KAI Daop 5 Resmikan Patung R. Soetedja, Ini 3 Fakta di Baliknya

KAI Daop 5 Purwokerto meresmikan Patung Raden Soetedja di area boarding Stasiun Purwokerto pada 21 Oktober 2026, sebagai penghargaan bagi komponis pencipta lagu Di Tepinya Sungai Serayu.
Keluarga dan ahli waris R. Soetedja tidak menarik royalti atas penggunaan Di Tepinya Sungai Serayu sebagai bel kedatangan kereta di stasiun-stasiun Daop 5 Purwokerto.
R. Soetedja, kelahiran Banyumas 1909 dan lulusan Konservatori Musik Roma, dikenalkan lewat patung, biografi, serta replika biola dalam kolaborasi KAI dan Yayasan Lestari Banjoemas Raya.
Banyumas, IDN Times – Penumpang kereta api yang tiba di Stasiun Purwokerto tentu tidak asing dengan alunan lagu Di Tepinya Sungai Serayu. Lagu keroncong tersebut telah lama menjadi penanda kedatangan kereta api di wilayah kerja PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 5 Purwokerto.
Namun, tidak semua penumpang mengetahui siapa pencipta lagu yang identik dengan perjalanan kereta api di Banyumas tersebut. Untuk mengenang sosok komponis legendaris itu, KAI Daop 5 Purwokerto meresmikan Patung Raden Soetedja di area boarding Stasiun Purwokerto, Rabu (21/10/2026).
Peresmian ini menjadi bentuk penghargaan kepada Raden Soetedja Poerwodibroto, maestro musik asal Banyumas yang karyanya terus hidup di tengah masyarakat. Menggandeng Yayasan Lestari Banjoemas Raya (YLBR), KAI juga menghadirkan ruang edukasi budaya bagi penumpang.
1. Keluarga R. Soetedja tak menarik royalti lagu

KAI sebut keluarga tidak berharap royalti, nampak salah satu cucu menangis haru ketika melihat biola replika R Soetedja, Rabu (21/10/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno) Vice President KAI Daop 5 Purwokerto, Rangga Putra Maulana, mengatakan lagu Di Tepinya Sungai Serayu bukan sekadar penanda kedatangan kereta api. Lagu tersebut telah menjadi bagian dari identitas dan pengalaman perjalanan masyarakat yang menggunakan kereta api di wilayah Daop 5.
KAI mengapresiasi keluarga dan ahli waris R. Soetedja yang tidak menarik royalti atas penggunaan lagu tersebut sebagai bel kedatangan kereta api di stasiun-stasiun wilayah Daop 5 Purwokerto.
"Patung Raden Soetedja ini menjadi bentuk apresiasi kami atas kebaikan hati dan kontribusi keluarga dalam menjaga warisan budaya Banyumas,"ujar Rangga, Rabu (21/10/2026).
Menurut Rangga, stasiun merupakan ruang pertemuan masyarakat dari berbagai latar belakang. Kehadiran patung diharapkan membuat penumpang tidak hanya menikmati perjalanan, tetapi juga mengenal tokoh dan karya seni yang memiliki keterkaitan dengan daerah yang mereka kunjungi.
Sementara salah satu penumpang asal Cilacap, Astri, mengaku baru mengetahui pencipta lagu tersebut setelah melihat peresmian patung R. Soetedja di jalur masuk skybridge Stasiun Purwokerto.
"Iya, Mas, baru tahu setelah ada peresmian patung ini. Jadi sekarang gak penasaran lagi dan bangga karena pengetahuan baru. Karena selama ini cuek saja soal lagu itu,"katanya.
Pengalaman Astri menunjukkan bahwa ruang publik seperti stasiun dapat menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah lokal kepada masyarakat yang sebelumnya hanya akrab dengan sebuah karya tanpa mengetahui penciptanya.
2. Komponis Banyumas yang menempuh pendidikan musik di Italia

