Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Unnes Jajaki Standar Residu Isoprocarb untuk Kopi pada 2028

Kota Semarang
3 min read
Unnes Jajaki Standar Residu Isoprocarb untuk Kopi pada 2028
Delegasi Republik Indonesia dalam sidang tersebut dipimpin Prof Joni Munarso dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai Head of Indonesian Delegates. Delegasi juga melibatkan Dr. Eka Yuli Astuti, serta Sigit Ismaryanto, S.E., yang mewakili pelaku usaha dan Dewan Rempah Indonesia. (IDN Times/Dok PUI PT Pascapanen Unnes)
  • Unnes melalui CoSpice menjajaki memasukkan Isoprocarb dan 2,4-Dichlorophenoxyacetic acid untuk kopi dalam daftar prioritas evaluasi residu pestisida global pada 2028.
  • Indonesia mendukung jadwal evaluasi pestisida JMPR dan menilai database residu berbasis komoditas serta wilayah produksi penting bagi keamanan pangan dan akses ekspor kopi-rempah.
  • CCPR57 menekankan penguatan riset, laboratorium, pengujian, harmonisasi SNI-Codex, serta kapasitas petani dan pelaku usaha untuk memenuhi standar keamanan pangan dan ketertelusuran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Semarang, IDN Times - PUI-PT Pascapanen Kopi dan Rempah (CoSpice) Universitas Negeri Semarang (Unnes) sedang melakukan penjajakan ke tingkat global untuk menawarkan hasil riset dua senyawa kimia untuk dipadukan dalam unsur produk kopi dan rempah. Dua senyawa kimia yang dimaksud ialah Isoprocarb dan 2,4-Dichlorophenoxyacetic acid.

Penjajakan itu dilakukan PUI PT Pascapanen Unnes saat ikut menghadiri The 57th Session of the Codex Committee on Pesticide Residues (CCPR57) di Beijing belum lama ini. 

  1. Konferensi di Beijing juga singgung penggunaan isoprocarb

    Agenda CCPR57 membahas daftar prioritas senyawa pestisida untuk evaluasi JMPR serta posisi strategis batas residu maksimum.
    Salah satu agenda strategis CCPR57 adalah penyusunan daftar prioritas senyawa pestisida yang akan dievaluasi oleh Joint FAO/WHO Meeting on Pesticide Residues (JMPR). Sekretaris Codex Sarah Cahill juga menegaskan posisi strategis MRL. (IDN Times/Dok PUI PT Pascapanen Unnes)

    Ketua PUI-PT Pascapanen Kopi dan Rempah (CoSpice) Universitas Negeri Semarang (Unnes) menuturkan pihaknya memberikan dimensi penting dalam delegasi Indonesia, khususnya dalam menghubungkan riset, teknologi pasca panen, standardisasi, kebijakan, dan kepentingan komoditas kopi rempah.

    Dalam ajang CCPR pihaknya bukan sekadar kehadiran akademik, melainkan bagian upaya membawa perspektif penelitian dan pengembangan kopi serta rempah Indonesia ke dalam ekosistem standardisasi pangan global.

    "Salah satu perkembangan yang sangat relevan bagi kopi Indonesia adalah adanya penjajakan untuk memasukkan Isoprocarb dan 2,4-Dichlorophenoxyacetic acid pada komoditas kopi dalam priority list tahun 2028," katanya dalam keterangan yang diterima IDN Times, Rabu (16/9/2026).

  2. Indonesia bangun database residu pestisida

    Tim PUI-PT Pascapanen Kopi dan Rempah Unnes melakukan penjajakan global atas riset dua senyawa kimia.
    PUI-PT Pascapanen Kopi dan Rempah (CoSpice) Universitas Negeri Semarang (Unnes) sedang melakukan penjajakan ke tingkat global untuk menawarkan hasil riset dua senyawa kimia. (IDN Times/Dok PUI PT Pascapanen Unnes)

    Posisi Indonesia, katanya juga mendukung jadwal dan priority list evaluasi pestisida yang diajukan JMPR untuk 2027, 2028, dan tahun-tahun berikutnya.

