Sumpah Pemuda 2026, Kisah Haedar Jadi Relawan Sejak Bangku SD

Muhammad Haedar Ashar, mahasiswa 20 tahun asal Banyumas, mengenal kerelawanan sejak rumahnya menjadi posko puting beliung pada 2018 dan bergabung dengan MDMC pada 2021.
Saat SMA, Haedar menggalang lebih dari Rp1 juta untuk korban banjir Tambak lalu ikut evakuasi; ia juga menangani kebakaran lahan, kecelakaan, dan menghadapi risiko lapangan.
Selain respons bencana, Haedar aktif mendorong mitigasi, koordinasi lintas lembaga, serta pengelolaan sampah plastik; ia mengajak anak muda menjaga lingkungan melalui kebiasaan sederhana.
Banyumas, IDN Times - Momentum Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober meningatkan bahwa generasi muda bisa berkontribusi bagi bangsa melalui aksi nyata. Di Banyumas, Muhammad Haedar Ashar (20a tahun) memilih jalur kerelawanan dengan membantu pencegahan dan penanganan bencana sekaligus mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan.
Mahasiswa semester III jurusan Manajemen Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) ini telah mengenal dunia kebencanaan sejak duduk di bangku sekolah dasar. Pengalaman tersebut membawanya bergabung dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) pada 2021, ketika masih menjadi siswa kelas II SMA.
Kini, Haedar aktif dalam kegiatan respons cepat dan berbagai upaya mitigasi bencana. Kisahnya menjadi gambaran bahwa semangat kepemudaan dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama dan lingkungan sekitar, seperti yang Ia sampaikan kepada IDN Times, Sabtu (23/10/2026).
1. Berawal dari rumah yang menjadi posko bencana

Pengalaman berinteraksi dengan para relawan membuat Haidar tertarik mengikuti kegiatan sosial, bqhkqn kini dukungan orang tua juga lebih besar, Sabtu (23/10/2026).(IDN Times/Foto : Dok. Haedar) Ketertarikan Haedar pada dunia kerelawanan bermula pada 2018, ketika ia masih duduk di kelas VI SD. Saat itu, rumahnya digunakan sebagai posko kebencanaan setelah wilayah tempat tinggalnya di Desa Klapagading dilanda angin puting beliung.
Selama berada di lingkungan posko, Haedar melihat para relawan bekerja membantu masyarakat terdampak. Mereka datang dengan keahlian berbeda, mulai dari penyelamatan di air (water rescue), penanganan di kawasan hutan dan pegunungan, hingga pendampingan psikososial.
Pengalaman berinteraksi dengan para relawan membuat Haidar tertarik mengikuti kegiatan sosial. Ketertarikan tersebut terus berkembang hingga akhirnya ia bergabung dengan MDMC pada 2021.
Dukungan keluarga turut membantu perjalanan Haidar. Sejak SMP, ia mulai mendapatkan informasi mengenai pelatihan dan kegiatan kebencanaan yang bisa diikuti.
2. Rela meninggalkan sekolah demi membantu korban banjir

Demi bisa bantu korban banjir, Haedar pernah memiliki pengalaman membekas hingga kini ketika ditegur pihak sekolah karena tidak masuk kelas, apalagi saat itu Ia juga menggalang dana bagi korban banjir.(IDN Times/Foto : Dok. Haedar) Salah satu pengalaman yang membekas bagi Haidar terjadi ketika banjir melanda wilayah Tambak, Kabupaten Banyumas. Saat itu, ia masih berstatus pelajar SMA dan memulai kontribusinya dengan menggalang dana di lingkungan sekolah.
Dana yang berhasil dikumpulkan mencapai sekitar Rp1 juta lebih. Namun, Haidar tidak sekadar menyerahkan bantuan tersebut. Ia mengantarkannya langsung ke lokasi bencana dan mendapati para relawan masih membutuhkan bantuan untuk mengevakuasi warga.
Ia kemudian memutuskan bertahan di lokasi untuk membantu proses evakuasi, meskipun harus meninggalkan kegiatan belajar di pondok pesantren.
Keputusannya sempat membuat pihak pondok menghubunginya karena ia tidak masuk sekolah. Setelah mengetahui alasannya, pihak pondok memberikan dukungan dan bahkan mengirimkan personel tambahan untuk membantu penanganan bencana di Tambak.
Selain banjir, Haidar pernah terlibat dalam penanganan kebakaran lahan dan hutan di Ajibarang, Wangon, dan Lumbir. Medan yang sulit dijangkau kendaraan membuat proses pemadaman membutuhkan tenaga ekstra, termasuk penggunaan peralatan manual ketika selang pemadam tidak dapat menjangkau titik api.
Ia juga pernah mengalami luka ringan akibat terkena ranting ketika membantu evakuasi kecelakaan di sekitar Jembatan Kali Gatar, Ajibarang.
Berbagai pengalaman itu membuatnya memahami bahwa menjadi relawan membutuhkan kesiapan fisik, koordinasi, dan kemampuan menghadapi risiko di lapangan.
3. Dari mitigasi bencana hingga pengelolaan sampah