Patung R Soetedja yang terbuat dari fiber tertancap gagah merupakan komponis yang mendapat pembelajaran di Italia, Rabu (21/10/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno) Raden Soetedja Poerwodibroto lahir di Banyumas pada 15 Oktober 1909. Ia dikenal sebagai komponis dan musisi yang memberikan kontribusi terhadap perkembangan musik Indonesia, khususnya musik keroncong.
Berdasarkan arsip sejarah yang dipublikasikan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Banyumas, bakat musik Soetedja sudah terlihat sejak kecil. Ia gemar memainkan berbagai benda di lingkungan tempat tinggalnya hingga akhirnya mendapat dukungan untuk mengembangkan kemampuan bermusik.
Soetedja kemudian menempuh pendidikan musik di Konservatori Musik Roma, Italia. Pengalaman tersebut turut membentuk perjalanan kariernya sebagai komponis.
Salah satu karya yang paling dikenal adalah Di Tepinya Sungai Serayu. Lagu ini berkaitan erat dengan Sungai Serayu yang menjadi salah satu lanskap penting di wilayah Banyumas.
Selain lagu tersebut, Soetedja juga menciptakan sejumlah karya, antara lain Tidurlah Intan, Melati Pesanku, Selamat Berjuang, Keroncong Senja, dan Hamba Menyanyi.
Kariernya tidak berhenti sebagai pencipta lagu. Pada 1946, ia tercatat menjabat sebagai Direktur Musik RRI Purwokerto. Ia juga terlibat dalam perkembangan orkes musik di Jakarta serta bergabung dengan Korps Musik Angkatan Udara Republik Indonesia.
Soetedja wafat di Jakarta pada 12 April 1960 dalam usia 50 tahun. Namanya tetap dikenang di tanah kelahirannya, salah satunya melalui penamaan Taman Budaya Soetedja di Purwokerto.
Jejak sejarah tersebut memperlihatkan bahwa Soetedja bukan hanya pencipta lagu yang dikenal masyarakat Banyumas, melainkan juga bagian dari perjalanan perkembangan musik Indonesia.
3. Biografi dan replika biola kenqlkan sejarah bagi generasi muda

Salah satu seniman biola Banyumas saat memainkan biola menggambarkan permainan biola R Soetedja dengan lagu Ditepinya Sungai Serayu, Rabu (21/10/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno) Patung R. Soetedja di Stasiun Purwokerto merupakan bagian dari Program Bantuan Bina Lingkungan 2026 yang dilaksanakan KAI Daop 5 Purwokerto bersama Yayasan Lestari Banjoemas Raya.
Pengerjaannya melibatkan sejumlah pekerja seni. Septian Puji Andriyanto, pematung asal Magelang, terlibat dalam pengerjaan elemen patung. Sementara itu, Jatmiko Wicaksono, dosen STIKOM Yogyakarta, berperan dalam penataan desain artistik.
Area apresiasi tersebut juga dilengkapi biografi singkat R. Soetedja dan replika biola Stradivarius Paganini yang dibuat oleh perajin alat musik Banyumas, Sugeng Riyanto.
Perwakilan keluarga dan ahli waris R. Soetedja, Artika Mantaram, mengaku terharu atas perhatian yang diberikan KAI kepada leluhurnya.
Ia berharap keberadaan patung tersebut membuat masyarakat semakin mengenal sosok R. Soetedja sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap musik dan kebudayaan Banyumas.
Kolaborasi ini memperlihatkan bagaimana fasilitas transportasi dapat dimanfaatkan sebagai ruang pengenalan sejarah. Penumpang yang datang atau berangkat dari Purwokerto bisa memperoleh informasi mengenai tokoh budaya daerah tanpa harus mengunjungi museum secara khusus.
Dengan diresmikannya patung tersebut, KAI Daop 5 Purwokerto bersama YLBR berharap warisan seni Banyumas tetap dikenal oleh generasi mendatang. Alunan Di Tepinya Sungai Serayu yang selama ini menemani kedatangan penumpang pun memiliki cerita yang lebih utuh bukan hanya lagu penyambutan, melainkan karya seorang komponis yang namanya layak terus dikenang.






















