Ternyata Ini Alasan Bos Lebih Memilih Karyawan Penjilat Dibandingkan yang Berprestasi

Bos dapat lebih menyukai karyawan penjilat karena pujian dan persetujuan mereka memenuhi kebutuhan ego serta validasi diri atasan.
Karyawan berprestasi yang kritis dan memberi masukan tajam kadang dipandang sebagai ancaman oleh atasan yang otoriter atau kurang kompeten.
Pencitraan, kepatuhan, dan kemampuan melaporkan kerja dapat mengalahkan hasil nyata; karyawan disarankan tetap profesional, mengomunikasikan capaian, dan mencari lingkungan berbasis prestasi.
Semarang, IDN Times - Dalam dunia kerja, tidak sedikit karyawan berprestasi yang merasa kecewa ketika melihat rekan kerja yang dikenal hobi "penjilat" atau carmuk (cari muka) justru lebih disayang bos dan cepat naik jabatan. Padahal, secara kualitas hasil kerja dan dedikasi, karyawan berprestasilah yang menyumbang kontribusi paling besar bagi perusahaan.
Dinamika ini kerap memicu rasa ketidakadilan dan membuat iklim kerja menjadi kurang sehat. Namun, secara psikologi organisasi dan kepemimpinan, ada beberapa alasan mendasar mengapa seorang atasan atau bos sering kali terjebak dan lebih memilih karyawan tipe penjilat:
1. Kebutuhan Ego dan Validasi Diri Seorang Atasan

ilustrasi mencari validasi (pexels.com/ Alena Darmel) Setiap pimpinan memiliki ego dan kebutuhan akan pembenaran atas keputusan atau idenya. Karyawan penjilat sangat paham akan celah psikologis ini.
Karyawan penjilat selalu memberikan pujian, persetujuan instan, dan sanjungan terhadap setiap gagasan atasan tanpa pernah menyanggah.
Bagi atasan yang memiliki insecurity atau ego tinggi, kehadiran karyawan seperti ini memberikan rasa nyaman dan menguatkan rasa percaya diri mereka sebagai pemimpin.
2. Karyawan Berprestasi Cenderung Kritis dan Dinilai Memancarkan Ancaman

Menghakimi itu serba praktis, sedangkan berpikir kritis butuh energi ekstra. (pexels.com/Mikhail Nilov) Karyawan yang berprestasi dan berorientasi pada hasil biasanya memiliki standar kerja yang tinggi serta pemikiran kritis.
Karyawan berprestasi tak ragu memberikan masukan tajam, mengritik kebijakan yang kurang efektif, atau menawarkan cara kerja baru. Di mata atasan yang cenderung otoriter atau kurang kompeten, kepintaran dan sikap kritis karyawan berprestasi ini kerap dipersepsikan sebagai ancaman terhadap dominasi atau posisi mereka.
3. Ilusi Kemudahan Komunikasi dan 'Loyalitas' Tanpa Syarat

ilustrasi loyalitas generasi milenial di perusahaan (unsplash.com/Sebastian Herrmann) Bos sering kali mengelompokkan karyawan berdasarkan seberapa mudah mereka diajak bekerja sama secara personal (likeability).
Karyawan penjilat selalu bersedia menjalankan perintah apa pun tanpa protes, siap mendampingi atasan di luar jam kerja, dan mahir membangun suasana akrab.
Atasan mengira sikap "penurut" dan manis ini adalah bentuk loyalitas sejati, padahal itu hanyalah strategi manipulatif untuk mengamankan posisi personal semata.
4. Hasil Kerja Nyata Sering Kalah oleh "Kemasan" dan Pencitraan

Ilustrasi cara melepaskan diri dari jebakan pencitraan yang semu. (pexels.com/Andrea Piacquadio) Karyawan berprestasi sering berprinsip biarkan kinerja yang berbicara sendiri (let the work speak for itself). Sayangnya, tidak semua bos telaten memeriksa detail operasional di balik layar.
Karyawan penjilat sangat pandai mengemas hal-hal kecil menjadi pencitraan besar. Mereka mahir melaporkan hal-hal manis (yes-man attitude) dan pandai mencuri panggung saat presentasi. Akibatnya, bos yang kurang jeli akan mengira karyawan penjilatalah yang bekerja paling keras dan berkontribusi paling besar.
Langkah Bijak Menghadapi Situasi Ini
Tetap Jaga Profesionalisme: Jangan sampai perilaku penjilat menurunkan standar kinerjamu. Fokuslah pada pengembangan kompetensi diri yang terukur.
Tingkatkan Kemampuan Self-Marketing: Belajarlah mengomunikasikan hasil kerjamu secara elegan kepada atasan atau manajemen yang lebih tinggi tanpa harus menjadi penjilat.
Cari Lingkungan Kerja yang Sehat (Growth Environment): Jika budaya perusahaan sudah terlanjur toksik dan hanya mengapresiasi pencitraan dibanding prestasi nyata, saatnya mempertimbangkan karier di perusahaan lain yang menghargai meritocracy (sistem berbasis prestasi).





















