Mesin Pengolah Sampah Plastik 200 Kg Jadi BBM dari Undip Semarang, Ini Spesifikasinya

Undip memperkenalkan Dipofuel Gen 3, mesin pirolisis yang mengolah hingga 200 kilogram sampah plastik per produksi menjadi bahan bakar cair, gas bakar, dan wax.
Proses pengolahan berlangsung 4–8 jam dengan proyeksi hasil 60 persen bahan bakar cair, 20 persen gas, dan 20 persen wax; gasnya dipakai kembali untuk pemanas.
Teknologi ini telah dimanfaatkan petani di Batang dan direncanakan digunakan di TPST Undip, namun perlu dukungan pemerintah, SDM, regulasi, serta perizinan untuk penerapan luas.
Semarang, IDN Times – Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mengembangkan mesin pirolisis Dipofuel Generasi Ketiga (Gen 3) yang mampu mengolah hingga 200 kilogram sampah plastik dalam sekali produksi menjadi bahan bakar cair. Inovasi ini diperkenalkan dalam rangkaian Dies Natalis ke-69 Undip di Muladi Dome, Kampus UNDIP Tembalang, Semarang, Kamis (15/10/2026).
1. Dipofuel bekerja gunakan proses pirolisis

Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mengembangkan mesin pirolisis Dipofuel Generasi Ketiga (Gen 3) yang mampu mengolah hingga 200 kilogram sampah plastik dalam sekali produksi menjadi bahan bakar cair. (Dok. Undip) Mesin tersebut dikembangkan oleh tim peneliti yang dipimpin Prof. Ir. Didi Dwi Anggoro, dosen Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Undip. Teknologi ini dirancang untuk membantu mengurangi timbunan sampah plastik sekaligus menghasilkan produk yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.
Dipofuel bekerja menggunakan proses pirolisis, yakni pemanasan plastik tanpa oksigen di dalam reaktor tertutup. Proses ini menghasilkan bahan bakar cair, gas bakar, dan residu padat berupa wax atau lilin.
Kapasitas pengolahannya terus meningkat sejak prototipe pertama dikembangkan. Mesin generasi awal hanya mampu memproses 5 kilogram plastik, kemudian meningkat menjadi 100 kilogram pada generasi kedua, hingga mencapai 200 kilogram pada Gen 3.
“Keunggulan generasi ketiga ini terutama pada kapasitasnya yang jauh lebih besar. Dari awalnya 5 kilogram, kemudian 100 kilogram, sekarang mencapai 200 kilogram sekali produksi,” kata Didi.
2. Olah sampah plastik dalam 4–8 Jam

Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mengembangkan mesin pirolisis Dipofuel Generasi Ketiga (Gen 3) yang mampu mengolah hingga 200 kilogram sampah plastik dalam sekali produksi menjadi bahan bakar cair. (Dok. Undip) Dipofuel Gen 3 membutuhkan waktu pengolahan sekitar 4–8 jam. Berdasarkan proyeksi tim peneliti, komposisi hasil produksinya terdiri dari sekitar 60 persen bahan bakar cair, 20 persen gas bakar, dan 20 persen wax padat.
Mesin ini menggunakan reaktor berkapasitas 1.000 liter berbahan plat besi yang dilengkapi insulator fiber ceramic. Sistem pemanasnya memanfaatkan biomassa, sedangkan panel kontrol suhu dan tekanan dilengkapi alarm serta perangkat keselamatan.
Tim peneliti juga menyempurnakan sistem kondensasi bertingkat untuk mengoptimalkan hasil bahan bakar cair. Gas yang dihasilkan selama proses pirolisis dialirkan kembali ke sistem pemanas menggunakan blower sehingga dapat membantu proses pembakaran dan mengurangi kebutuhan kayu bakar.
Meski berpotensi menghasilkan bahan bakar alternatif, Didi menegaskan bahwa tujuan utama pengembangan teknologi tersebut bukan semata-mata mengejar keuntungan ekonomi.
“Jika dilihat secara ekonomi, mungkin belum sepenuhnya menghasilkan profit, tetapi fokus utamanya adalah bagaimana masalah sampah bisa selesai. Contohnya di Batang, Jawa Tengah, alatnya sudah dimanfaatkan oleh masyarakat petani setempat untuk pompa irigasi. Kami berharap kehadiran teknologi ini dapat mempermudah kehidupan masyarakat secara lebih luas,” terangnya.
3. Pengembangan Dipofuel butuh dukungan pemerintah dan SDM
Universitas Diponegoro (Undip) resmi mempertegas sebagai kampus nol sampah (zero waste) pada Dies Natalis ke-68 di di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Kampus Tembalang pada Jumat (17/10/2025). (dok. Undip) Pemanfaatan teknologi pirolisis Undip mulai mendapat perhatian dari sejumlah pihak. Selain telah digunakan oleh masyarakat petani di Kabupaten Batang, peluang kolaborasi juga dijajaki dengan lembaga pemasyarakatan dan pondok pesantren di Jawa Timur serta pihak pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Sulawesi Selatan.
Namun, penerapan teknologi ini dalam skala lebih luas masih menghadapi sejumlah tantangan. Menurut Didi, dukungan pemerintah, kesiapan sumber daya manusia, serta pemenuhan regulasi dan perizinan diperlukan agar teknologi tersebut dapat diterapkan secara lebih luas.
Mesin Dipofuel Gen 3 dengan bobot keseluruhan sekitar tiga ton itu dikembangkan dalam waktu kurang lebih dua bulan. Setelah rangkaian Dies Natalis ke-69 Undip, mesin tersebut direncanakan mulai digunakan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Undip.
Didi berharap Dipofuel dapat menjadi prototipe perintis pengolahan sampah plastik pada skala kelurahan sebelum dikembangkan dengan kapasitas lebih besar.
“Harapan kami, mesin ini bisa menjadi prototipe pionir untuk pengolahan sampah, setidaknya pada skala kelurahan. Ke depan, kapasitasnya masih berpeluang dikembangkan hingga skala ton dan diterapkan di masyarakat maupun industri,” tuturnya.
Pengembangan Dipofuel Gen 3 menjadi salah satu upaya Undip mendorong riset yang berorientasi pada persoalan nyata di masyarakat. Meski demikian, efektivitas pengolahan, kelayakan ekonomi, serta pemenuhan standar keselamatan dan lingkungan akan menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan penerapannya.




















