Kendal, IDN Times - Siang itu di Brangsong, Kabupaten Kendal, debu Jalur Pantura beterbangan tertiup angin. Di halaman sebuah bangunan beratap baja ringan, deru kompresor berpadu dengan uap bensin dan aroma pelumas.
Melawan Kutukan Pengangguran dari Bawah Kolong Mesin
Bengkel Teaching Factory Karya Speed di SMK Harapan Mulya memberi siswa pengalaman melayani pelanggan nyata, menjawab kesenjangan kompetensi yang berkaitan dengan tingginya pengangguran lulusan SMK.
Sejak didampingi Pertamina Lubricants melalui Enduro Home Service pada 2022, bengkel menerapkan standar industri, pengelolaan limbah oli, efisiensi mesin, serta tata kelola bisnis profesional.
Bermodal pinjaman Rp20 juta, Karya Speed mencatat omzet akumulasi Rp601,5 juta; dari sekitar 150 peserta program, 20 lulusan telah merintis bengkel sendiri.
Seketika, Ahmad Masmican (43) mematikan mesin motor skutiknya, lalu melepas helm dengan raut wajah lega. Sehari-hari, aspal panas yang membentang antara Kabupaten Kendal dan Kota Semarang menjadi ladang tempatnya mencari nafkah. Sebagai pengemudi ojek online (ojol), skutik tersebut adalah tulang punggung ekonomi keluarga yang tentu membutuhkan perawatan rutin.
Menariknya, alih-alih membawa motornya ke bengkel resmi di pusat kota, siang itu ia memilih berbelok melewati gerbang Karya Speed, sebuah bengkel Teaching Factory milik SMK Harapan Mulya.
Masmican punya alasan tersendiri menjadikan bengkel sekolah itu sebagai tempat langganan selama setahun terakhir. Setiap dua minggu, ia selalu menyempatkan diri merawat motornya di bengkel itu lantaran perpaduan harga yang pas dan kualitas hasil yang sempurna.
"Saya sering servis di sini. Milih di sini soalnya murah dan pelayanannya bagus. Meskipun ditangani pelajar, kualitasnya gak kalah sama bengkel lain," ungkapnya, Rabu (16/9/2026).
Untuk layanan servis rutin dan ganti oli, bengkel yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta, Brangsong Utara tersebut hanya mematok tarif Rp85 ribu.
"Harganya sangat terjangkau buat saya yang ojol. Tarikan mesinnya juga jadi enteng kalau habis servis di sini. Apalagi pakai olinya yang bagus, Pertamina Enduro itu wanginya khas, kados (seperti) permen. Malah kadang dapat diskon cuci gratis,” tambah Masmican dengan logat Jawanya yang kental.
Kepercayaan dari pelanggan setia seperti Masmican itulah yang menjadi ruang belajar tidak ternilai bagi para siswa. Siang itu, keluhan motor sang ojol ditangani langsung oleh Dimas Sidik (15). Siswa kelas X tersebut tampak mengenakan seragam mekanik merah yang ujung lengannya masih sedikit kebesaran di bahu.
Meski berhadapan dengan pelanggan dewasa, Dimas berusaha tampil tenang. Ia berjongkok, meraba area CVT, lalu menyorotkan senter untuk melakukan pemeriksaan awal. Tangannya sesekali bergetar saat menyeimbangkan kunci pas, namun guru pembimbing yang mengawasi dari kejauhan sengaja membiarkan Dimas mengatasi rasa gugupnya sendiri.
Setelah lima menit mengecek blok mesin, Dimas bangkit dan menatap Masmican. Dengan bahasa yang sederhana dan santun, ia menjelaskan kondisi komponen penggerak yang mulai aus, perkiraan waktu perbaikan, hingga rincian biayanya. Penjelasan itu pun langsung disambut dengan anggukan setuju.
Bagi Dimas, melayani pelanggan secara langsung memberikan refleksi diri yang tidak bisa didapatkan di dalam kelas.
