Pameran foto Ode untuk Ayah yang diadakan Firman Ichsan di Semarang (IDN Times/Dhana Kencana)
Pak Ichsan ini orang yang melintasi berbagai zaman mulai feodal, kolonial, hingga kemerdekaan. Lahir di Kendal, 25 September 1902, Ichsan merupakan anak priyayi dari pasangan Raden Mas Ario Adipati Notohamiprodjo (Bupati Kendal) dan Raden Ayu Khatidjah Kromodjojodirono.
Kehidupan politik Ichsan dimulai saat beliau mengenyam masih mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Leiden di Negeri Belanda. Ichsan bersahabat dengan tokoh pergerakan mahasiswa Indonesia di Belanda bernama Slamet Faiman, yang saat itu menentang fasisme NAZI.
Persahabatan Mohammad Ichsan dengan Slamet Faiman bermula di gladak kapal SS Johan de Witt (kapal penumpang anyar Hindia Belanda). Dari situ, Ichsan mendapat pondasi menetapkan arah politiknya, berada di jalur ideologi sebagai seorang nasionalis.
Slamet Faiman, saat itu bertugas di kapal bercerobong ganda, dengan panjang 159,4 meter. Dia juga aktivis pererakan buruh di Rotterdam.
Pada tahun 1922 beliau mulai menjadi anggota aktif Indonesische Vereniging. Pada tahun 1924 nama Indonesische Vereniging diganti dengan nama Indonesia menjadi "Perkumpulan Indonesia." Perkumpulan tersebut adalah perkumpulan Pemuda Mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda yang bercita-cita dan berusaha ke arah Indonesia Merdeka.
Setelah meraih gelar akademik Meester in de Rechten atau Sarjana Hukum dari Universitas Leiden, Ichsan kembali ke Indonesia dan mulai bekerja pada Pemerintahan Hindia Belanda sebagai Commies Redacteur di Magelang. Kemudian, dipindah ke Semarang sebagai pegawai Pemerintah Kota Semarang.
Pada tahun 1939, Perang Dunia II pecah. Pemerintah Hindia Belanda mulai melakukan persiapan-persiapan untuk menghadapi kemungkinan menjalarnya perang besar itu ke Asia Timur, antara lain dengan mengadakan berbagai badan pertahanan sipil. Salah satu di antaranya adalah barisan Stads- Wacht atau barisan Penjaga Kota. Khusus pegawai Pemeritah Hindia Belanda diwajibkan untuk bergabung dalam salah satu dari berbagai badan pertahanan sipil yang telah dibentuk.
Maka, Ichsan memilih bergabung pada Stads-Wacht dengan pertimbangan bahwa bila mana saja kelak bangsa Indonesia harus berjuang untuk kemerdekaannya dengan menggunakan senjata, maka beliau sudah mengetahui cara menggunakan senjata dan taktik perang. Sebab, anggota-anggota Stads-Wacht diberi latihan kemiliteran.
Perang Dunia II ternyata benar menjalar sampai Asia Timur, termasuk sampai wilayah Hindia Belanda. Dalam perang melawan Jepang, Pemerintah Hindia Belanda kalah dan pada tanggal 8 Maret 1942 menyerah kepada Jepang. Konsekuensinya, semua orang Belanda, baik sipil, maupun militer, pria atau pun wanita serta anak-anak ditawan oleh Tentara Jepang. Begitu juga semua anggota Stads-Wacht Semarang, termasuk Mochammad Ichsan.