Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[Wansus] Wali Kota Agustina: Merawat Semarang Lewat Ruang Pertemuan

Kota Semarang
8 min read
[Wansus] Wali Kota Agustina: Merawat Semarang Lewat Ruang Pertemuan
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng hadir dalam kemeriahan Mooncake Festival 2026 di halaman Kelenteng Tay Kak Sie, kawasan Pecinan Semarang, Kamis (24/9/2026). (IDN Times/bt/Anggun P)
  • Wali Kota Agustina Wilujeng menempatkan rangkaian festival Semarang sebagai ruang perjumpaan warga dan tamu, untuk memperkuat harmoni budaya Jawa, Arab, Tionghoa, serta berbagai komunitas agama.

  • Pemerintah ingin menghidupkan ruang publik seperti Alun-Alun Kauman, Kota Lama, dan Pecinan secara berkelanjutan bagi seni anak muda, komunitas, pelestarian tradisi, UMKM, serta ekonomi warga.

  • Pengembangan wisata budaya, termasuk city tour MTQ dan penataan Gang Baru-Pasar Semawis, ditujukan mengenalkan sejarah Semarang tanpa menghilangkan akar budaya serta karakter kehidupan masyarakat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Semarang, IDN Times - Dalam beberapa pekan terakhir, wajah Kota Semarang seolah dipenuhi berbagai panggung kebudayaan. Dari rangkaian MTQ Nasional XXXI, Festival Rebana Nasional, Nostalgia Dugderan, Wayang on the Street di Kota Lama, hingga Mooncake Festival di kawasan Pecinan.

Sekilas, agenda-agenda tersebut tampak berdiri sendiri. Namun, ada satu benang merah yang terus muncul dalam gagasan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, yakni budaya harus menjadi ruang perjumpaan warga, bukan sekadar pertunjukan.

Di tengah keberagaman identitas Kota Semarang—Jawa, Arab, Tionghoa, serta berbagai komunitas agama dan budaya— Agustina ingin menjadikan perbedaan sebagai bagian dari pengalaman sehari-hari warga kota.

Saat membuka Mooncake Festival 2026 di Kelenteng Tay Kak Sie, Kamis (24/9/2026) malam, misalnya, Agustina menyoroti penampilan Tari Kipas Batik Semarang yang dibawakan penari berhijab. Baginya, momen tersebut menggambarkan bagaimana keberagaman dapat tumbuh secara alami dalam kehidupan kota.

“Kota Semarang ini bukan sekadar bicara masa lalu. Kota ini adalah titik pertemuan antara masa lalu dan masa kini, yang akan mendorong perahu kita maju menuju masa depan,” ujarnya.

Kepada IDN Times, Wali Kota Semarang terpilih periode 2025-2030 itu menjelaskan bagaimana berbagai kegiatan kebudayaan tersebut ditempatkan dalam visi membangun Ibu Kota Jawa Tengah sebagai kota yang terbuka, inklusif, dan mampu menjaga harmoni keberagaman.

Dalam beberapa pekan terakhir ada banyak kegiatan budaya di Semarang, mulai dari MTQ Nasional, Dugderan, Festival Rebana, Wayang on the Street hingga Mooncake Festival. Apakah semua kegiatan itu memang bagian dari strategi pemerintah kota?

Saya melihat kegiatan-kegiatan ini bukan berdiri sendiri. Kota Semarang mempunyai kekayaan budaya yang sangat beragam dan itu harus diberikan ruang.

Ketika ada MTQ Nasional, misalnya, kita tidak ingin para kafilah hanya datang, mengikuti perlombaan, kemudian pulang. Kita ingin mereka mengenal Kota Semarang, mengenal tradisinya, mengenal masyarakatnya.

Maka itu, kita hadirkan Dugderan, ada city tour, ada heritage tour, ada rebana, ada kegiatan seni, literasi dan berbagai kegiatan lain.

MTQ bukan hanya tentang perlombaan membaca dan memahami Al-Qur’an. Ini adalah momentum perjumpaan. Kita mempertemukan nilai-nilai keislaman dengan kekayaan budaya lokal. Kita ingin para kafilah pulang membawa cerita tentang Semarang.

Anda beberapa kali menyebut Semarang sebagai kota yang terbuka dan mampu mengharmonikan keberagaman. Apa yang ingin dibangun melalui berbagai event tersebut?

Saya ingin masyarakat melihat bahwa keberagaman itu bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Justru keberagaman itu bagian dari kehidupan Kota Semarang.

Kita punya jejak budaya Jawa, Arab dan Tionghoa. Semuanya bertemu dan berkembang di kota ini.

Kita bisa melihatnya dalam banyak hal. Warak Ngendog, misalnya, menjadi salah satu simbol akulturasi budaya yang ada di Semarang.