"(Kalau di sekolah) dapat ilmu dari buku pelajaran itu pasti. Tapi di bengkel ini, saya belajar menghadapi pelanggan sungguhan, menahan panik, dan berani praktik memegang mesin yang menyala," ungkap Dimas, yang diam-diam menyimpan mimpi untuk membuka bengkel sendiri di desanya, Tanggungsari, kelak.
Menjembatani Teori dan Realitas Industri
Seorang siswa melayani pelanggan di meja pelayanan bengkel Karya Speed, Rabu (16/9/2026). Selain pekerjaan teknis di area servis, kegiatan bengkel juga mempertemukan siswa dengan konsumen yang datang membawa kebutuhan kendaraannya. (IDN Times/Dhana Kencana) Interaksi Masmican dan Dimas di Karya Speed siang itu seolah menjadi oase atas persoalan menahun dunia pendidikan vokasi di Tanah Air. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) konsisten menyumbang Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.
Pada Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2026, TPT lulusan SMK berada di angka 7,74 persen–menempati posisi teratas di atas lulusan SMA (6,23 persen) dan universitas (6,13 persen). Bahkan, pada Agustus 2025, angkanya sempat menyentuh 8,63 persen.
Tingginya angka pengangguran itu menyingkap sebuah masalah yang mendasar. Selama ini, banyak siswa SMK menghabiskan tiga tahun masa belajar hanya untuk mengotak-atik mesin peraga di ruang kelas. Akibatnya, mereka gagap ketika dihadapkan dengan tekanan dunia kerja yang sesungguhnya—mulai dari tuntutan tenggat waktu hingga komplain langsung dari pelanggan.

Infografik: TPT Sakernas 2026. (IDN Times/Dhana Kencana) Kesenjangan tersebut diakui oleh para akademisi. Pakar pendidikan kejuruan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Prof Herminarto Sofyan menyoroti pentingnya pendekatan pembelajaran yang mendekatkan siswa pada kondisi kerja nyata.
Dalam kajiannya berjudul Optimalisasi Pembelajaran Berbasis Kompetensi pada Pendidikan Kejuruan, model pembelajaran berbasis industri atau teaching factory seperti yang berjalan di bengkel Karya Speed, dinilai sebagai jalan keluar yang paling efektif. Melalui model itu, siswa benar-benar ditempa melalui proses, standar, dan lingkungan kerja yang dirancang semirip mungkin dengan industri aslinya.
Dalam konteks itulah keberadaan Karya Speed menjadi sangat relevan. Di bengkel itu, motor yang ditangani bukanlah alat peraga yang bisa dibongkar-pasang seenak sendiri tanpa risiko, melainkan kendaraan operasional milik pelanggan sungguhan. Sehingga, setiap pekerjaan yang dilakukan siswa membawa konsekuensi riil terhadap uang, waktu, dan reputasi.
Tentu saja, untuk mencapai standar profesional dan memutus rantai masalah vokasi tersebut, transformasi di Karya Speed tidak terjadi dalam semalam. Langkah berani pertama kali diinisiasi oleh Kepala SMK Harapan Mulya, Rikha Imaniarti, yang merombak total tata letak bengkel.
"Dulu bengkel ini menghadap ke dalam, seolah bersembunyi di balik tembok sekolah. Saya putuskan bongkar total dan hadapkan gerbangnya langsung ke jalan raya Pantura. Kami ingin menebar pesan bahwa anak SMK tidak hanya jago membongkar mesin peraga di ruang tertutup, tapi mereka siap mental berhadapan langsung dengan komplain, uang, dan ekspektasi masyarakat luas," tegas Rikha.
Meski demikian, sekadar membalik arah pintu gerbang saja belum cukup untuk membangun ekosistem layanan yang andal. Momentum transformasi yang sesungguhnya baru tumbuh pada November 2022, saat PT Pertamina Lubricants menggandeng sekolah tersebut melalui program Enduro Home Service (EHS).
