Perangkat Desa di Banyumas Ini Raup Cuan dari Ternak Bebek Petelor

- Terinspirasi dari rekan, nekat mulai dari 30 ekor bebekIde beternak bebek petelur berawal dari obrolan sederhana. Heri membeli 30 ekor bebek petelur di Pasar Maos dengan harga Rp80 ribu per ekor.
- Tiap hari sudah jelas uang 40-50Ribu masuk ke kantong EkoBebek dipelihara di kandang sederhana dengan pakan pur Malindo seharga Rp400 ribu untuk 20 hari. Dari 30 ekor bebek, Heri bisa memanen 20-25 butir telur per hari.
- Musim hujan dan pakan mahal jadi tantanganProduktivitas bebek menurun saat musim hujan. Kenaikan harga pakan juga menjadi perso
Banyumas, IDN Times - Ditengah fluktuasi biaya hidup dan kebutuhan rumah tangga yang terus meningkat, sebagian warga memilih mencari cara kreatif untuk menambah penghasilan. Salah satunya dilakukan Heri Eko Junianto, perangkat desa yang tinggal di Desa Banteran, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Sejak 2024, Heri menekuni usaha ternak bebek petelur di pekarangan rumahnya. Bukan dengan modal besar atau teknologi modern, melainkan kandang sederhana berpagar bambu di atas lahan seluas 6x6 meter. Meski terkesan sederhana, usaha ini perlahan memberi dampak nyata bagi ekonomi keluarganya.
1.Terinspirasi dari rekan, nekat mulai dari 30 ekor bebek

Ide beternak bebek petelur berawal dari obrolan sederhana. Heri mengaku tertarik setelah melihat rekan kerjanya yang lebih dulu memelihara bebek dan mampu menghasilkan tambahan pendapatan.
“Awalnya lihat teman punya ternak, kok kelihatannya jalan, dari situ kepengin nyoba,” ujar Heri saat ditemui IDN Times, Senin (26/1/2026).
Tanpa banyak perhitungan rumit, Heri membeli 30 ekor bebek petelur di Pasar Maos. Harga per ekor saat itu Rp80 ribu. Baginya, langkah ini lebih ke uji coba apakah ternak bebek bisa cocok dijalankan disela kesibukannya sebagai perangkat desa di Desa Banteran.
2. Tiap hari sudah jelas uang 40-50Ribu masuk ke kantong Eko

Bebek bebek tersebut dipelihara di kandang sederhana dengan pagar bambu. Perawatan dilakukan secara rutin namun tidak rumit. Pakan diberikan dua kali sehari, pagi dan sore. Untuk kebutuhan pakan, Heri menggunakan pur Malindo 50 kilogram seharga sekitar Rp400 ribu yang cukup untuk 20 hari.
Dengan perawatan sederhana itu, hasilnya cukup menjanjikan. Dalam kondisi normal, dari 30 ekor bebek, Heri bisa memanen sekitar 20 - 25 butir telur per hari.
Telur telur tersebut langsung dibeli pengepul asal Ajibarang dengan harga Rp2.000 per butir. Artinya, Heri bisa mengantongi pendapatan kotor sekitar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per hari. “Lumayan buat nambah kebutuhan rumah tangga,”katanya.
3.Musim hujan dan pakan mahal jadi tantangan

Meski terlihat menjanjikan, usaha ternak bebek petelur bukan tanpa hambatan. Salah satu tantangan utama datang dari faktor cuaca. Saat musim hujan, produktivitas bebek menurun cukup signifikan. “Kalau hujan, biasanya telur turun, kadang cuma 15 sampai 17 butir sehari,”ujar Heri.
Selain itu, kenaikan harga pakan juga menjadi persoalan tersendiri. Ketika harga pakan naik, margin keuntungan otomatis tergerus. Namun Heri tetap bertahan, karena menilai usaha ini masih bisa berjalan dengan manajemen sederhana.
Menurutnya, bebek petelur memiliki masa produktif sekitar delapan bulan, lalu mengalami fase berhenti bertelur sekitar dua bulan sebelum kembali produktif.
4.Dukungan keluarga dan rencana ekspansi kandang

Dibalik ingin menjaga konsistensinya beternak bebek, Heri mengaku mendapat dukungan penuh dari sang istri. Dukungan ini menjadi salah satu faktor penting yang membuatnya berani berpikir lebih jauh.
Kedepan, Heri berencana mengembangkan usaha ternaknya dengan menambah sekitar 100 ekor bibit bebek berusia dua bulan. Ia juga tengah menyiapkan perluasan kandang agar kapasitas ternak bisa bertambah.
“Pelan pelan saja, yang penting jalan, berkembang, dan bermanfaat,sehingga kerja sebagai perangkat pun bisa terus berpikir positif,”ujarnya.
Saat ini, ternak bebek petelur menjadi sumber tambahan penghasilan bagi Heri, selain pekerjaannya sebagai perangkat desa dan profesi lainnya sebagai stone cruiser. Meski skalanya masih kecil, Heri menilai usaha ini cukup membantu menjaga kestabilan ekonomi keluarga.


















