirimkan naskah nonfiksi secara gratis tanpa biaya penerbitan. Adapun kategori naskah yang difokuskan meliputi bidang pengembangan diri (self-improvement), religi, bahasa, hingga buku anak. Langkah ini diharapkan mampu merangsang pertumbuhan penulis-penulis baru di tanah air.

    Untuk menjangkau pembaca yang lebih luas, ekosistem Jendela Penerbit kini telah terintegrasi dengan baik di ranah digital dan fisik. Selain memiliki jaringan gerai fisik di wilayah Jawa Tengah seperti Magelang, Salatiga, dan Boyolali, seluruh katalog buku mereka dapat diakses secara daring melalui situs resmi jendelabook.com serta akun Instagram @jendelapenerbit dan @jendelabook. Proses distribusi juga diperkuat lewat toko daring resmi mereka di platform Shopee dan Tokopedia, memudahkan pembaca dari seluruh Indonesia untuk mendapatkan buku secara langsung.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More