Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hari Sungai Sedunia 2026: Aksi Sungai Lestari di Kali Premulung Solo Targetkan 1000 Ton Sampah
Anggota Kelompok Pengelola Sampah Joyo Gumregah membersihkan sampah yang terjaring trash boom saat pelaksanaan Program Sungai Lestari di aliran Sungai Premulung, Joyotakan, Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (26/9/2026). (IDN Times/Dhana Kencana)
  • Program Sungai Lestari di Kali Premulung, Surakarta, melibatkan pemerintah Indonesia, Uni Emirat Arab, Clean Rivers, dan UNDP untuk menekan limbah domestik di sungai.

  • KLHK mencatat 70,7 persen dari 1.480 sungai tercemar sedang pada semester I 2025; sungai besar berisiko mengalirkan hingga 500.000 ton sampah plastik ke laut tiap tahun.

  • Trash boom di Kali Premulung menahan sampah untuk dipilah menjadi kompos, daur ulang, atau residu; warga Joyotakan juga diedukasi memisahkan sampah rumah tangga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Kali Premulung Solo, orang-orang memasang jaring terapung untuk menahan sampah sungai. Pemerintah, UNDP, dan kelompok lingkungan bekerja bersama. Sampah diambil dua kali seminggu. Sampah daun bisa jadi kompos. Plastik dipilah untuk didaur ulang. Warga juga diajak memisahkan sampah dari rumah supaya sungai lebih bersih.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surakarta, IDN Times - Peringatan Hari Sungai Sedunia (World Rivers Day) yang jatuh pada Minggu (27/9/2026), menjadi pengingat pentingnya menjaga kebersihan ekosistem perairan. Sungai memegang peran krusial sebagai sumber air bersih, pengendali banjir, sekaligus rumah bagi keanekaragaman hayati.

Sebagai wujud aksi nyata penyelamatan lingkungan, Program Sungai Lestari berjalan di enam kabupaten/kota di Indonesia, dengan salah satu fokus utamanya berada di Kali Premulung, Kota Surakarta. Program tersebut merupakan inisiatif kerja sama antara Pemerintah Indonesia, Pemerintah Uni Emirat Arab melalui lembaga Clean Rivers, dan UNDP untuk membersihkan sungai dari ancaman limbah domestik.

Kondisi Kritis Sungai di Indonesia

Anggota Kelompok Pengelola Sampah Joyo Gumregah membersihkan sampah yang terjaring trash boom saat pelaksanaan Program Sungai Lestari di aliran Sungai Premulung, Joyotakan, Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (26/9/2026). (IDN Times/Dhana Kencana)

Langkah intervensi tersebut mendesak. Berdasarkan data pemantauan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada semester I tahun 2025, sebanyak 70,7 persen dari 1.480 sungai di Indonesia berstatus tercemar sedang.

Di sisi lain, kebocoran sampah plastik ke lingkungan terbuka dan perairan mencapai 36 persen dari total timbulan nasional. Sungai-sungai besar seperti Bengawan Solo berisiko menjadi jalur utama yang menghanyutkan 350.000 hingga 500.000 ton sampah plastik menuju lautan setiap tahunnya.

Aksi Nyata di Kali Premulung Surakarta

Sejumlah anggota Kelompok Pengelola Sampah Joyo Gumregah memilah sampah yang terjaring trash boom saat pelaksanaan Program Sungai Lestari di aliran Sungai Premulung, Joyotakan, Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (26/9/2026). (IDN Times/Dhana Kencana)

Mengatasi krisis tersebut, implementasi program di Surakarta menggandeng Yayasan Bina Karta Lestari (Bintari) dan Yayasan Veritas Edukasi Lingkungan (VEL). Salah satu langkah taktisnya adalah pemasangan infrastruktur trash boom (jaring terapung penahan sampah) di hulu Kali Premulung.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta, Herwin Tri Nugroho Adi menjelaskan, kolaborasi tersebut membidik target yang terukur.

"Skema yang dikerjakan adalah sampah yang diambil dari sungai akan langsung dipilah dan diolah oleh mitra lokal, sehingga harapannya tidak dikirim ke TPA Putri Cempo. Target kami sampai menangani 1.000 ton sampah," ujar Herwin, Sabtu (26/9/2026).

National Project Manager UNDP, Ahmad Bahri Rambe menambahkan, Surakarta menjadi percontohan bersama Surabaya, Sidoarjo, Bali, dan Bekasi.

“Kami berharap ini bisa menjadi pilot project bagi 514 kota/kabupaten lainnya di Indonesia dalam menerapkan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik,” terangnya.

Integrasi Pengelolaan Sampah dan Peran Warga

Sejumlah anggota Kelompok Pengelola Sampah Joyo Gumregah menimbang sampah yang terjaring trash boom saat pelaksanaan Program Sungai Lestari di aliran Sungai Premulung, Joyotakan, Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (26/9/2026). (IDN Times/Dhana Kencana)

Keberhasilan program tersebut bertumpu pada perubahan perilaku masyarakat darat. Di Kelurahan Joyotakan sendiri terdapat 47 Kader Pilah Sampah yang turun langsung mengedukasi warga agar memisahkan limbah organik dan anorganik dari rumah tangga.

Lurah Joyotakan, Bambang Kristianto menyatakan, pentingnya sinergi pengelolaan antara darat dan sungai.

"Kami membentuk Kelompok Masyarakat (Pokmas) Joyo Gumregah. Pengelolaan di darat mulai berjalan dari rumah, lalu kami sinkronkan dengan penanganan sampah di sungai," kata Bambang.

Sampah sungai yang terjaring trash boom diangkat rutin dua kali seminggu, kemudian diproses melalui alur berikut:

  • Sampah Organik: Diolah menjadi kompos memanfaatkan metode lubang (jugangan) di sekitar sempadan sungai.

  • Sampah Anorganik: Diangkut ke pusat pengelolaan (Material Recovery Facility/MRF) Joyo Gumregah untuk dipilah lebih detail berdasarkan jenis plastiknya agar bisa didaur ulang.

  • Residu: Ditiriskan, ditimbang, lalu langsung dikirim ke TPA Putri Cempo.

Hanya Tangani Sampah Sungai

Sejumlah anggota Kelompok Pengelola Sampah Joyo Gumregah memilah sampah yang terjaring trash boom saat pelaksanaan Program Sungai Lestari di aliran Sungai Premulung, Joyotakan, Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (26/9/2026). (IDN Times/Dhana Kencana)

Terpisah, Ketua Yayasan Bintari, Feri Prihantoro menekankan bahwa kondisi sungai mencerminkan pengelolaan di permukiman.

"Banyaknya sampah yang tercegah di trash boom mengindikasikan ada yang salah dengan pengelolaan sampah daratnya," tutur Feri.

Hal itu didukung oleh pembagian tugas yang jelas di lapangan.

Ketua Pokmas Joyo Gumregah, Purnomo memaparkan, "Pokmas hanya menangani sampah dari air sungai. Kalau sampah darat atau rumah tangga, kita kelola lewat bank sampah secara terpisah agar berjenjang."

Curated For You

Editorial Team

Related Article