Semarang, IDN Times – Pemerintah Kota Semarang membahas rencana pengembangan budidaya maggot di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang untuk mengurangi timbunan sampah organik sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi. Gagasan tersebut dibahas Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, bersama formulator biodekomposer Mangontang Simanjuntak, Kamis (22/10/2026).
TPA Jatibarang Semarang Pabrik Maggot, Sampah Organik Jadi Pakan Ayam

Take a Deeper Read
1. Bangun unit pengolahan maggot terpusat
Salah satu rencana yang dibahas ialah membangun unit pengolahan maggot terpusat di kawasan TPA Jatibarang. Maggot yang dihasilkan nantinya diarahkan untuk menjadi sumber pakan alternatif bagi peternakan ayam dan sektor perikanan.
Agustina mengatakan, pengembangan pengolahan sampah membutuhkan skema pembiayaan yang tidak hanya mengandalkan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Pemerintah kota ingin membuka peluang keterlibatan berbagai pihak dalam penyediaan sarana dan pengembangan pengolahan sampah.
“Saya ingin membiasakan bahwa creative financing membuat kita tidak harus menggunakan APBD. Kita bisa menggerakkan banyak pihak,” ujarnya.
Menurut Agustina, pengembangan pusat produksi maggot di TPA Jatibarang berpotensi menghubungkan pengelolaan sampah dengan kegiatan produktif masyarakat.
2. Pasok maggot ke masyarakat penerima bantuan ayam
Salah satu pemanfaatan yang dibidik ialah memasok maggot kepada masyarakat penerima bantuan ayam. Selain itu, hasil budidaya tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan pakan di sektor perikanan.
“Kalau TPA Jatibarang itu bisa jadi pabrik maggot, maka kita bisa menciptakan offtaker untuk mengirimkan maggot ini kepada minimal orang-orang yang selama ini diberi bantuan ayam,” jelasnya.
Konsep tersebut masih berupa gagasan yang dibahas dalam audiensi. Pelaksanaannya membutuhkan persiapan sarana, pengujian teknologi, serta skema kerja sama agar pengolahan dapat berjalan sesuai kondisi di lapangan.
Selain budidaya maggot, Pemkot Semarang membahas pemanfaatan biodekomposer untuk membantu penguraian sampah organik serta menangani bau dan limbah cair di tempat penampungan sementara (TPS) dan TPA Jatibarang.
Pembahasan juga mencakup potensi pemanfaatan cairan lindi sebagai bahan pupuk hayati untuk sektor pertanian. Dengan pendekatan tersebut, hasil samping pengolahan sampah diharapkan dapat dimanfaatkan kembali, bukan sekadar menjadi limbah.
3. Aspek ekonomi perlu jadi bagian strategi pengelolaan sampah
Mangontang Simanjuntak menilai, aspek ekonomi perlu menjadi bagian dari strategi pengelolaan sampah agar masyarakat terdorong terlibat dalam proses pengolahan.
“Mindset kita paling utama soal sampah. Tapi sampah ini tidak akan bisa kita kerjakan kalau tidak ada ekonominya. Maka kita harus menciptakan ekonomi, salah satunya adalah dengan kandang 5 ekor tadi,” katanya.
Dalam audiensi tersebut, Mangontang juga menyerahkan benih padi varietas MSP 65 kepada Pemkot Semarang. Benih itu direncanakan untuk ditanam sebagai demplot atau lahan percontohan di Kota Semarang.
Varietas tersebut disebut memiliki masa panen sekitar 60 hari. Uji coba direncanakan memanfaatkan pupuk hayati dari hasil pengolahan limbah untuk melihat potensi keterkaitan antara pengelolaan sampah dan kebutuhan pertanian.
Agustina berharap pengembangan pengolahan sampah organik di TPA Jatibarang dapat mengurangi timbunan sampah sekaligus membuka peluang kegiatan ekonomi baru. Namun, gagasan tersebut masih memerlukan persiapan dan pengujian sebelum dapat diterapkan lebih luas.
Curated For You
- Perempuan Penggerak Koperasi Tangguh di Tepi Rel20 Oct 2026, 09:20 WIB
- Dari Sampah Organik, Warga Semarang Bisa Panen Maggot 100 Kg Per Hari14 Sep 2025, 23:43 WIB
- Dipa Andika Bongkar Soal Perizinan dan Produksi Operasi Pesta Copet di Pestapora04 Sep 2026, 08:59 WIB
- Napi Lapas Kedungpane Diajari Budidaya Maggot untuk Pasok Pakan Ternak14 Feb 2025, 08:50 WIB