Merawat Mesin, Menekan Jejak Karbon
Para siswa menangani sepeda motor salah pelanggan di area servis bengkel Karya Speed, Rabu (16/9/2026). Kepala SMK Harapan Mulya Rikha Imaniarti mengatakan bengkel tersebut melayani sedikitnya sekitar 200 sepeda motor setiap bulan. (IDN Times/Dhana Kencana) Intervensi Pertamina melalui program EHS benar-benar mengubah wajah bengkel secara drastis. Suntikan dukungan berupa pasokan pelumas berkualitas, alat ukur berstandar industri, hingga identitas jenama (branding) sukses memupuk kepercayaan konsumen. Namun, ada satu nilai tambah yang jauh melampaui dari sekadar urusan bongkar-pasang mesin. Yakni program tersebut menginjeksi prinsip keberlanjutan lingkungan (sustainability)—sebuah standar operasional yang nyaris tidak pernah disentuh oleh bengkel jalanan konvensional.
Penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) berskala mikro itu terlihat nyata siang itu. Saat Dimas membuka baut tap oli di motor Masmican, cairan pelumas hitam pekat mengalir deras ke dalam wadah penampung. Di banyak bengkel tradisional, limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) semacam itu kerap dibiarkan meresap ke tanah atau terbuang ke selokan, yang perlahan meracuni air tanah warga dan lingkungan setempat.
Di Karya Speed, praktik ceroboh semacam itu diharamkan. Sejak hari pertama masuk ke bengkel, para siswa dibekali Standar Operasional Prosedur (SOP) tata kelola lingkungan yang ketat.Â
“Oli bekas wajib ditampung ke dalam drum khusus bersirkulasi tertutup, yang nantinya diserahkan kepada pihak ketiga pengelola limbah tersertifikasi,” imbuh Rikha.
Tanggung jawab ekologis tersebut tidak berhenti pada urusan limbah, tapi juga menyentuh aspek efisiensi emisi gas buang. Sebab, ketika tangan Dimas sibuk mengganti pelumas, sesungguhnya ia tidak sekadar merawat performa mesin konsumen, namun juga berkontribusi menekan jejak karbon.
Hal tersebut dimungkinkan karena para guru secara konsisten menanamkan pemahaman teknis bahwa servis rutin dan penggunaan pelumas berspesifikasi tinggi–seperti Pertamina Enduro 4T Racing SAE 10W-40 dan Pertamina Enduro Matic Series–adalah kunci menjaga stabilitas suhu mesin. Dengan suhu yang stabil, proses pembakaran bahan bakar menjadi jauh lebih sempurna, sekaligus meningkatkan efisiensi bahan bakar rata-rata 3 hingga 5 persen.
Dampak efisiensi itu menjadi angin segar bagi ojol seperti Masmican, yang bisa membakar tiga hingga empat liter bensin sehari. Maka dari itu, penghematan sekecil apa pun akan sangat membantunya menekan pengeluaran hariannya.
Di sisi lain, pembakaran yang efisien secara otomatis mereduksi volume polutan berbahaya—seperti karbon monoksida (CO) dan hidrokarbon (HC)—yang menyembur dari knalpotnya.
Inisiatif berskala mikro di sudut bengkel sekolah itu tegak lurus dengan peta jalan transisi energi nasional. Langkah kolektif menekan emisi gas buang dari tingkat tapak tersebut menjadi pilar penyokong bagi komitmen Pertamina mengejar target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060, sekaligus mendukung dekarbonisasi di sektor transportasi.
Pendekatan komprehensif yang memadukan edukasi, ekonomi, dan ekologi tersebut beresonansi kuat dengan visi keberlanjutan Pertamina. Corporate Secretary Pertamina Lubricants, Rika Gresia Wahyudi menjelaskan, pendekatan terintegrasi semacam itu adalah wujud nyata Creating Shared Value (CSV).
