Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dear Warga Ungaran, Ini Penjelasan Ahli Geothermal Soal Proyek Panas Bumi

Kota Semarang
3 min read
Dear Warga Ungaran, Ini Penjelasan Ahli Geothermal Soal Proyek Panas Bumi
Sejumlah wisatawan melintasi lokasi semburan uap belerang yang keluar dari kawah di lereng Gunung Ungaran, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026). (Antara/Aprillio Akbar)
  • Ahli geothermal Undip Prof. Agus Setyawan menyatakan risiko tinggi proyek PLTP Gunung Ungaran merupakan risiko bisnis PLN, terutama bila pengeboran tidak menemukan fluida panas bumi.
  • Menurut Agus, survei eksplorasi awal tidak merusak; reservoir berada 1,5–2,5 kilometer di bawah tanah dan fluida bekas dikembalikan lewat reinjeksi, sehingga air tanah dinilai tidak tercemar.
  • Ia menyebut Candi Gedong Songo aman berkat kondisi batuan, posisi reservoir, dan pengeboran miring; potensi panas bumi Ungaran diperkirakan mencapai 40–44 MW.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Semarang, IDN Times - Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Gunung Ungaran terus memicu kekhawatiran publik, mulai dari isu kerusakan lingkungan hingga ancaman terhadap Candi Gedong Songo. Namun, Ahli Geothermal Universitas Diponegoro (Undip), Prof. Agus Setyawan, meminta masyarakat tidak panik secara berlebihan. 

  1. 1. Prof. Agus Setyawan beberkan fakta-fakta teknis

    Ahli Geothermal Universitas Diponegoro (Undip), Prof. Agus Setyawan. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
    Ahli Geothermal Universitas Diponegoro (Undip), Prof. Agus Setyawan. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

    Berdasarkan kajian ilmiah yang ia lakukan sejak tahun 2002 hingga 2007, Guru Besar di Bidang Geofisika dan Geothermal itu membeberkan fakta-fakta teknis yang membantah berbagai kekhawatiran tersebut saat menjadi pembicara pada ‘’Dialog Stakeholder Panas Bumi Gunung Ungaran: Manfaat, Risiko dan Suara Masyarakat’’ di Kampus FISIP Undip Semarang, Kamis (17/9/2026). .

    Ia menegaskan, bahwa proyek ini aman bagi lingkungan sekitar, dan istilah "risiko tinggi" yang kerap didengar masyarakat sebenarnya adalah risiko finansial yang harus ditanggung oleh pihak pengembang, dalam hal ini PLN.

    Dosen program studi Fisika, Fakultas Sains dan Matematika itu meluruskan kesalahpahaman di tengah masyarakat mengenai fase eksplorasi yang disebut-sebut berisiko tinggi. Menurutnya, risiko tersebut murni merupakan risiko bisnis dan finansial bagi PLN, bukan ancaman keselamatan bagi warga.

    "Ketika melakukan pengeboran (eksploitasi) dan ternyata tidak mendapatkan fluida panas bumi, maka PLN akan kehilangan investasi sekitar 10 juta Dolar AS atau setara Rp150-an miliar per sumur. Jadi, PLN sendiri sebenarnya yang 'deg-degan' dan harus sangat berhati-hati menentukan titik bor, bukan masyarakat yang terancam," ujarnya.

  2. 2. Fase eksplorasi awal berupa survei tanpa merusak

    geothermal, aksi warga, penolakan geothermal, gunung ungaran
    Berbagai elemen masyarakat di kawasan Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang melakukan penolakan terhadap proyek pembangunan panas bumi atau geothermal saat menghadiri ‘’Dialog Stakeholder Panas Bumi Gunung Ungaran: Manfaat, Risiko dan Suara Masyarakat’’ di Kampus FISIP Undip Semarang, Kamis (17/9/2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)

    Ia menganalogikan, fase eksplorasi awal seperti proses medical check-up tubuh manusia yang hanya berupa survei tanpa merusak.

    Salah satu ketakutan terbesar warga lereng Gunung Ungaran adalah potensi tercemarnya sumber air bersih. Agus mematahkan asumsi tersebut dengan penjelasan struktur geologi.

    Ia menjelaskan, bahwa akuifer air tanah yang dikonsumsi masyarakat berada pada kedalaman dangkal, berkisar antara puluhan hingga ratusan meter saja. Sementara itu, reservoir geothermal berada sangat dalam di perut bumi, yakni sekitar 1,5 hingga 2,5 kilometer.

    "Secara vertikal, kedua zona ini sangat tidak berhubungan. Selain itu, sisa air atau fluida panas bumi yang telah digunakan untuk memutar turbin akan langsung dimasukkan kembali ke dalam bumi melalui pipa reinjeksi khusus langsung menuju area reservoir. Jadi, tidak ada pencemaran air tanah," tegasnya.

  3. 3. Candi Gedong Songo dipastikan aman

    geothermal, panas bumi, gunung ungaran, candi gedong songo
    Sejumlah wisatawan melintasi lokasi semburan uap belerang yang keluar dari kawah di lereng Gunung Ungaran, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026). (Antara/Aprillio Akbar)

    Terkait kekhawatiran dampak getaran pengeboran terhadap struktur Candi Gedong Songo, Agus meminta publik berkaca pada proyek geothermal di Dieng. Di Dieng, pengeboran yang dilakukan pada jarak hanya 200 meter dari candi terbukti tidak menimbulkan kerusakan apa pun pada konstruksi cagar budaya tersebut.

    "Apalagi batuan dasar (bedrock) di Gunung Ungaran ini jauh lebih keras, didominasi oleh lava andesit dan basaltik. Ditambah lagi, berdasarkan data simulasi kami, posisi reservoir panas bumi tidak berada di bawah kompleks candi, melainkan lebih bergeser ke arah utara," jelasnya.

    Ia juga menambahkan, bahwa teknologi pengeboran modern saat ini sudah sangat canggih menggunakan metode pengeboran miring (directional drilling), sehingga tidak perlu mengebor tegak lurus di bawah area sensitif.

  4. 4. Potensi Riil Ungaran Tembus 44 MW, Dukung Energi Masa Depan

    geothermal, panas bumi, gunung ungaran, candi gedong songo
    Sejumlah wisatawan melintasi lokasi semburan uap belerang yang keluar dari kawah di lereng Gunung Ungaran, Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026). (Antara/Aprillio Akbar)

    Dari hasil simulasi numerik menggunakan komputasi ilmiah, Agus mengungkapkan, bahwa potensi panas bumi yang tersimpan di Gunung Ungaran berkisar antara 40 hingga 44 Megawatt (MW). Angka ini dinilai sangat potensial dan mendekati target penugasan pemerintah kepada PLN sebesar 55 MW.

    Ia pun berharap agar riak-riak penolakan di media sosial tidak dianggap sebagai hambatan, melainkan sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap kelestarian Gunung Ungaran.

    "Mari kita sengkuyung (gotong royong) dan rengko bareng-bareng (merangkul bersama) antara PLN, pemerintah, dan masyarakat. Ini adalah investasi energi bersih demi menyelamatkan masa depan anak cucu kita hingga 100 tahun ke depan dari krisis energi fosil," pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More