Pendidikan dirumah membentuk sikap Haedar berupaya menjaga lingkungan ttetap bersih, nampa Haedar (membelakangi lensa MDMC) ketika ikut evakuasi korban longsor Majenang.(IDN Times/Foto : Dok. Haedar) Bagi Haedar, tugas relawan bukan hanya hadir ketika bencana terjadi. Upaya pencegahan melalui edukasi dan mitigasi juga diperlukan agar masyarakat lebih siap menghadapi potensi bencana.
Dalam menjalankan kegiatan, ia memanfaatkan jaringan komunikasi dengan berbagai komunitas relawan dan lembaga terkait, termasuk Basarnas, BPBD, serta pemadam kebakaran. Informasi yang diterima dapat diteruskan kepada pihak berwenang agar kejadian yang membutuhkan penanganan segera memperoleh perhatian.
Kepedulian Haedar juga terlihat dalam kebiasaan sehari-hari. Ia memilih menyimpan bungkus permen atau sampah plastik di saku ketika sedang berkendara, lalu membuangnya ke tempat sampah saat menemukannya.
Ia juga pernah mengikuti kegiatan pengelolaan sampah plastik melalui kerja sama dengan pihak pengelola di kawasan Gunung Tugel. Sampah plastik dikumpulkan dan disalurkan untuk mendukung pengelolaan sampah.
Pengalaman tersebut memperkuat pandangannya bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dengan gerakan besar. Perubahan perilaku individu juga menjadi bagian penting dalam mengurangi persoalan sampah.
Salah satu peristiwa lainnya yang membekas baginya adalah longsor di Majenang, Kabupaten Cilacap. Melihat rumah-rumah terdampak bergeser dan turun mengikuti pergerakan tanah hingga belasan meter membuatnya semakin menyadari besarnya dampak bencana terhadap kehidupan masyarakat.
4. Pesan Haedar untuk sesama generasi muda

Sosok Haedar ketika dirumahnya sebut rekan muda untuk berperan dalam mencegah kerusakan lingkungan dan membantu masyarakat yang membutuhkan, Sabtu (23/10/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno) Menjelang Hari Sumpah Pemuda 2026, Haedar mengajak sesama generasi muda untuk tidak mengabaikan persoalan lingkungan yang ada di sekitar mereka. Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya merupakan bentuk kepedulian yang bisa dilakukan siapa saja.
"Sebisa mungkin menjaga lingkungan. Bahkan, sekecil membuang sampah pada tempatnya, itu juga sudah menjaga lingkungan,"pesannya.
Ia berharap anak muda tidak hanya menunjukkan kepedulian ketika terjadi bencana, tetapi juga berperan dalam mencegah kerusakan lingkungan dan membantu masyarakat yang membutuhkan.
Bagi Haedar, semangat Sumpah Pemuda dapat diwujudkan melalui tindakan sehari-hari yang memberikan manfaat bagi orang lain. "Dengan kemauan untuk terlibat, kita memiliki kesempatan untuk ikut membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi bencana dan lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan,"pungkasnya.










![[FOTO] Belajar di Bawah Mesin Orang Lain](https://image.idntimes.com/post/20261022/ajp-2026-bengkel-4_bba04681-235d-4322-930b-ec3574301443_watermarked_idntimes-2.jpg)









