UNDP Pilih Solo untuk Program Clean Rivers Cegah Sampah ke Sungai

- Solo dipilih UNDP dan Clean Rivers sebagai lokasi program pencegahan sampah bocor ke sungai, berdasarkan kajian bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan.
- Clean Rivers menyediakan pendanaan, keahlian, dan praktik terbaik, sedangkan UNDP bersama organisasi sipil lokal menjalankan solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan Solo.
- Program menekankan edukasi dan perubahan perilaku warga, bukan hanya pemasangan trash boom, agar pengelolaan sampah dari sumber mencegah pencemaran sungai hingga laut.
Solo, IDN Times - Kota Solo resmi dipilih sebagai salah satu lokasi pelaksanaan program pencegahan kebocoran sampah ke sungai yang digagas Clean Rivers, yayasan berbasis di Uni Emirat Arab (UAE), bersama United Nations Development Programme (UNDP). Program ini tidak hanya berfokus pada pemasangan alat penahan sampah, tetapi juga mengubah perilaku masyarakat agar lebih peduli terhadap sungai dan pengelolaan sampah dari sumbernya.
Pemilihan Solo dilakukan berdasarkan hasil kajian UNDP bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Dalam pelaksanaannya, Clean Rivers memberikan dukungan pendanaan, akses ke tenaga ahli, hingga berbagi praktik terbaik, sementara implementasi di lapangan dilakukan oleh UNDP bersama organisasi masyarakat sipil (CSO) lokal.
1. Solo Dipilih karena Dinilai Siap Jalankan Program.

Associate Director Programmes and Impact Clean Rivers, Reinier van der Lely, mengatakan organisasinya memiliki misi membantu negara-negara di kawasan Global South, seperti Indonesia, Filipina, dan Brasil, dalam mencegah sampah bocor dari daratan menuju sungai dan laut.
Di Indonesia, kata Reinier, Clean Rivers tidak menjalankan program secara langsung. Seluruh implementasi diserahkan kepada UNDP yang kemudian memilih Solo sebagai salah satu kota sasaran.
“UNDP yang memilih Solo sebagai salah satu kota dalam program ini. Kami mendukung melalui pendanaan, berbagi keahlian, serta memfasilitasi kolaborasi berbagai pihak,” ujarnya.
Menurut Reinier, pihaknya percaya solusi terbaik harus lahir dari daerah itu sendiri. Karena itu, UNDP menunjuk organisasi masyarakat sipil lokal yang memahami karakteristik wilayah untuk menyusun dan menjalankan program.
Ia menambahkan, Clean Rivers tidak membawa teknologi tertentu dari luar negeri. Teknologi maupun pendekatan yang diterapkan sepenuhnya disesuaikan dengan hasil asesmen kebutuhan di lapangan.
“Setiap kota memiliki karakteristik yang berbeda. Apa yang berhasil di Solo belum tentu cocok diterapkan di Surabaya atau Bekasi. Karena itu teknologi dipilih berdasarkan kebutuhan dan konteks lokal,” jelasnya.
Selain dukungan pendanaan, Clean Rivers bersama UNDP juga mendorong pertukaran pengetahuan antardaerah agar pengalaman dan praktik terbaik yang berhasil diterapkan di satu wilayah dapat menjadi pembelajaran bagi daerah lain.
2. Tak Hanya Trash Boom, Program Fokus Ubah Perilaku Warga

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solo, Herwin, mengatakan perwakilan Clean Rivers telah diajak meninjau sejumlah lokasi, seperti Laweyan dan Joyotakan, untuk memastikan program yang dirancang benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.
Menurutnya, kunjungan tersebut bertujuan melihat langsung kesiapan masyarakat sekaligus mencocokkan komitmen Pemerintah Kota Solo dengan kebutuhan program yang telah disusun UNDP.
“Kemarin kami ajak ke Laweyan dan Joyotakan, hari ini kembali mengecek ke Laweyan. Mereka ingin memastikan apakah komitmen yang kami sampaikan benar-benar aplikatif. Tadi malam mereka menyampaikan bahwa program ini memang bisa diterapkan di Solo,” ujar Herwin.
Ia menjelaskan, program tidak hanya mengandalkan pemasangan trash boom sebagai alat penahan sampah di sungai. Edukasi kepada masyarakat menjadi fokus utama agar terjadi perubahan perilaku dalam mengelola sampah.
“Mereka akan membantu edukasi untuk mengubah perilaku, kebiasaan, dan mindset masyarakat dalam melihat sampah maupun sungai,” katanya.
3. Bangun Kesadaran bahwa Sampah Bisa Mengotori Dunia

Herwin menuturkan, salah satu pesan yang ingin dibangun melalui program tersebut adalah meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa sampah yang dibuang ke sungai dapat terbawa hingga ke laut dan mencemari lingkungan di berbagai negara.
Karena itu, perubahan pola pikir dinilai menjadi fondasi utama dalam upaya mengurangi kebocoran sampah ke sungai.
“Harapannya masyarakat sadar bahwa sampah yang dibuang ke sungai bisa terbawa sampai ke negara lain. Karena itu pengelolaan sampah harus dimulai dari diri kita sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, Reinier mengaku belum dapat memberikan penilaian secara spesifik mengenai sistem pengelolaan sampah di Solo. Namun, setelah berdialog dengan Pemerintah Kota Solo, Kementerian Lingkungan Hidup, serta komunitas lokal, ia melihat adanya komitmen yang kuat untuk memperbaiki pengelolaan sampah.
“Kami melihat ada ambisi dan komitmen yang kuat dari pemerintah daerah maupun masyarakat. Dengan sumber daya yang tersedia, mereka telah bekerja ke arah yang benar. Kami optimistis program ini menjadi langkah positif untuk memperkuat pengelolaan sampah di Solo,” pungkasnya.


















