Tunggu Dana dari BGN, 27 SPPG di Jateng Belum Beroperasi
- Sebanyak 27 SPPG di Jateng belum beroperasi karena menunggu dana dari BGN
- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng terus berkoordinasi dengan Dishanpan untuk program MBG
- Pelaksanaan MBG libur selama musim libur panjang anak sekolah, akan kembali saat tahun ajaran baru dimulai
Semarang, IDN Times - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah memastikan sampai dengan 29 Mei 2025 kemarin terdapat 202 SPPG yang beroperasi di sejumlah kabupaten/kota.
Dari jumlah tersebut, ada kisaran 174 SPPG yang aktif menjalankan layanan bagi program makan bergizi gratis (MBG) dan 27 SPPG yang belum beroperasi.
Subbag Program Disdikbud Jateng, Roberto Agung Nugroho mengatakan SPPG sejumlah 27 unit tersebut memang belum bisa beroperasi lantaran masih menunggu pencairan dana dari Badan Gizi Nasional (BGN).
"Jadi di Jawa Tengah itu sesuai data yang kami terima per 29 Mei ada sebanyak 202 SPPG yang terverifikasi. Lalu sekitar 174 SPPG yang aktif. Dan 27 SPPG belum operasional menunggu pencairan dana dari BGN," ujar Roberto kepada IDN Times, Rabu (11/6/2025).
Pihaknya tidak diketahui pasti dimana saja SPPG yang belum beroperasi karena menjadi kewenangan penuh dari BGN.
Selain itu pihaknya juga terus berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Jateng selaku leader program MBG. "Sebetulnya kan leading sectornya kan ada di Hanpan (ketahanan pangan) ya. Tetapi dari kami tetap berkoordinasi terus untuk memastikan tahapan pelaksanaan MBG di setiap wilayah," paparnya.
Mengenai pelaksanaan MBG selama musim libur panjang anak sekolah tahun ini, pihaknya menekankan juga ikut diliburkan. Kemudian beroperasi kembali ketika tahun ajaran baru dimulai pertengahan Juli nanti.
"Kalau anak sekolah libur ya otomatis MBG juga tidak aktif, Mas. Lha makanannya mau dipakai buat siapa wong siswanya sudah libur semua," kata Roberto.
Tak cuma itu saja ia bilang terkait keinginan kantin sekolah untuk terlibat dalam MBG juga tak bisa direalisasikan mengingat syarat-syaratnya tidak bisa dipenuhi.
Kantin sekolah, katanya umumnya memiliki kapasitas ruang yang kecil dengan jumlah makanan yang dihasilkan masih terbatas. "Kantin sekolahan tidak memenuhi syarat buat MBG. Karena kan bentuknya kecil, makanan yang disajikan juga terbatas. Jadi agak sulit kalau mau berpartisipasi di program MBG," pungkasnya.