Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kebakaran Gunung Lawu Diduga Kuat Ulah Manusia, Ada Jejak di Lokasi

Kab. Karanganyar
2 min read
Kebakaran Gunung Lawu Diduga Kuat Ulah Manusia, Ada Jejak di Lokasi
Ilustrasi Kebakaran Hutan. (IDN Times/Anjani Asra)
  • Kebakaran hutan di Gunung Lawu meluas akibat angin kencang, dengan BPBD Jawa Tengah mencatat 36 titik kebakaran, mayoritas berada di perbatasan Jawa Timur.
  • BPBD menduga kuat kebakaran dipicu ulah manusia setelah menemukan jejak pembakaran untuk pembuatan arang di lokasi kejadian.
  • Upaya pemadaman terkendala medan terjal di ketinggian sekitar 2.000 mdpl, asap dan awan tebal, serta cuaca buruk yang membatasi operasi helikopter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lokasi kebakaran di Gunung Lawu semakin meluas karena terdampak hembusan angin yang kencang serta areal lokasi kejadian yang sulit dijangkau. BPBD Jawa Tengah menyatakan terdapat 36 titik lahan hutan wilayah Gunung Lawu yang terbakar beberapa hari terakhir. 

Kepala BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan mengungkapkan, lokasi kebakaran di Gunung Lawu sampai saat ini sulit dijangkau dari jalur darat maupun jalur udara lantaran kobaran api berada di ketinggian 2.000 Mdpl. 

"Lokasi kebakarannya di Lawu kira-kira 2.000 Mdpl. Awannya juga tebal, asapnya juga tebal," ujar Bergas saat dikontak, Selasa (20/10/2026).

Berdasarkan penelusuran personelnya, pihaknya mendapat informasi bahwa ada 36 titik hotspot atau titik kebakaran di Gunung Lawu. 

Mayoritas lokasi kebakaran berada tepat di perbatasan dengan Jawa Timur.

Pihaknya menduga kuat kebakaran hutan Gunung Lawu disebabkan ulah manusia. Sebab saat personel berusaha memadamkan api, ditemukan bekas pembakaran di lokasi kejadian. "Ditemukan titik pembakaran pembuatan arang Lawu. Artinya ini tetap disebabkan human error," sambungnya. 

Ia mengakui sulitnya akses menuju lokasi kebakaran membuat penanganan di Gunung Lawu tidak bisa dilakukan maksimal. 

Pihaknya telah berusaha mengoperasikan helikopter untuk memadamkan api menggunakan water booming. Akan tetapi jarak pandang helikopter terhalang asap kebakaran yang pekat. 

"Di Lawu tetap (diupayakan) water booming, tapi saat heli terbang di sana, kami terkendala visualnya karena asap kebakaran sangat pekat," jelas Bergas. 

Untuk pemadaman jalur darat, katanya juga sempat dilakukan namun akses jalan dari jalur pendakian Cemoro Kandang menuju titik hotspot berdasarkan pengakuan sejumlah personel BPBD tergolong terjal. 

"Karena jalur daratnya juga elevasinya tinggi, berlembah-lembah, terjal. Sedangkan kalau pakai heli kondisinya tertutup awan. Jadinya kota baru laksanakan dua kali water booming. Ini mau tiga kalinga tapi terhambat cuaca dan angin kencang," paparnya. 

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More