TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Posisi Perempuan di Media Massa Indonesia Sudah Lebih Baik 

Jurnalis perempuan dan laki-laki punya kesempatan sama

ilustrasi Ilmu Komunikasi (IDN TImes/Arief Rahmat)

Semarang, IDN Times - Kesetaraan gender masih menjadi isu penting dalam dunia kerja, termasuk di media massa atau dunia jurnalistik. Dari bidang itu, faktanya jumlah pekerja media di sebuah perusahaan hingga kini masih banyak didominasi laki-laki dibandingkan perempuan.

Namun, tidak demikian menurut pandangan sejumlah pemimpin redaksi (pimred) media massa di Indonesia. Melalui acara Webinar yang digelar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak  (PPPA) yang mengangkat tema ‘Kesetaraan Gender di Ruang Redaksi’ mereka menyampaikan pendapatnya tentang masalah tersebut.

Baca Juga: Empati dan Kolaborasi Sebagai Kunci Jurnalisme Gender Responsif

1. Tidak ada perbedaan gender di dunia jurnalistik Indonesia

Pemimpin Redaksi Kompas TV, Rosianna Silalahi dalam Webinar Forum Jurnalis Perempuan Indonesia dan Kementeria PPPA. IDN Times/Anggun Puspitoningrum

Pemimpin Redaksi Kompas TV, Rosianna Silalahi mengatakan, selama perjalanan karirnya di dunia jurnalistik di Indonesia, tidak ada perbedaan gender terutama menyangkut karir dan kesejahteraan.

‘’Saya harus menceritakan dulu perjalanan hidup saya secara sekilas dan profesional. Saya merasa beruntung pada tahun 1996 mengawali karir jurnalistik di TVRI, kemudian di Liputan 6, dan kini Kompas TV. Dalam dunia pekerjaan itu, saat menjadi reporter, camera person, dan produser tidak ada pembatasan apakah pekerjaan itu harus dilakukan laki laki atau perempuan. Semua punya hak yang sama dalam kompetisi,’’ ungkapnya. 

Kondisi itu, menurut Rosi panggilan akrabnya, sangat beda dengan di Amerika Serikat. Dari jumlah host di televisi Amerika, masih tinggi dominasi kaum laki-laki daripada perempuan. ‘’Hal itu tidak dialami oleh kami yang berada di dunia broadcasting di Indonesia. Bahkan, kalau bicara soal kesetaraan gender baik kesejahteraan atau gaji, kesempatan untuk usaha, promosi, uji kompetensi, khususnya di tempat saya bekerja sekarang ini tidak ada perbedaan. Kami punya kesempatan yang sama untuk berkompetisi,’’ tuturnya.

2. Banyak perempuan memegang posisi kunci di media massa

Ilustrasi Bekerja Redaksi (IDN Times/Panji Galih Aksoro)

Kesetaraan gender di redaksi Kompas TV dapat dilihat dari hal yang paling sepele, yakni saat menyebut kamerawan. ‘’Orang sering bilang kamerawan, tapi di Kompas TV kami menyebutnya camera person atau campers. Kami tidak menyebut kamerawan karena cenderung ke persepsi laki-laki, padahal profesi ini setara buat siapapun termasuk perempuan, maka kami menyebutnya camera person atau campers,’’ kata Rosi.  

Demikian pula, dengan posisi lainnya bahkan pada posisi kunci. Banyak yang diisi oleh perempuan. Misalnya dari grup pimpinan Kompas TV, dari lima manajer ada satu perempuan, dari 34 eksekutif produser ada 13 perempuan. ‘’Namun, ini bukan soal pemimpinnya perempuan, tapi soal bagaimana leader tahu betul persoalan kesetaraan gender di tempat kerja,’’ tegasnya. 

Keberadaan kaum Hawa yang memiliki posisi sama atau setara dengan kaum Adam di dunia jurnalistik di Indonesia juga diakui oleh Pemimpin Redaksi Liputan6.com, Irna Agustina.

3. Meski komposisi belum ideal tapi sudah ada kesetaraan gender dalam penugasan di redaksi

Ilustrasi pekerja (IDN Times/Dwi Agustiar)

‘’Saya sepakat pada masa sekarang perempuan bisa berada di pucuk pimpinan di tempat kerjanya di media massa. Itu tandanya sudah tidak ada masalah gender di sana. Dalam pembicaraan saya dengan pimred perempuan lainnya, hampir tidak ada masalah gender dan penempatan orang, kesempatan promosi sama. Demikian juga di tempat saya bekerja, tidak ada lagi isu ini,’’ ungkapnya.

Untuk diketahui, saat ini perbandingan antara jurnalis laki-laki dan perempuan di Liputan6.com adalah 55:45. Menurut Irna, komposisi itu memang belum ideal, tapi sudah bagus. Misalnya, posisi redaktur pelaksana (redpel) tidak selalu laki-laki mengerjakan tema yang harus kelaki-lakian, demikian juga redaktur pelaksana yang perempuan. 

‘’Redpel bisnis dan tekno yang identik lelaki di Liputan6.com diisi perempuan, redpel lifestyle dan health diisi dengan lelaki, redpel bola dan sport diisi perempuan, jadi itu yang terjadi. Maka bagi saya, ketika pimrednya perempuan tidak ada masalah lagi masalah gender,’’ tuturnya.

4. Ruang redaksi terapkan pembuatan artikel dengan perspektif gender

Pemimpin Redaksi Liputan6.com, Irna Agustina. IDN Times/Anggun Puspitoningrum

Terkait konten, di ruang redaksi Liputan6.com juga sudah menerapkan pembuatan artikel yang lebih perspektif gender. ‘’Ketika saya menjadi pimred sudah tidak boleh lagi judul-judul yang seksis. Saya akan memberikan teguran keras apabila masih menemui berita dengan judul atau isi menyebut perempuan cantik, polisi ganteng. Bahkan, untuk berita kasus pelecehan seksual yang disajikan secara rinci sudah tidak boleh lagi, tidak apa-apa tidak mendapatkan trafik tapi kita bisa belajar bahwa perempuan yang dituduh melakukan asusila itu tidak hanya pelaku tapi juga korban. Kami memikirkan hingga ke jejak digital korban, bagaimana kalau kelak anaknya, saudaranya, suaminya melihat,’’ jelas Irna.

Untuk memberikan kewaspadaan kepada pekerja media di Liputan6.com, pihaknya secara rutin melakukan pelatihan atau capacity building terkait kesetaraan gender, perempuan, dan anak. Agar mereka menjadi tahu dan dapat dipraktekkan saat menulis artikel serta menularkan pengetahuan itu ke yang lain.

Baca Juga: Kasus Kekerasan Gender Bakal Melonjak Kalau WFH Berlaku Sampai 6 Bulan

Berita Terkini Lainnya