"Kami tidak sekadar memberikan modal alat. Tujuannya adalah menanamkan jiwa wirausaha sekaligus tanggung jawab industri sejak dini. Saat siswa melayani konsumen dari luar sembari menerapkan tata kelola lingkungan dan bisnis yang baik, di titik itulah jurang pemisah antara sekolah dan industri berhasil dijembatani," papar Rika.
Sistem Bisnis Modern dan Literasi Finansial
Seorang siswa menangani bagian mesin sepeda motor yang terbuka di bengkel Karya Speed, Rabu (16/9/2026). Dalam program EHS, siswa SMK memperoleh pelatihan keterampilan otomotif selain materi pemasaran dan kewirausahaan. (IDN Times/Dhana Kencana) Berbekal ekosistem pendampingan tersebut, Karya Speed perlahan bermanuver layaknya sebuah perusahaan rintisan (startup). Kepala Jurusan Teknik Bisnis Sepeda Motor, Agus Puryanto menuturkan, bengkel yang awalnya hanya bermodal pinjaman kas sekolah sebesar Rp20 juta, kini membukukan omzet kumulatif sekitar Rp601,5 juta (November 2022 - Agustus 2026), dengan kapasitas layanan 200 motor per bulan.
Lompatan itu tidak lepas dari kelincahan strategi bisnis para siswa yang agresif menyasar pasar Business-to-Business (B2B). Tidak lagi sekadar menunggu pelanggan lewat, mereka proaktif proaktif menawarkan "Servis Kunjung" ke instansi pemerintah dan mengadopsi sistem paylater bagi klien korporat.
"Kami mengikat kerja sama dengan sejumlah perusahaan kurir logistik dan ekspedisi. Armada pengantar paket yang mobilitasnya tinggi itu rutin diservis di sini. Nantinya, tagihan dikumpulkan dan dibayar secara kolektif oleh pihak perusahaan pada akhir bulan," ungkap Agus.
Dari sisi manajerial, arus kas bengkel dipisahkan sepenuhnya dari pembukuan sekolah. Laba operasional diputar kembali untuk menambah kelengkapan alat diagnostik digital. Sisanya didistribusikan sebagai uang apresiasi berkala bagi siswa yang bertugas—dihitung proporsional berdasarkan jam kerja, tingkat kesulitan, dan kontribusi harian.Â
Melalui sistem ini, Agus menambahkan, siswa menyerap literasi finansial sekaligus memahami bahwa kesejahteraan akan selalu sejalan dengan keahlian.
Menyelamatkan Bonus Demografi
Sejumlah siswa mengerjakan perbaikan sebuah sepeda motor di bengkel Karya Speed, Rabu (16/9/2026). Kegiatan bengkel memberi ruang bagi siswa untuk menjalankan pekerjaan secara bersama sekaligus menerapkan keterampilan otomotif yang mereka pelajari di sekolah. (IDN Times/Dhana Kencana) Dampak paling berharga dari seluruh ekosistem pendampingan tersebut terekam jelas pada rekam jejak para alumninya, seperti Sumaidi. Ia yang merupakan alumnus angkatan awal berhasil menembus seleksi Enduro Student Program (ESP), program inkubasi bisnis lanjutan Pertamina yang dirancang khusus bagi lulusan SMK.
Setelah digembleng melalui pelatihan intensif selama 40 hari di Balai Besar Bandung dan menjuarai kompetisi mekanik nasional, Sumaidi membawa pulang modal usaha senilai Rp30 juta dalam bentuk kelengkapan alat dan branding. Kini, ia mengelola bengkel mandiri dengan omzet menyentuh Rp40 juta per bulan, dan bengkelnya ditunjuk sebagai lokasi magang wajib bagi adik-adik kelasnya.
"Sebelum ikut program ESP, saya sempat takut memikirkan nasib setelah lulus, apalagi orang tua saya hanya petani biasa. Bantuan Pertamina tidak cuma ngasih kompresor atau kunci pas, tapi memberi saya keberanian. Sekarang, bengkel ini bukan cuma menghidupi keluarga saya, tapi juga jadi ruang bagi adik-adik kelas merajut harapan masa depan mereka," kenang Sumaidi.

