Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Gus Yasin: Kita Dituntut Zero Bullying di Sekolah dan Pesantren

Ilustrasi Bullying (Foto: IDN Times)
Ilustrasi Bullying (Foto: IDN Times)
Intinya sih...
  • Jawa Tengah memiliki 5.364 pondok pesantren dengan 520.014 santri, mendukung program Pondok Pesantren Ramah Anak.
  • Kementerian Agama Jateng bekerja sama dengan Unicef dan LPA Klaten untuk menjadikan provinsi ini zero bullying.
  • Kemenag Jateng akan bersinergi dengan pemkab dan pemkot serta menyasar tenaga pendidik, santri, dan orang tua dalam program Pondok Pesantren Ramah Anak.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan saat ini dibutuhkan upaya transparansi untuk melaporkan tindak kekerasan seksual dan bullying di lingkungan pondok pesantren (ponpes). 

Ia juga meminta kepada kalangan pondok pesantren agar transparan bila menemui tindakan perundungan atau yang melanggar hukum. Transparansi akan menjadikan meningkatnya kepercayaan publik terhadap lembaga pesantren.

"Kita dituntut untuk zero bullying di Jawa Tengah, baik di sekolah maupun di pesantren,” kata dia dalam Halaqah Pesantren Ramah Anak, Pesantren Aman dan Sehat, di Asrama Haji Transit Islamic Center, Kota Semarang. 

1. Jateng punya 5.364 ponpes

IMG-20250828-WA0016.jpg
Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen berbicara aaat halaqoh pesantren ramah anak, aman dan sehat. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)

Menurut Gus Yasin, program ponpes ramah anak dan sehat menjadi penting, mengingat jumlah pesantren Jawa Tengah mencapai mencapai 5.364 lembaga, dengan jumlah santri mencapai 520.014 orang. 

Pihaknya mendukung penuh Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) yang terus menggalakkan program Pondok Pesantren Ramah Anak. 

2. Kemenag Jateng sudah bentuk satgas

IMG-20250828-WA0019.jpg
Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen bersama Kanwil Kemenag dan UNICEF saat berkoordinasi mengenai penanganan bullying di pondok. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)

Dalam melaksanakan program ini, Kemenag Jateng bekerja sama United Nations Children's Fund (Unicef) dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Klaten.

Ia mengatakan, program yang menyasar lembaga pendidikan pondok pesantren itu menjadi penting untuk menjadikan provinsi ini zero bullying (nol perundungan). Sebab, kasus kekerasan pada anak di provinsi ini hingga 2025 juga masih ditemukan. 

Pihaknya juga mengapresiasi kepada Kanwil Kemenag Jateng yang sudah membentuk Satgas untuk penanganan kekerasan di pondok pesantren. 

Dengan begitu, Pemprov Jateng tinggal berkolaborasi untuk menyosialisasikan program itu di pesantren yang ada di wilayah pemerintahannya. 

3. Kemenag klaim akan bersinergi dengan pemkab dan pemkot

kegiatan pembahasan penanganan kekerasan yang diadakan DP3AP2KB bersama UNICEF dan LPA Klaten di BPSDM Jateng. (IDN Times/Fariz Fardianto)
kegiatan pembahasan penanganan kekerasan yang diadakan DP3AP2KB bersama UNICEF dan LPA Klaten di BPSDM Jateng. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Kepala Kanwil Kemenag Jateng, Saiful Mujab menambahkan, satgas sudah dikukuhkan oleh Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin. Pihaknya juga akan bersinergi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk terus mengawal pondok pesantren dengan baik. 

Kepala Perwakilan Unicef untuk Wilayah Jawa, Arie Kurnia, mengatakan, sasaran edukasi dan sosialisasi program Pondok Pesantren Ramah Anak, ditujukan kepada tenaga pendidik, santri, hingga orang tua atau.

Pihaknya mengapresiasi Pemprov Jateng yang komitmen dalam perwujudan program itu. Diharapkan akan semakin banyak pesantren yang mendeklarasikan diri menjadi ramah anak.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dhana Kencana
EditorDhana Kencana
Follow Us