    Bagi industri kopi Indonesia, menurut Eka langkah tersebut memiliki arti strategis. Sebab adanya standar residu bukan hanya menyangkut keamanan pangan, tetapi juga menentukan diterimanya produk di pasar ekspor.

    "Karena itu, kebutuhan Indonesia ke depan bukan hanya menghasilkan kopi dan rempah berkualitas, tetapi juga membangun database residu pestisida yang kuat, berbasis komoditas dan wilayah produksi," ungkapnya. 

    Sedangkan, perwakilan pelaku usaha sekaligus Dewan Rempah Indonesia, Sigit Ismaryanto mengatakan perlunya perspektif ilmiah dan akademik yang menjadi penting karena perubahan MRL dapat berdampak langsung terhadap akses pasar, biaya kepatuhan, rantai pasok, proses produksi, hingga potensi hambatan perdagangan.

    "Dalam perdagangan global, suatu komoditas dapat memiliki kualitas fisik yang sangat baik, tetapi tetap menghadapi persoalan apabila tidak memenuhi persyaratan keamanan pangan negara tujuan," urainya. 

    Partisipasi Indonesia dalam CCPR57 memberikan satu pesan penting bahwa standar internasional merupakan bagian dari daya saing komoditas nasional. Kopi dan rempah Indonesia tidak cukup hanya unggul dalam cita rasa, aroma, keragaman varietas, dan kualitas pascapanen. Komoditas tersebut juga harus mampu memenuhi persyaratan keamanan pangan, ketertelusuran, serta regulasi negara tujuan. 

    Karena itu, keterlibatan pelaku usaha dalam forum CCPR menjadi bagian penting dari upaya memastikan agar kebijakan standardisasi internasional dapat dipahami dan diterapkan secara realistis oleh produsen dan eksportir.

    Adapun untuk pelaksanaan acara CCPR57 juga menegaskan masa depan standardisasi pangan semakin bergantung pada kualitas dan keterbukaan data ilmiah.

    CCPR juga mencatat perlunya mengatasi backlog evaluasi JMPR dan mendukung rencana kerja untuk mengembalikan siklus JMPR dan CCPR ke jadwal reguler.

    FAO bahkan menegaskan bahwa isu residu pestisida bukan semata persoalan keamanan pangan, melainkan juga berkaitan dengan perdagangan, pembangunan, dan ketahanan pangan.

    Keterlibatan perguruan tinggi khususnya Pusat Unggulan IPTEK CoSpice Unnes dalam CCPR dapat menjadi pijakan untuk memperkuat penelitian mengenai keamanan dan mutu kopi-rempah, residu pestisida, pascapanen, standardisasi, serta hilirisasi berorientasi pasar global. 

  3. Harus ada pembangunan hijau berbasis keamanan pangan

    ilustrasi penyiraman pestisida (pexels.com/EqualStock IN)
    ilustrasi penyiraman pestisida (pexels.com/EqualStock IN)

    Dalam pembukaan, Wakil Menteri Pertanian dan Urusan Pedesaan Republik Rakyat Tiongkok, Zhang Xingwang, menegaskan pentingnya keamanan pangan, pembangunan hijau, penggunaan pestisida berbasis ilmu pengetahuan, serta harmonisasi standar residu pestisida internasional. 

    Sementara itu, Ketua Codex Alimentarius Commission Allan Azegele menekankan bahwa enam dekade kerja CCPR menunjukkan pentingnya kerja sama antarnegara yang berlandaskan ilmu pengetahuan, saling menghormati, dan konsensus. 

    Karena itu, agenda setelah CCPR57 harus diarahkan pada penguatan riset residu pestisida, pengembangan database komoditas, penguatan laboratorium dan sistem pengujian, harmonisasi SNI dengan perkembangan Codex, serta peningkatan kapasitas petani dan pelaku usaha.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More