Maka itu, budaya asli tetap harus kita pelajari. Proses harmoni jangan sampai membuat kita kehilangan akar budaya. Budaya harus berkembang, tetapi akar sejarahnya tetap kita pahami.

Salah satu momen yang menarik adalah ketika Anda tampil dalam Nostalgia Dugderan bersama unsur ulama dan perwakilan budaya Arab, Jawa serta Tionghoa. Mengapa keberagaman itu perlu ditampilkan secara terbuka?

Karena memang begitulah perjalanan Kota Semarang. Tradisi Dugderan sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Semarang. Tetapi ketika kita menampilkan Dugderan dalam konteks kota hari ini, kita juga menunjukkan bahwa Semarang tumbuh dari keberagaman yang saling menghormati.

Dalam kirab itu ada pelajar, kelompok keagamaan, komunitas masyarakat, kelompok seni dan budaya. Ada juga Barisan Pecinan, Barisan Koja, barongsai dan keterlibatan Parisada Hindu Dharma Indonesia.

Saya ingin menunjukkan bahwa semua itu adalah bagian dari Semarang. Kita menyambut saudara-saudara dari seluruh Indonesia dengan budaya kita, tetapi tetap dalam semangat persaudaraan dan nilai-nilai keislaman.

Berarti event budaya yang digelar pemerintah bukan hanya bertujuan mendatangkan wisatawan?

Wisata dan ekonomi tentu penting. Tetapi jangan sampai kebudayaan hanya dilihat dari jumlah wisatawan. Saya ingin ruang budaya itu benar-benar hidup.

Contohnya Alun-Alun Masjid Agung Kauman. Saya berharap suatu hari kita sampai pada titik di mana ada perhelatan budaya yang berkesinambungan di sana.

Kalau ruang budaya hidup, masyarakat juga mendapatkan manfaat. Anak-anak punya tempat untuk menampilkan seni, komunitas punya ruang, UMKM bisa bergerak dan perekonomian warga sekitar ikut berputar. Jadi budaya, ruang publik dan ekonomi masyarakat bisa berjalan bersama.

Anda juga mendorong Alun-Alun Kauman menjadi pusat budaya. Apa konsep besarnya?

Saya ingin Alun-Alun bukan hanya menjadi tempat yang ramai ketika ada acara tertentu. Kita harus membuatnya menjadi ruang budaya yang terus digunakan.

Anak-anak bisa menari, masyarakat bisa menikmati pertunjukan, UMKM bisa berjualan. Orang datang bukan hanya karena ada acara besar, tetapi karena memang ada kehidupan di sana.

Ketika anak-anak berlatih tari kemudian tampil di hadapan masyarakat, itu bukan sekadar pertunjukan. Ada proses menanamkan kecintaan terhadap budaya.

Apa yang mereka lakukan hari ini akan menjadi kenangan ketika mereka dewasa.

Dalam Wayang on the Street di Kota Lama, Anda mengatakan wayang adalah bagian dari “napas hidup” masyarakat. Bagaimana memastikan budaya tradisional tidak sekadar menjadi ornamen pariwisata?

Kita harus memberikan ruang yang dekat dengan masyarakat. Wayang on the Street menarik karena seni tradisi dibawa keluar dari ruang pertunjukan konvensional. Masyarakat bisa melihat langsung, bahkan tanpa harus datang ke gedung pertunjukan.

Kalau kegiatan seperti ini dilakukan secara konsisten pada waktu tertentu, saya berharap menjadi sesuatu yang ditunggu masyarakat.

Tetapi pelestarian budaya juga harus diikuti regenerasi. Anak-anak muda dan komunitas harus dilibatkan.

Kita tidak boleh hanya mengatakan wayang adalah warisan budaya, tetapi kemudian generasi mudanya tidak mempunyai ruang untuk mengenal dan mengembangkannya.

Bagaimana dengan budaya Tionghoa yang kembali terlihat kuat melalui Mooncake Festival?

Saya melihat Pecinan bukan sebagai kawasan kuno yang tertinggal. Saya melihat ada keindahan, keakraban, keasyikan dan gotong royong.

Mooncake Festival tahun ini juga menjadi momentum untuk bersama-sama. Kalau sebelumnya dirayakan secara terpisah oleh komunitas Tionghoa, sekarang momentumnya kita satukan. Saya ingin hari ini kita bersama-sama menjadi satu.

Pecinan adalah bagian dari perjalanan Kota Semarang. Maka itu, pemerintah kota ingin mendorong penataan Gang Baru dan pengembangan Pasar Semawis sebagai destinasi wisata budaya, tetapi karakter asli permukiman dan kehidupan masyarakatnya tetap harus dijaga.

