Teaching Factory Karya Speed di SMK Harapan Mulya Kendal melayani 200 motor per bulan dan mencatat omzet Rp601,5 juta dalam empat tahun.
[FOTO] Belajar di Bawah Mesin Orang Lain
Teaching Factory Karya Speed di SMK Harapan Mulya Kendal menggabungkan praktik otomotif dengan bisnis nyata, sehingga siswa menghadapi masalah kendaraan, konsumen, dan tanggung jawab layanan secara langsung.
Program inkubasi Enduro Home Service Pertamina Lubricants sejak 2022 mendorong bengkel melayani hingga 200 sepeda motor per bulan, termasuk servis kunjungan dan opsi pay later.
Selama empat tahun, Karya Speed membukukan omzet kumulatif Rp601,5 juta yang dikelola sekolah untuk fasilitas dan apresiasi siswa, sekaligus membentuk keterampilan serta mental wirausaha.
Kendal, IDN Times — Di teaching factory Karya Speed, ruang kelas SMK Harapan Mulya Kendal melebur dengan realitas bisnis. Ketika praktik otomotif mencetak perputaran uang hingga ratusan juta rupiah, keterampilan teknis para siswa langsung diuji oleh tuntutan konsumen dan akuntabilitas dunia kerja nyata.
Realitas tersebut salah satunya dirasakan oleh Muhammad Daffa. Wajah siswa kelas XII itu menyembul dari kolong sepeda motor, sementara peluh dan noda oli menempel di tangannya yang cekatan membereskan masalah teknis kendaraan pelanggan.
"Masalah di lapangan sangat beragam. Di sini saya belajar tantangan yang sebenarnya dalam menghadapi konsumen, termasuk cara berkomunikasi dan melayani mereka dengan baik," ujarnya kepada IDN Times, Rabu (16/9/2026).
Pengalaman Daffa menjadi bukti bahwa di bengkel Karya Speed, sekat ruang teori sekolah sudah lama runtuh. Kendaraan yang antre tidak lagi sekadar alat peraga bongkar-pasang yang menoleransi kesalahan, melainkan mobilitas riil warga yang memercayakan keselamatan mereka pada tangan-tangan montir muda.
Transformasi ruang kelas menjadi ekosistem bisnis riil itu tidak lepas dari program inkubasi wirausaha Enduro Home Service (EHS) Pertamina Lubricants. Sejak digerakkan tahun 2022, program tersebut sukses berevolusi melampaui standar kurikulum vokasi biasa.
Kepala SMK Harapan Mulya, Rikha Imaniarti mencatat, bengkel tersebut kini stabil menyerap hingga 200 unit sepeda motor per bulan.
Dengan tingginya volume pelanggan, skala operasional bengkel yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta, Brangsong, Kendal itu tidak lagi menyerupai simulasi hitung-hitungan belaka. Para siswa betul-betul mengeksekusi strategi pemasaran layaknya profesional di dunia kerja, mulai dari layanan servis kunjungan hingga menawarkan opsi paylater.
Dampak dari strategi tersebut terukur dengan jelas. Dalam empat tahun terakhir, Karya Speed telah mencetak akumulasi omzet hingga Rp601,5 juta. Angka itu menciptakan ekosistem mandiri, di mana perputaran uang dikelola kembali oleh sekolah untuk pengembangan fasilitas sekaligus apresiasi atas kerja keras para siswa.
Lebih jauh, pencapaian finansial tersebut membuktikan bahwa pendekatan Creating Shared Value (CSV) PT Pertamina Lubricants—yang mengintegrasikan tantangan sosial dengan penciptaan nilai ekonomi berkelanjutan—memberikan manfaat lebih dari sekadar mencetak mekanik siap pakai. Program itu secara langsung ikut menguji dan membentuk mental wirausaha yang tangguh.
Kehadiran pelanggan demi pelanggan memberikan nyawa pada setiap putaran kunci pas. Kondisi itu menegaskan bahwa pendidikan vokasi yang tepat guna mampu memutus rantai pengangguran. Pada akhirnya, dari bawah deru mesin milik orang lain, para siswa itu tengah tekun merakit fondasi masa depan mereka sendiri.





















![[FOTO] Belajar di Bawah Mesin Orang Lain](https://image.idntimes.com/post/20261022/ajp-2026-bengkel-4_bba04681-235d-4322-930b-ec3574301443_watermarked_idntimes-2.jpg)