Infografik: Perbandingan Program CSR Pertamina Lubricants. (IDN Times/Dhana Kencana) Kisah Sumaidi bukan anomali. Dari sekitar 150 siswa yang dilatih melalui program EHS sejak 2022, tercatat sebanyak 20 lulusan telah berhasil merintis dan mendirikan bengkel sendiri. Keberhasilan itu adalah cetak biru (blue print) berskala mikro untuk mengamankan dan menyelamatkan Bonus Demografi menuju Indonesia Emas 2045.Â
Akan tetapi, bonus tersebut bak pedang bermata dua. Jika angkatan kerja muda itu dibiarkan lulus tanpa keahlian yang relevan dengan kebutuhan industri, ledakan demografi justru akan berbalik arah menjadi bencana pengangguran massal.
Intervensi Pertamina melalui program EHS dan ESP hadir sebagai katup pengaman yang memastikan agar angkatan muda itu tidak berujung menjadi beban negara, melainkan bisa tumbuh menjadi roda penggerak ekonomi yang mandiri.
Lebih jauh lagi, untuk mengasah wawasan kebangsaan dan global, Pertamina ikut mengapresiasi siswa-siswa berprestasi dengan membawa mereka melihat langsung pusaran industri otomotif dunia. Pengalaman eksklusif itu merentang mulai dari menonton ajang MotoGP di Sepang, Malaysia, hingga mengikuti kelas masterclass bersama para ahli mekanik dari VR46 Academy di Sirkuit Mandalika.
Kondisi itu merupakan langkah elegan yang perlahan memperluas cakrawala mimpi anak-anak desa di Kabupaten Kendal.
Teaching Factory Karya Speed yang berada di lingkungan SMK Harapan Mulya, Kendal, Rabu (16/9/2026). Bengkel ini menjadi bagian dari program Enduro Home Service Pertamina Lubricants dan melayani masyarakat dengan melibatkan siswa dalam kegiatan perbengkelan. (IDN Times/Dhana Kencana) Menjelang senja di Brangsong, deru kompresor di halaman Karya Speed perlahan mereda.
Dimas tampak telaten mengencangkan baut terakhir di tutup blok CVT motor milik Masmican. Sang pengemudi ojol pun tersenyum lega mendengar ritme mesinya kembali berdesing halus dan stabil. Ia kemudian berjalan ke meja kasir, memindai kode QRIS— transaksi nirkontak yang terhubung dan terekam rapi dalam sistem perbendaharaan bengkel sekolah.
Di sudut ruangan bengkel dengan rating bintang lima pada platform Google Review itu, Dimas mencuci tangannya dengan sabun, membiarkan buihnya meluruhkan sisa-sisa pelumas hitam di sela-sela jarinya. Remaja berusia 15 tahun dari pelosok desa itu baru saja merampungkan satu lagi hari kerja yang produktif.
Di bawah atap bengkel sekolah, yang dipadukan dengan komitmen kuat ekosistem energi nasional, para siswa SMK Harapan Mulya membuktikan jika mereka tidak sekadar belajar memperbaiki motor orang lain. Lebih dari itu, bermodalkan insting mekanik yang terasah, literasi finansial, dan kesadaran lingkungan, Dimas beserta teman-temannya sesungguhnya sedang tekun merakit masa depan mereka sendiri.

Infografik: Mencetak Wirausahawan Otomotif Muda dari Sekolah. (IDN Times/Dhana Kencana) Belajar di Bawah Mesin Orang Lain



















![[FOTO] Belajar di Bawah Mesin Orang Lain](https://image.idntimes.com/post/20261022/ajp-2026-bengkel-4_bba04681-235d-4322-930b-ec3574301443_watermarked_idntimes-2.jpg)