Apakah konsep keberagaman itu juga harus diterjemahkan ke dalam ruang-ruang publik?

Ya. Karena kalau keberagaman hanya dibicarakan dalam slogan, masyarakat tidak akan merasakan. Kita harus menciptakan ruang di mana orang bisa bertemu.

Tok Panjang di Mooncake Festival, misalnya, mempertemukan warga, pengurus kelenteng dan pemerintah dalam satu meja panjang. Tradisi seperti itu sederhana, tetapi orang duduk bersama, makan bersama, berbicara dan saling mengenal.

Begitu juga dengan berbagai kegiatan di MTQ. Ada masyarakat, seniman, komunitas, pelajar dan para kafilah dari berbagai daerah. Ruang-ruang seperti inilah yang menurut saya penting untuk terus kita bangun.

Anda menyebut kebudayaan sekaligus sebagai penggerak ekonomi. Seberapa penting hubungan keduanya bagi Semarang?

Sangat penting. Festival budaya bisa menarik orang datang. Ketika orang datang, ada UMKM yang bergerak, ada kuliner yang terjual, ada perdagangan, ada destinasi yang dikunjungi.

Tetapi saya ingin ekonomi itu menjadi konsekuensi dari ruang budaya yang hidup, bukan sebaliknya.

Kita menjaga budayanya, memberikan ruang kepada pelaku seni dan masyarakat, kemudian aktivitas ekonomi ikut tumbuh.

Festival Kota Lama misalnya, ketika pertunjukan budaya hadir, kawasan menjadi hidup. Orang datang, menikmati pertunjukan, kemudian bergerak ke ruang-ruang ekonomi di sekitarnya.

Anda juga memasukkan sejarah dan akulturasi dalam city tour untuk kafilah MTQ. Mengapa penting memperkenalkan Sam Poo Kong, Kota Lama dan destinasi lain kepada tamu dalam sebuah acara keagamaan?

Maka mereka datang ke Semarang bukan hanya sebagai peserta kompetisi. Mereka adalah tamu kita. Kita ingin mereka mengenal kota yang menjadi tuan rumah.

Dalam heritage tour ada Lawang Sewu, Sam Poo Kong, Museum Kota Lama, Alun-Alun Semarang dan Kota Lama. Itu semua menceritakan perjalanan Semarang.

Ada sejarah, ada akulturasi, ada kehidupan masyarakat. Kita ingin setelah kembali ke daerah masing-masing, mereka membawa pengalaman tentang sejarah, budaya, destinasi wisata dan keramahan Kota Semarang.

Jadi apa sebenarnya identitas yang ingin Anda bangun untuk Semarang?

Saya ingin Semarang dikenal sebagai kota yang religius, terbuka, kaya budaya, kreatif dan ramah kepada siapa pun.

Semarang harus menjadi kota yang warganya bisa hidup berdampingan.

Kita tidak perlu menjadi sama untuk bisa hidup bersama. Justru perbedaan itulah yang menjadi kekayaan kota. Yang penting adalah saling menghormati.

Kalau begitu, apa tantangan terbesar untuk mewujudkan Semarang sebagai kota yang inklusif dan mampu menjaga harmoni keberagaman?

Tantangannya adalah bagaimana menjaga agar ruang-ruang perjumpaan itu terus ada. Jangan hanya ketika ada festival.

Budaya harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak harus mengenal budayanya. Komunitas harus memiliki ruang. Masyarakat harus bisa menggunakan ruang publik.

Kita juga harus menjaga agar proses akulturasi tidak membuat budaya asli hilang. Maka itu, kita perlu memahami akar budaya sekaligus membuka ruang bagi ekspresi budaya yang berkembang.

Setelah rangkaian event besar ini selesai, apa yang ingin Anda tinggalkan untuk warga Semarang?

Saya ingin kegiatan-kegiatan ini tidak berhenti sebagai acara. Kalau setelah acara selesai tidak ada perubahan dalam kehidupan masyarakat, maka kita harus bertanya kembali apa manfaatnya.

Saya ingin ada ruang budaya yang terus hidup. Ada anak-anak yang terus belajar seni. Ada komunitas yang terus berkegiatan. Ada UMKM yang mendapatkan manfaat. Dan yang paling penting, masyarakat semakin terbiasa bertemu dengan orang yang berbeda.

Karena dari pertemuan itu muncul pemahaman. Dan dari pemahaman itu kita bisa menjaga kebersamaan.

Semarang bukan hanya tentang bangunan tua, festival atau tradisi. Semarang adalah tentang orang-orang yang hidup di dalamnya.

Biarkan wayang membawa cerita, Kota Lama membawa suasana, dan Kota Semarang memberi pengalaman yang akan dibawa pulang oleh setiap tamu yang datang.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More