Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Alasan Kenapa Orang Kaya Asli Cenderung Suka Beli Mobil Bekas Dibanding Pamer Mobil Baru
Pelaku usaha mobil bekas Luksgarage di Palembang, M. Luqmanul Hakim (IDN Times/Rangga Erfizal)
  • Mobil baru mengalami penurunan nilai (depresiasi) terbesar hingga 30% pada tahun pertama, sehingga membeli mobil bekas berkualitas jauh lebih menguntungkan.

  • Orang kaya sejati memprioritaskan biaya peluang (opportunity cost) dengan mengalokasikan sisa dana ke aset produktif seperti investasi atau bisnis.

  • Pembelian mobil bekas juga menekan beban pajak tahunan dan premi asuransi, sekaligus mencerminkan keamanan finansial tanpa butuh validasi publik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Orang kaya asli sering memilih mobil bekas yang masih bagus. Mobil baru cepat turun harganya, sampai 30 persen dalam setahun. Mereka memakai sisa uang untuk bisnis, saham, atau rumah. Pajak dan asuransi mobil bekas juga lebih murah. Mobil bekas yang dirawat baik masih nyaman dipakai. Mereka tidak perlu pamer mobil baru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah memperhatikan tetangga atau pengusaha sukses yang kekayaannya melimpah, tetapi justru santai mengendarai mobil keluaran lima hingga 10 tahun lalu? Di sisi lain, mereka yang baru mengalami peningkatan kelas finansial kerap bergegas ke dealer demi memboyong mobil mewah keluaran terbaru.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Bagi kelompok old money atau jutawan mandiri, mobil bukanlah simbol status sosial, melainkan aset bergerak yang nilainya terus menyusut. Supaya tidak terjebak gengsi semata, kamu perlu memahami logika finansial di balik keputusan orang kaya asli yang lebih senang mengincar mobil bekas berkualitas.

1. Menghindari Jurang Depresiasi Terbesar

ilustrasi berapa bunga kredit mobil bekas di Indonesia? (pexels.com/Bryan Javier)

Orang kaya asli sangat paham matematika finansial dasar. Mobil merupakan salah satu komoditas dengan tingkat penurunan nilai (depresiasi) paling brutal di dunia. Begitu roda mobil baru berputar keluar dari pintu dealer, nilainya seketika merosot sekitar 15% hingga 20%.

Bahkan, pada tahun pertama pemakaian, nilainya bisa menyusut hingga 30% dari harga awal. Daripada menanggung kerugian tersebut, orang kaya memilih membeli mobil bekas berusia dua hingga tiga tahun. Kondisinya masih seperti baru (like new), namun harganya sudah terpangkas 30% hingga 40% dari harga awal. Mereka membiarkan pemilik pertama yang menelan pil pahit depresiasi tersebut.

2. Memaksimalkan Biaya Peluang (Opportunity Cost)

ilustrasi berapa bunga kredit mobil bekas di Indonesia? (pexels.com/chickenbunny)

Bagi jutawan sejati, mengunci dana sebesar Rp1 miliar hanya untuk sebuah mobil baru adalah bentuk alokasi modal yang mati. Mereka selalu mempertimbangkan biaya peluang (opportunity cost)—tentang sejauh mana uang tersebut bisa berkembang jika diputar di tempat lain.

Sebagai perbandingan, jika mereka membeli mobil bekas seharga Rp500 juta dan mengalokasikan sisa Rp500 juta ke instrumen produktif—seperti saham, bisnis, atau properti—dana tersebut berpotensi tumbuh berlipat ganda dalam beberapa tahun. Menghabiskan seluruh anggaran hanya demi pamer plat nomor terbaru dinilai sebagai keputusan finansial yang buruk.

3. Bebas dari Kebutuhan Mencari Validasi Publik

Kalla Toyota melaui Toyota Trust menawarkan kepastian dan ketenangan dalam transaksi mobil bekas. (Dok. Istimewa)

Secara psikologis, ada perbedaan besar dalam hal tingkat kepercayaan diri antara orang yang benar-benar kaya dan orang yang hanya ingin terlihat kaya. Jutawan sejati tidak merasa memiliki urgensi untuk membuktikan keberhasilan mereka kepada orang asing di jalan raya.

Mereka menyadari kekayaan yang dimiliki dan tidak membutuhkan pujian dari lingkungan luar. Bagi mereka, keamanan finansial dan privasi—seperti menghindari perhatian kriminal atau incaran pajak berlebih—jauh lebih berharga daripada kekaguman sesaat penikmat media sosial.

4. Memangkas Beban Pajak dan Premi Asuransi

Ilustrasi mobil bekas. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Membeli mobil baru memicu efek domino pengeluaran yang cukup tinggi. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan premi asuransi all-risk untuk mobil baru selalu dihitung berdasarkan nilai jual pasar tahun pertama yang masih melambung tinggi.

Dengan beralih ke mobil bekas berkualitas, biaya pajak tahunan dan premi asuransi bisa terpangkas hingga setengahnya. Padahal, dari segi fungsi dan kenyamanan berkendara, nilai utilitas yang didapatkan tetap sama persis.

5. Kualitas dan Daya Tahan Mobil Modern yang Makin Prima

Bursa mobil bekas se Jatim tahun 2019 di Jombang. IDN Times/Zainul Arifin

Kekhawatiran bahwa mobil bekas identik dengan risiko sering mogok sudah tidak lagi relevan. Dengan kemajuan teknologi otomotif saat ini, kendaraan berusia tiga hingga lima tahun yang memiliki rekam jejak servis (service record) resmi biasanya masih dalam kondisi sangat prima.

Selama riwayat perawatannya terjamin, membeli mobil bekas yang terawat menjadi keputusan logis yang minim risiko. Langkah ini memberikan kenyamanan maksimal tanpa perlu membayar harga penuh.

6. Memahami Beda Menjadi Kaya dan Memiliki Kekayaan

ilustrasi mobil bekas (unsplash.com/flotography)

Dalam buku legendaris The Millionaire Next Door, riset membuktikan bahwa mayoritas jutawan sejati justru memilih mengendarai mobil biasa atau bekas. Hal ini berkaitan dengan pemahaman mendasar antara menjadi kaya (being rich) dan memiliki kekayaan (being wealthy).

Menjadi kaya kerap diukur dari seberapa banyak uang yang dibelanjakan untuk barang kasat mata. Sebaliknya, memiliki kekayaan sejati diukur dari aset tak terlihat—seperti tabungan, portofolio investasi, dan aset properti—yang disimpan rapi tanpa perlu dipamerkan.

Mengincar mobil bekas berkualitas ketimbang menuruti gengsi mobil baru merupakan langkah cerdas untuk mengamankan kebebasan finansial jangka panjang.

Apakah Millennials setuju dengan pola pikir orang kaya asli ini saat membeli kendaraan? Atau masih merasa mobil baru punya nilai kepuasan tersendiri yang tak tertandingi? Tulis pendapat kamu di kolom komentar!

Curated For You

Editorial Team

Related Article